Catatan dari Final ProLiga 2026 di Among Rogo (1)
Comeback Sempurna LavAni, yang Sempat Bikin Jantung Mau Copot

ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ

Suasana final ProLiga 2026 antara LavAni v Bhayangkara Presisi.

Juara Proliga 2026 adalah Jakarta LavAni Livin’ Transmedia (putra) dan Jakarta Pertamina Enduro (putri). LavAni meraih gelar juara setelah mengalahkan Jakarta Bhayangkara Presisi di grand final, sementara Pertamina Enduro mempertahankan gelarnya dengan mengalahkan Gresik Petrokimia Pupuk Indonesia. Bagaimana LavAni meraih trofi juara saat bertarung di final? Berikut catatan menarik dari seorang fan LavAni dari Bandung, AK Supriyanto, yang menuliskannya dalam dua seri tulisan. Selamat menikmati.

DI BAWAH lengkung langit-langit GOR Among Rogo yang temaram, di antara ribuan pasang mata yang menahan napas, malam itu Jogja menjadi saksi bisu lahirnya sebuah puisi tentang kebangkitan. Saya duduk di tribun, bercampur dalam lautan kaus biru dan putih LavAni, merasakan jantung yang seolah dipompa bukan oleh darah, melainkan oleh adrenalin yang mendidih.

BACA JUGA : Seandainya Bumi Bisa Bersuara

Di depan kami, di lapangan persegi empat itu, sebuah drama yang ditulis oleh dewa-dewa olahraga sedang dimainkan dengan intensitas yang nyaris tak tertanggungkan oleh jiwa manusia biasa.

Dua set pertama adalah simfoni kemenangan. Smash-smash punggawa LavAni menghunjam lantai seperti cambuk petir, block raksasa mereka adalah dinding beton yang tak tertembus. Skor berpihak, dan di wajah para pemain Bhayangkara Presisi mulai tergurat garis-garis frustrasi. Kami, para suporter, bersorak dengan keyakinan penuh—piala juara Proliga sudah di depan mata, tinggal menjumput, membungkusnya dengan kain kemenangan, dan membawanya pulang.

BACA JUGA : Perkuat Pariwisata Berkelanjutan, Tawarkan Kantong dan Sedotan Singkong

Namun, Dewi Fortuna ternyata belum selesai menenun ceritanya. Ia menyimpan plot twist yang akan membuat malam itu menjelma legenda. Memasuki set ketiga, LavAni tiba-tiba seperti mesin yang kehabisan bensin.

Bukan, bukan bensin yang habis, melainkan seolah ada tangan tak kasatmata yang mengunci sendi-sendi kekuatan mereka. Bola-bola yang tadi begitu mudah diantisipasi, kini melesat seperti hantu. Smash yang tadinya mematikan, kini berkali-kali tersangkut di net atau melebar dari garis lapangan.

Bhayangkara, yang terluka, bangkit dengan amarah seekor singa yang terpojok. Mereka mencabik-cabik pertahanan LavAni, dan set ketiga pun lenyap dari genggaman. Skor menjadi 2-1.

Ketegangan di set keempat bukanlah ketegangan biasa. Ia adalah ketegangan yang bisa kau rasakan di ujung rambut, di punggung yang basah oleh keringat dingin, di telapak tangan yang gemetar tak bisa bertepuk. LavAni tertinggal. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Setiap kali poin demi poin direbut lawan, rasanya seperti seutas benang harapan putus satu per satu.

Di sekeliling saya, para suporter mulai terdiam. Doa-doa lirih terucap, bibir-bibir bergumam, mata-mata mulai berkaca-kaca. Kami seperti tengah menyaksikan sebuah kapal megah yang perlahan bocor dan limbung di lautan, sementara pelabuhan kemenangan yang tadinya begitu dekat, kini menjadi fatamorgana yang menjauh.

Di tengah atmosfer yang nyaris putus asa itulah, sebuah sihir terjadi. Bukan sihir tongkat, bukan mantra dari negeri dongeng, melainkan sihir yang paling kuat di muka bumi: fokus dan keyakinan yang menolak untuk padam.

Di sepertiga akhir set keempat, ketika defisit poin masih menganga, para pemain LavAni seolah menarik napas terdalam dari sumsum jiwa mereka. Mereka tidak lagi bermain sebagai individu, melainkan sebagai satu organisme raksasa yang bernapas dan bergerak dalam satu irama.

Tidak ada lagi raut wajah gentar. Di wajah mereka, terutama Boy Arnez yang seolah menjadi jangkar moral, mulai terpahat raut baja yang tenang. Raut yang seolah berkata, “Badai boleh mengamuk, tapi kapal ini tidak dirancang untuk karam.”

Satu demi satu, poin direbut. Bukan dengan gegap gempita yang meledak-ledak, melainkan dengan ketenangan yang mematikan. Blok-blok kokoh kembali berdiri. Pertahanan yang tadinya bolong, kini rapat dan liar menyelamatkan bola-bola mustahil. Serangan balik dibangun dengan presisi seorang ahli bedah.

Dan kemudian, tibalah momen comeback dramatis itu. Skor berbalik. Dari tertinggal, menjadi imbang, lalu unggul, dan akhirnya match point. Ketika bola terakhir Bhayangkara gagal menyeberangi net dengan sempurna, seisi GOR meledak. Bukan hanya sorakan, itu adalah erupsi emosi, jeritan lega yang begitu menggelegar, pelepasan dari puluhan menit pencekikan psikologis.

Saya ikut berteriak, bukan hanya karena kemenangan, tapi karena kami baru saja menyaksikan metamorfosis dari tim biasa menjadi kumpulan manusia unggul yang jiwa mereka ditempa di atas api kesulitan. Kami pulang malam itu dengan hati ringan, riang, melayang. (bersambung)

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *