KABARSLEMAN.COM– Flash sale di e-commerce, live shopping oleh influencer favorit, hingga godaan fitur Buy Now Pay Later (BNPL) atau Paylater telah menjadi pedang bermata dua bagi generasi muda. Di satu sisi, kemudahan bertransaksi ada di ujung jari. Di sisi lain, jebakan belanja impulsif dan utang konsumtif mengintai.
Menjawab tantangan kompleks di era digital ini, AXA Mandiri mengajak para mahasiswa di Yogyakarta untuk membangun fondasi keuangan yang kokoh. Dalam acara SmartFin Day 2025 di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 14 Agustus 2025 lalu, terungkap satu pelajaran mendasar yang sering terlupakan: membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Garis Kabur Antara Kebutuhan dan Keinginan
Pesatnya perkembangan e-commerce, yang penggunanya di Indonesia diproyeksikan mencapai 220 juta pada tahun 2025, telah mengubah cara kita berbelanja. Ditambah lagi dengan fenomena takut ketinggalan tren atau Fear of Missing Out (FOMO), membuat banyak anak muda kesulitan memprioritaskan pengeluaran.
“Di era e-commerce, batas antara kebutuhan dan keinginan semakin kabur,” ujar Atria Rai, Chief Communications Officer AXA Mandiri.
Ia menjelaskan, kebutuhan adalah hal esensial yang harus dipenuhi untuk bertahan hidup, seperti makanan, tempat tinggal, dan pendidikan. Sementara keinginan lebih terkait gaya hidup, seperti tiket konser, kopi kekinian, atau barang bermerek. Gagal membedakan keduanya dapat berujung pada stres finansial dan kesulitan mencapai tujuan jangka panjang.
5 Kunci Sehat Finansial untuk Masa Depan
Untuk mencapai kemerdekaan finansial, Atria Rai memaparkan lima langkah strategis yang harus menjadi pegangan bagi generasi muda:
- Mulai dari Fondasi: Prioritaskan Proteksi Asuransi Langkah pertama dan paling fundamental dalam perencanaan keuangan adalah manajemen risiko. Sebelum berinvestasi, pastikan diri Anda terlindungi dari risiko tak terduga seperti sakit atau kecelakaan. “Asuransi kini semakin terjangkau, bahkan dengan premi mulai dari Rp50 ribu per tahun, menjadikannya bukan lagi produk mewah melainkan kebutuhan esensial,” tegas Atria.
- Bangun Jaring Pengaman: Siapkan Dana Darurat Miliki tabungan khusus yang setara dengan 3-6 bulan pengeluaran rutin. Dana ini berfungsi sebagai bantalan saat menghadapi situasi darurat tanpa harus mengganggu tabungan atau berutang.
- Buat Peta Jalan Keuangan: Terapkan Anggaran 50/30/20 Alokasikan pendapatan Anda secara disiplin: 50% untuk kebutuhan, maksimal 30% untuk keinginan (termasuk cicilan), dan 20% untuk tabungan, investasi, serta asuransi.
- Kendalikan Arus Kas: Kelola Utang dengan Bijak Jika memiliki utang seperti Paylater atau kartu kredit, pahami skemanya dan buat strategi pelunasan. Hindari utang konsumtif dan selalu bayar tepat waktu.
- Tumbuhkan Aset: Mulai Berinvestasi Sejak Dini Setelah fondasi proteksi dan dana darurat kokoh, mulailah berinvestasi untuk mengembangkan kekayaan. Pilih instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko Anda.
“Membangun fondasi keuangan adalah langkah awal sebelum berinvestasi. Dengan perencanaan yang matang, termasuk memiliki perlindungan asuransi sejak dini, generasi muda dapat memastikan masa depan finansial yang aman dan mencapai tujuan hidup mereka,” tutup Atria. (*)
