Oleh : ERWAN WIDYARTO
DAERAH Istimewa Yogyakarta (DIY) selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata utama di Indonesia. Masuk dalam Destinasi Super Prioritas (DSP) Borobudur, Yogya, Prambanan (BYP). Posisi DIY tidak hanya strategis karena warisan budaya dan sejarahnya, melainkan juga karena kekayaan alam, kreativitas masyarakat, serta tradisi akademiknya yang kuat.
Dalam era pariwisata yang semakin kompetitif dan penuh disrupsi, sekadar mengandalkan produk lama seperti wisata candi, belanja Malioboro, atau wisata alam standar, sudah tidak cukup lagi. Dan hal itu terlihat dalam Asean Tourism Forum (ATF) 2023 yang digelar di Yogyakarta. Pasar pariwisata Yogya kalah dengan Bali, NTB dan NTT. Diyakini, salah satu penyebabnya, karena Yogya masih mengandalkan produk lama.
BACA JUGA : Pemilik Jogja Gallery Ubah Batu Jadi Hutan
Dalam konteks itulah, industri pariwisata di DIY dituntut untuk mendorong inovasi produk sekaligus memperluas segmentasi pasar baru agar tetap relevan, kompetitif, dan berkelanjutan.
Tulisan ini akan membahas tantangan-tantangan yang dihadapi industri pariwisata DIY dalam menciptakan inovasi produk wisata dan menggarap segmen pasar baru. Sekaligus melihat peluang serta langkah strategis yang dapat ditempuh.
Tantangan Global dan Tren Perubahan Perilaku
Tantangan yang dihadapi adalah tantangan global dan perubahan perilaku wisatawan. Industri pariwisata dunia saat ini tengah dipengaruhi oleh beberapa tren besar. Di antaranya pertama, digitalisasi dan ekonomi platform. Wisatawan semakin banyak menggunakan platform daring untuk memilih, membandingkan, dan memesan perjalanan. Hal ini menuntut pelaku industri di DIY untuk adaptif terhadap teknologi digital.
BACA JUGA : Gamelan Bali Masuk Kurikulum Universitas Montreal
Kedua, wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism). Wisatawan global tidak hanya mencari objek wisata, melainkan pengalaman yang otentik dan personal. Mereka menginginkan interaksi langsung dengan masyarakat lokal, belajar budaya, atau terlibat dalam aktivitas kreatif. Deep and meaningful experience.
Ketiga, kesadaran lingkungan (sustainable tourism). Pasar global mulai menuntut pariwisata yang ramah lingkungan, rendah emisi, serta menghargai kearifan lokal. Wisatawan tak suka dengan destinasi yang kotor dan sampah berserakan.
BACA JUGA : Bingung Kelola Koperasi Merah Putih?
Keempat, segmentasi generasi. Generasi Z dan milenial menjadi segmen dominan, dengan karakteristik gemar berbagi pengalaman di media sosial, mencari hal unik, dan memiliki kepedulian sosial serta lingkungan yang lebih tinggi.
Bagi industri pariwisata DIY, tren ini menjadi tantangan besar sekaligus peluang untuk menciptakan diferensiasi.
Tantangan Inovasi Produk Pariwisata DIY
Beberapa tantangan yang muncul dalam inovasi produk wisata DIY antara lain pertama, ketergantungan pada produk lama. Fokus yang berlebihan pada wisata klasik seperti Candi Prambanan, Malioboro, dan Kraton, membuat inovasi berjalan lambat. Padahal, wisatawan kini mencari produk baru yang lebih segar dan interaktif.
BACA JUGA : Komunikasi Kunci Keberhasilan Industri Pariwisata
Kedua, keterbatasan sumber daya inovasi. Banyak pelaku industri, terutama di tingkat UMKM dan desa wisata, belum memiliki akses pada riset pasar, teknologi, atau modal inovasi. Akibatnya, produk yang ditawarkan cenderung repetitif dan duplikatif.
Ketiga, kualitas dan standar layanan. Wisatawan mancanegara maupun domestik menginginkan layanan yang berkualitas, higienis, dan konsisten. Tantangannya, masih banyak destinasi yang menghadapi masalah standar pelayanan dasar, mulai dari sanitasi hingga digitalisasi.
Keempat,, kurangnya sinergi antarsektor. Pariwisata DIY sering bergerak secara parsial. Industri kreatif, kuliner, pendidikan, dan ekowisata belum sepenuhnya terintegrasi untuk membentuk paket produk yang inovatif.
BACA JUGA : GKR Bendara Cerita soal Jathilan
Kelima, resistensi terhadap perubahan. Sebagian masyarakat dan pelaku wisata masih melihat inovasi sebagai risiko, bukan peluang. Hal ini membuat mereka enggan mencoba format baru dalam mengemas produk wisata. Wis ngene wae cukup!
