Bingung Kelola Koperasi Desa Merah Putih? Coba Belajar ke Desa Wisata Candirejo!

Headline Wisata


MAGELANG – Banyak desa atau kelurahan yang masih bingung bagaimana “menghidupkan” Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang sudah dilahirkan. Dari sejumlah pemberitaan media terungkap sejumlah KDMP yang baru diresmikan, tidak beroperasi. Jika Anda pengelola KDMP dan ingin tahu bagaimana desa bisa “menghidupkan” koperasi yang baru dibentuk di era Presiden Prabowo, datanglah ke Desa  Wisata Candirejo.

Di desa (wisata) yang berada di dekat Candi Borobudur, Magelang ini, ada empat kelembagaan ekonomi desa –termasuk KDMP, yang hidup dan berjalan. Pengelolaan kelembagaan keempatnya berjalan dengan baik. Model yang dilakukan Kepala Desa atau Lurah-nya bisa ditiru. Yakni memperlakukan keempatnya sebagai saudara kandung.

“Anak pertama dan tertua adalah Koperasi Desa Wisata Candirejo (KDWC). Anak kedua BumDes. Anak ketiga Balkondes, Balai Ekonomi Desa yang dilahirkan oleh BUMN dan anak bungsu, anak keempat adalah Koperasi Desa Merah Putih. Ada celah yang bisa dikolaborasikan keempat saudara ini,” ungkap  Sekretaris KDWC Siti Makrifatul Arifah.

Arifah –begitu ia biasa disapa—menyampaikan hal tersebut dalam Kenduri Pariwisata Inti Rakyat (PIR) Volume #3 di Lapangan Pendopo Balai Desa Candirejo, Magelang, Jumat malam (8/8/2025). Kenduri Pariwisata ini digelar bersamaan event  hari kedua Saparan Desa Candirejo. Serangkaian kegiatan mengiringi Kenduri Pariwisata ini seperti pertunjukan seni budaya rakyat seperti jathilan, stan UMKM lokal dan sebagainya.

Saparan Perti Desa merupakan kegiatan tahunan masyarakat Candirejo sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa Yang maha Esa. Kegiatannya dimulai dengan Bersih Desa, Genduri di Rumah Kepala Desa, Pengajian, Arak Tumpeng dan Bakti Sosial, Pentas Seni dan ditutup dengan pertunjukan wayang semalam suntuk.

Wisatawan dari Swiss menonton pentas di acara Saparan Desa Candirejo, Jumat (8/8/2025). (Foto: Erwan Widyarto)

Atraksi budaya yang mengawali Kenduri Pariwisata adalah Pentas Seni Brangkal, Sangen. Pentas ini mendapat perhatian penonton. Bahkan ada serombongan wisatawan mancanegara – dari Swiss– yang enjoy menikmati penampilan jathilan. Mereka tampak merekam dan memotret adegan dalam pentas.

 Tema Kenduri  Pariwisata malam itu adalah “Mampukah Koperasi Menjadi Mesin Penggerak Desa Wisata Berkelanjutan?” Selain Rifa dari KDWC, tampil sejumlah pembicara  para pengelola desa wisata yang berbasis koperasi  maupun dari Kementerian Pariwisata. Jika KDWC mewakili desa wisata yang dekat dengan Candi Borobudur, maka Tomi Nugraha hadir mewakili Desa Tamanmartani, Kalasan, Sleman yang dekat dengan Candi Prambanan.

Kemudian tampil pula Nur Ahmadi dari Desa Wisata Wukirsari, Imogiri, Bantul dan Ketua Tim Manajerial Skill Asdep Peningkatan Kapasitas Masyarakat, Deputi Bidang Sumberdaya dan Kelembagaan, Kemenpar Elli Yuniardi. Kenduri Pariwisata yang digelar Atourin dan Desa Wisata Institut ini  diikuti oleh para pengelola desa wisata dan kampung wisata dari Magelang dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Juga tampak hadir  dalam Kenduri Pariwisata yang dimoderatori oleh Direktur Komersial  Atourin, Wahyu Dwi Jaya ini pengelola Desa Wisata Ponggok, Klaten, perwakilan Disparporakab Magelang serta perwakilan Desa Candirejo. Mereka duduk lesehan membentuk huruf U menghadap ke para narasumber yang berada di depan panggung gamelan.

Lebih Arifah menguraikan bagaimana keempat saudara kandung tersebut bisa hidup harmonis dan bahkan berkolaborasi dengan baik. Satu kondisi yang langka di tempat lain.  “Kami menyadari sebagai saudara kandung dan memiliki fokus sendiri-sendiri. Dari situlah kolaborasi bisa dibangun,” tambah Arifah.

Dari kiri: Wahyu Dwi Jaya (moderator), Tomi Nugroho (Desa Tamanmartani), Nur Ahmadi (Desa Wisata Wukirsari), Elli Yuniardi (Kemenpar) dan Siti Marifatul Arifah (Desa Wisata Candirejo) sebagai pembicara dalam Kenduri Pariwisata. (Foto: Erwan Widyarto)

Dia sebutkan contoh. KDWC, misalnya fokus pada bisnis jasa pariwisata. BumDes ke pengelolaan pasar. KDMP pada penyediaan pendukung usaha.  Dan Balkondes pada sewa homestay dan katering. Maka KDWC bisa berkolaborasi dengan KDMP dalam jasa penyediaan sewa sepeda. Sepedanya dari KDMP, KDWC yang menyewakan untuk para tamu wisatawan di Desa Wisata Candirejo.  “Dengan Balkondes, KDWC juga ada MoU misalnya  berkaitan dengan penyediaan meeting refreshment  dan kebutuhan meal-nya, ” papar Arifah.

Kendati kehadiran KDMP sama seperti daerah lain –yang malam itu– disebut “prematur”  dan melalui “operasi caesar”, pola kelembagaan yang sudah disepakati pihak desa menjadi kekuatan dan pijakan untuk menjalankan koperasi baru tersebut. Tapi semua itu juga harus didukung oleh SDM yang siap. Baik siap untuk berbagi usaha dan tanggung jawab dan siap dengan kreativitas dalam mengembangkan usaha.

Yang menarik, cerita dari Ketua KDMP Desa Candirejo, Habib,  yang juga hadir malam itu. Habiblah yang bercerita tentang proses kelahiran KDMP seperti bayi prematur dan dengan operasi Caesar. “Dan setelah dilahirkan kami ditelantarkan, ” ungkap Habib disambut gerrr. Untungnya, DKMP diakui sebagai anak keempat, oleh Desa Candirejo.

Banyak hal yang menarik diungkap oleh narasumber lain. Terutama bagaimana ruh dan semangat koperasi –dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat—berimpitan dengan semangat  community-based tourism (CBT). Yakni pariwisata yang lahir dari masyarakat, dikelola oleh masyarakat, dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Di akhir pernyataannya, perwakilan Kemenpar yang hadir menegaskan bahwa pihaknya hadir untuk mencatat berbagai masukan dan pandangan dari para pelaku dan pengelola Koperasi Desa Merah Putih maupun desa wisata.

“Dengan prinsip gotong royong, kepemilikan bersama, serta orientasi yang fokus pada kesejahteraan anggota, koperasi sejalan dengan tujuan pembangunan pariwisata berbasis masyarakat di desa wisata. Malam ini kami dapat banyak sekali masukan yang akan menjadi catatan kami dalam merumuskan kebijakan selanjutnya. Terima kasih untuk teman-teman yang hebat,” ujar  Elli Yuniardi. (wid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *