Sore di Tamanmartani, Selasa (10/12) itu, terasa seperti ruang waktu yang sengaja dilambatkan. Lampu-lampu pendapa yang baru selesai dibangun memantulkan cahaya ke lantai dan tiang-tiang kayu berwarna keemasan. Di halaman, bau arang bakmi Jawa bercampur wangi wedang bir plethok menciptakan semacam salam penyambutan untuk siapa pun yang datang. Selamat datang di rumah baru Balai Budaya Tamanmartani, Kalasan.
Oleh: ERWAN WIDYARTO
TAK MENUNGGU lama, denting gamelan pertama mengalun—lirih dulu, lalu menguat. Dari sisi panggung, muncul sekelompok penari yang melenggang lincah dengan wajah dicat putih keperakan. Tarian Kethek Ogleng membuka acara peresmian Pendapa Ramayana Tamanmartani dengan energi yang membuat hadirin otomatis bergerak mendekat. Gerak lucu sang “kera” –terutama yang dimainkan anak-anak– itu seperti isyarat bahwa sore itu bukan sekadar acara formal. Ada semangat baru yang hendak ditanamkan.
Di antara para tamu tampak Sekda Sleman, Susmiarto, duduk berdampingan dengan perwakilan Kundha Kabudayan, Kadispar Sleman, dan Lurah Desa Tamanmartani Gandang Hardjanata. Di sudut yang lain para pelaku pariwisata dari berbagai asosiasi anggota GIPI DIY seperti, ASITA, WIPI, HPI, Astindo, ASPPI, PPHI, dan lainnya tampak membaur. Atmosfernya hangat, santai, dan penuh rasa bangga. “Ini suasananya sudah hidup,” gumam seorang anggota asosiasi sambil menyeruput wedang hangat berwarna merah.
Dari Tamanmartani untuk Sleman Timur
Usai tarian pembuka, dilanjut sejumlah sambutan. Lurah Tamanmartani, Gandang dengan suara mantap namun terselip kebanggaan, menegaskan bahwa pendapa ini dibangun dengan bantuan Dana Keistimewaan (Danais). Baginya, pendapa hanyalah awal.
“Harapan saya sederhana,” ujarnya sambil menatap tamu kehormatan, “Ramayana di sini harus berkelanjutan. Tidak hanya hari ini.”
Ia bahkan sempat melontarkan pertanyaan retoris kepada Ketua ASITA Atok Sunarjati yang hadir, disambut tawa kecil dan senyum para tamu. “Sudah layak jual kan?”
Pertanyaan itu terasa seperti pengunci: seni bukan sekadar pertunjukan, tapi juga peluang. Dikatakan, selain nanggap Sendratari Ramayana-nya, bisa nanggap Kethek Ogleng-nya saja, atau jathilan-nya saja.
Ketika giliran Sekda Sleman Susmiarto memberi sambutan, ia menekankan hal yang sama namun dalam perspektif yang lebih luas. Pendapa Ramayana Tamanmartani, katanya, bisa menjadi titik baru dalam peta pariwisata Sleman Timur—wilayah yang selama ini tumbuh perlahan dan menunggu momen pencipta daya tarik baru.
“Sendratari yang dimainkan di Balai Budaya Tamanmartani ini dapat menjadi atraksi wisata yang memperkuat identitas Sleman Timur,” tuturnya. Ia menilai kolaborasi antara Desa Wisata, BumKal, Desa Budaya, ekonomi kreatif warga, pemerintah, dan insan pariwisata adalah prasyarat agar panggung-panggung budaya seperti ini hidup terus, bukan hanya saat peresmian saja.
Kehadiran para pelaku industri pariwisata sore itu bukan hanya seremonial. Ada dialog kecil di sudut pendapa dan angkringan. Pembicaraan tentang paket wisata, ruang kolaborasi, hingga kemungkinan event bulanan. Sambil menikmati sega kucing, sate rempela ati dan sate telur puyuh ala angkringan, atau nasi goreng kampung, ide-ide itu mengalir seperti wedang bir plethok yang mengepul.
Warga Jadi Pelaku, Desa Jadi Panggung
Saat yang dinanti. Sendratari Ramayana dimulai. Ratusan penonton yang memenuhi tiga sisi pendapa, seperti siap mengabadikan setiap gerakan para pemain. Para pemain Sendratari Ramayana pun naik ke panggung.
Wajah-wajah mereka mungkin familiar bagi warga dan para pegiat seni karena mereka bukan penari sembarangan. Mereka adalah warga Tamanmartani yang rutin tampil dalam Sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Namun malam itu berbeda: ini panggung mereka sendiri, di tanah mereka sendiri.
Narasi Rama–Shinta–Rahwana mengalir dalam tabuhan yang ajek. Gerakan Sarpakenaka yang luwes, langkah gagah Rama, hingga gempita perang Alengka—semuanya terasa lebih intim, lebih dekat. Anak-anak muda desa berseliweran mengabadikan adegan lewat ponsel, sementara para tamu undangan tampak tak berhenti mengangguk-angguk kagum.
“Brati, neng kene ora ana obong-obongan kaya neng Prambanan, “ seloroh seorang pengunjung pada kawannya. Ia mencoba membandingkan adegan Anoman Obong dalam Ramayana. Jika pentas di Candi Prambanan, adegan Anoman Obong (Anoman dibakar) menggunakan api sesungguhnya karena panggung terbuka sangat memungkinkan.
Namun, saat adegan Anoman Obong di Pendapa Balai Budaya Tamanmartani ini dimainkan dengan api simbolis berupa gunungan-gunungan dengan gambar nyala api, penonton tersebut menunjukkan kekaguman. “Kerennnn, “ katanya.
Sebuah Permulaan
Ketika lakon Ramayana mencapai klimaksnya, tepuk tangan panjang pecah, menutup senja dengan rasa puas dan harapan baru. Pendapa “Ramayana“ Tamanmartani resmi berdiri bukan hanya sebagai bangunan, tapi sebagai simbol tekad warga untuk menghadirkan seni yang hidup dan menyejahterakan.
Di langit desa, awan sore menggantung dengan semburat warna oranya seperti lampu sorot alamiah. Orang-orang pulang perlahan, tetapi energi sore itu masih tertinggal di udara.
Mungkin benar, seperti kata Lurah Gandang, atraksi ini “sudah layak jual.” Namun lebih dari itu, ia sudah layak dirayakan—sebagai tonggak baru perjalanan budaya dan pariwisata Sleman Timur. Tinggal digasss konsistensi kualitas produknya beserta promosinya. ***