Tantangan dalam Segmentasi Pasar Baru
Menggarap pasar baru membutuhkan pemahaman mendalam tentang profil wisatawan yang potensial. Dan ini menghadapi beberapa tantangan yang juga tidak ringan. Pertama, segmentasi wisatawan mancanegara non-konvensional.
DIY masih dominan pada pasar tradisional seperti wisatawan dari Eropa dan Asia Timur. Padahal, ada peluang besar dari pasar Timur Tengah, Asia Selatan, dan wisatawan minat khusus (sport tourism, digital nomad, wellness tourism). Tantangannya, promosi belum menyasar pasar ini secara serius.
Kedua, segmen Generasi Z dan Milenial. Mereka menginginkan wisata yang instagramable, interaktif, dan berbasis komunitas. Banyak destinasi belum mengakomodasi kebutuhan ini dengan konsep yang menarik dan terkurasi.
BACA JUGA: Pesan Gubernur DIY soal Pariwisata
Ketiga, segmentasi wisata minat khusus dan niche market. DIY punya potensi besar dalam wisata berbasis minat seperti ecotourism, edu-tourism, creative tourism, dan culinary tourism. Namun, pasar ini masih terabaikan karena keterbatasan strategi pemasaran.
Keempat, diversifikasi produk desa wisata. Desa wisata di DIY berkembang pesat, tetapi banyak yang menawarkan pola serupa (outbond, membatik, kerajinan, pertanian). Tanpa diferensiasi dan segmentasi yang jelas, sulit bersaing dengan desa wisata lain di Indonesia.
Strategi Mengatasi Tantangan
Agar industri pariwisata DIY mampu mengatasi tantangan inovasi dan segmentasi pasar baru, beberapa strategi dapat ditempuh.
Pertama, penguatan riset & data wisatawan. Mengembangkan riset berbasis data mengenai tren wisatawan, preferensi pasar, serta potensi segmen baru. Perguruan tinggi di Yogyakarta bisa menjadi mitra strategis.
BACA JUGA : Kenalkan Paket Wellness, Famtrip GIPI Diikuti Peserta Malaysia
Kedua, kolaborasi industri kreatif dan teknologi. DIY dikenal sebagai kota pelajar dan kota kreatif. Industri pariwisata harus berkolaborasi dengan sektor teknologi, seni, dan pendidikan untuk melahirkan produk wisata baru.
Ketiga, diferensiasi desa wisata. Setiap desa wisata harus memiliki narasi, keunikan, dan pengalaman yang khas, bukan sekadar replika dari desa wisata lain. Misalnya fokus pada wellness retreat, digital nomad village, atau heritage experience. GIPI DIY sudah memulai menjajaki paket wellness dengan dengan mengadakan famtrip.
Keempat, peningkatan standar dan sertifikasi. Mengembangkan program sertifikasi layanan, kompetensi SDM, hospitality, kebersihan, hingga digital readiness, agar produk wisata DIY mampu bersaing di tingkat global. Harus diupayakan agar standar sertifikasi kita diterima pula di tingkat internasional.
BACA JUGA : Menurut Gubernur DIY Apa yang harus Dijual Pariwisata?
Kelima, promosi pasar baru. DIY perlu melakukan reposisi citra di pasar internasional dengan promosi digital yang menyasar segmen spesifik, misalnya “DIY sebagai kota festival budaya dunia” atau “DIY pusat ekowisata dan kreativitas” atau “DIY gudangnya CBT berkualitas“.
Keenam, penerapan prinsip pariwisata berkelanjutan. Inovasi produk dan segmentasi pasar harus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan, sosial, dan budaya lokal. Hal ini akan menjadi nilai tambah dalam membidik wisatawan global yang peduli lingkungan.
Ubah Tantangan Jadi Peluang
Industri pariwisata DIY dihadapkan pada tantangan besar dalam mendorong inovasi produk dan membuka segmentasi pasar baru. Tantangan tersebut mencakup ketergantungan pada produk lama, keterbatasan sumber daya, rendahnya kualitas layanan, kurangnya diferensiasi desa wisata, hingga belum optimalnya penetrasi pasar baru.
Dengan strategi yang tepat — mulai dari riset wisatawan, integrasi industri kreatif, peningkatan standar, hingga promosi berbasis digital—yang diungkap di atas, DIY dapat mengubah tantangan menjadi peluang.
Pariwisata DIY bukan hanya tentang masa lalu (heritage), melainkan juga masa depan yakni inovasi yang berakar pada kearifan lokal, menyasar pasar baru yang beragam, dan tetap berlandaskan keberlanjutan. Dengan demikian, DIY dapat terus menjadi destinasi unggulan yang relevan di tingkat nasional maupun global.
Semoga!
Erwan Widyarto, Wakil Ketua GIPI DIY.
