Oleh : ERWAN WIDYARTO
Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) selalu menjadi momentum istimewa bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jutaan wisatawan datang untuk menikmati pantai, desa wisata, kawasan Malioboro, hingga destinasi budaya di jantung kota dan kabupaten penyangga. Di balik geliat ekonomi dan semarak pariwisata tersebut, selalu muncul persoalan klasik yang nyaris berulang setiap tahun: lonjakan timbulan sampah.
Sampah liburan bukan sekadar soal volume, tetapi juga cermin kesiapan tata kelola dan kedewasaan semua pihak dalam merawat ruang bersama. DIY yang mengusung citra kota budaya, kota pelajar, sekaligus destinasi wisata berkelanjutan, tidak boleh terus-menerus “kecolongan” oleh persoalan yang sebenarnya bisa diantisipasi.
Dari reaktif ke antisipatif
Langkah pertama ada di tangan pemerintah daerah. Antisipasi sampah Nataru tidak bisa lagi bersifat reaktif: menunggu gunungan sampah menumpuk baru bertindak. Pemerintah perlu memetakan destinasi dengan potensi lonjakan tertinggi, baik di kawasan pantai, pusat kota, maupun desa wisata. Lalu menyiapkan skema pengelolaan khusus selama masa liburan.
Penambahan armada angkut, penyesuaian jam pengangkutan, serta penempatan tempat sampah terpilah di titik-titik strategis adalah langkah dasar. Namun yang tak kalah penting adalah koordinasi lintas dinas. Mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, Pariwisata, Perhubungan, Koperasi dan UKM hingga pemerintah kalurahan. Tanpa orkestrasi yang rapi, kebijakan di lapangan kerap tumpang tindih dan tidak efektif.
Pemerintah juga perlu melibatkan bank sampah dan komunitas pengelola sampah sejak awal. Skema insentif sementara—misalnya harga khusus sampah anorganik selama liburan—dapat menjadi pemicu agar sampah bernilai tidak langsung berakhir di TPA. Di sinilah pendekatan ekonomi sirkular menemukan relevansinya, bahkan dalam situasi liburan.
Jangan sekadar jual atraksi
Pengelola destinasi wisata memegang peran kunci karena merekalah garda terdepan yang berinteraksi langsung dengan wisatawan. Sudah saatnya pengelolaan sampah menjadi bagian dari standar layanan, bukan sekadar urusan teknis di belakang layar.
Langkah konkret yang bisa dilakukan antara lain menyediakan fasilitas pemilahan sampah yang jelas dan mudah diakses. Menugaskan petugas khusus kebersihan selama jam padat kunjungan. Serta menerapkan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai di area destinasi. Edukasi visual melalui poster, papan informasi, atau pengumuman kreatif lewat media sosial jauh lebih efektif ketimbang sekadar larangan tertulis.
Pengelola juga dapat menggandeng UMKM dan pedagang di sekitar destinasi agar menggunakan kemasan ramah lingkungan. Liburan Nataru adalah momen strategis untuk menunjukkan bahwa pariwisata yang nyaman tidak harus meninggalkan jejak sampah yang berlebihan.
Tamu yang beretika
Sebesar apa pun upaya pemerintah dan pengelola, persoalan sampah tidak akan selesai tanpa perubahan perilaku wisatawan. Datang berlibur sejatinya berarti menjadi tamu di rumah orang lain. Etika bertamu seharusnya berlaku. Apa itu? Menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan menghormati aturan setempat.
Wisatawan perlu dibiasakan membawa pulang sampahnya sendiri jika tempat sampah penuh. Menggunakan botol minum ulang, serta mengurangi konsumsi produk sekali pakai. Pilihan-pilihan kecil ini, jika dilakukan secara kolektif, berdampak besar pada pengurangan timbulan sampah.
Peran media sosial juga krusial. Alih-alih hanya memamerkan spot foto, wisatawan dapat ikut menyebarkan pesan-pesan positif tentang kebersihan dan tanggung jawab lingkungan. Kampanye informal semacam ini sering kali lebih efektif daripada imbauan resmi.
Liburan lebih bermakna
Antisipasi sampah liburan Nataru di DIY bukan semata soal kebersihan, melainkan tentang arah pembangunan pariwisata ke depan. Apakah kita ingin terus menikmati keuntungan ekonomi jangka pendek dengan risiko kerusakan lingkungan, atau mulai berinvestasi pada pariwisata yang berkelanjutan dan beretika?
DIY memiliki modal sosial, budaya, dan komunitas yang kuat. Jika pemerintah, pengelola destinasi, dan wisatawan mau berbagi peran secara seimbang, liburan Nataru tidak harus identik dengan krisis sampah. Justru sebaliknya, ia bisa menjadi momentum pembuktian bahwa kota budaya ini mampu merawat keindahan alam dan nilai-nilai kearifan lokal, bahkan di tengah hiruk-pikuk musim liburan. *
Penulis adalah seorang Pegiat Lingkungan dan Pendamping Desa Wisata.
