OPINI
Saatnya Kembalikan “Yang Hilang“ dari UGM

ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ


Oleh: ERWAN WIDYARTO

Pada 19 Desember 2025, Universitas Gadjah Mada (UGM) genap berusia 76 tahun. Sejumlah kegiatan disusun untuk merayakan dies natalis. Twibbon bertebaran di status media sosial sivitas akademika—tanda ikut merayakan, ikut merasa, dan ikut menjadi bagian dari kegembiraan almamater tercinta.  Para alumni menggelar Nitilaku. Napak tilas perjalanan kampus tercinta.

Di balik gebyar perayaan itu, dies natalis seharusnya juga menjadi momen refleksi. Menengok perjalanan panjang yang telah ditempuh, sekaligus bertanya dengan jujur tentang jati diri dan jiwa sejati kampus ini.

BACA JUGA : Antisipasi Lonjakan Sampah Libur Nataru

UGM pernah dikenal bukan hanya sebagai salah satu perguruan tinggi tertua dan terbesar di Indonesia, tetapi juga sebagai mercusuar intelektual dan nurani kebangsaan. Ia dikenal sebagai kampus kerakyatan. Kampus yang berpihak, berani, dan menyatu dengan denyut kehidupan rakyat. Dulu, nama UGM identik dengan keberanian intelektual, dinamika keilmuan, serta sikap kritis terhadap ketidakadilan.

Namun hari ini, ada kerinduan yang menggantung. Sesuatu terasa hilang. Hilang di ruang-ruang kuliah, di sela rapat senat, bahkan di lorong-lorong fakultas dan tempat para alumninya mengabdi.

Secara akademik, UGM dahulu dikenal sebagai pelopor ilmu yang kontekstual—ilmu yang berpijak pada realitas sosial bangsa. Kini, banyak program studi tampak lebih sibuk mengejar akreditasi internasional, publikasi jurnal bereputasi, dan berbagai indeks kinerja global.

BACA JUGA : Adit Setiawan Terpilih sebagai Ketua IKA SMAGO

Semua itu tentu penting, tetapi menjadi problematis ketika orientasi global menjauhkan kampus dari kebutuhan lokal. Ilmu yang seharusnya membumi justru menjelma menara gading.

Mahasiswa, yang dahulu menjadi motor perubahan, kini tampak lebih tenang. Banyak yang terjebak dalam logika individualistik: mengejar IPK, prestasi lomba, lalu segera masuk dunia kerja atau berburu beasiswa luar negeri. Aktivisme mahasiswa masih ada, tetapi sering kali bersifat seremonial, terfragmentasi, atau temporer.

Ruang diskusi yang dulu riuh oleh perdebatan kritis kini kerap sepi atau didominasi tema teknokratis. Tak jarang, keberanian menyuarakan kebenaran kalah oleh rasa takut pada risiko akademik atau teguran birokrasi.

Keberpihakan UGM pun terasa semakin kabur. Dahulu, kampus ini berdiri tegas membela kepentingan rakyat dan menjadi mitra kritis negara. Kini, keberpihakan itu sering dibungkus dengan istilah “netralitas akademik” atau “independensi ilmiah” yang justru menjauhkan kampus dari komitmen moral.

BACA JUGA : Bank Mandiri Kerahkan 30 Truk Logistik

Ketika rakyat kecil berjuang melawan ketidakadilan agraria, krisis lingkungan, atau eksploitasi sumber daya, suara UGM kerap nyaris tak terdengar. Sebaliknya, kolaborasi dengan korporasi besar justru makin dominan, meski sebagian di antaranya menjadi bagian dari persoalan itu sendiri.

Yang hilang dari UGM bukanlah prestise akademik atau fasilitas riset. Yang hilang adalah nyala keberanian dan kepekaan. Namun kehilangan bukanlah akhir. Ia bisa menjadi titik balik. Selama masih ada dosen yang mengajar dengan nurani, mahasiswa yang belajar dengan empati, dan tenaga kependidikan yang bekerja dengan integritas, harapan itu tetap ada.

UGM tidak harus kembali ke masa lalu, tetapi perlu menafsir ulang semangatnya. Di tengah dunia yang dikuasai algoritma, kompetisi global, dan tekanan industri, UGM ditantang menemukan kembali jiwanya sebagai kampus rakyat. Kampus yang membentuk manusia merdeka, peduli pada keadilan, lingkungan, dan masa depan bersama. Jiwa itu tak lahir dari peringkat dunia, tetapi dari keberanian untuk berdiri di sisi yang benar, meski sunyi.

Kini saatnya UGM menengok ke dalam dan bertanya: untuk siapa pengetahuan ini dikembangkan? Untuk siapa inovasi diciptakan? Jawaban itulah yang menentukan apakah UGM masih hidup sebagai universitas berjiwa, atau sekadar nama besar yang kehilangan akar.

Selamat ulang tahun almamater tercinta. Dirgahayu!

Erwan Widyarto, Alumnus Hubungan Internasional, FISIPOL UGM.

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *