DI ANTARA pusaran emosi manusia itu, pandangan saya beberapa kali tertumbuk pada satu sosok di tribun kehormatan. Seorang lelaki senior berbalut polo short biru navy yang senada dengan jersey kami. Ia duduk, senantiasa kalem, bertepuk tangan dengan wibawa yang tak perlu dicari—Susilo Bambang Yudhoyono. Akrab disapa SBY.
Oleh: AK Supriyanto, fan LavAni dari Bandung
Di wajah teduhnya, ketegangan itu ada. Ia tidak bisa bersembunyi dari bahasa raut yang jujur. Di sudut matanya, di tarikan tipis otot rahangnya, di situ seperti tertulis “Saya ikut merasakan setiap detik neraka dan surga di lapangan ini.” Ia bukan lagi presiden yang bicara soal inflasi dan geopolitik, ia adalah seorang pembina, seorang “bapak” dari keluarga besar LavAni yang anak-anaknya sedang bertarung hidup-mati di hadapannya.
BACA SERI 1 : Comeback Sempurna LavAni
Saya salut, dan lebih dari itu, saya merenung dalam-dalam. Di masa ketika kekuasaan seringkali meninggalkan residu candu yang meracuni jiwa, lipatan-lipatan rindu akan protokoler ketat dan privilege, pria ini memilih jalan sunyi yang indah: olahraga dan kesenian.
Bayangkan, seorang mantan jenderal, mantan presiden yang pernah memegang kendali republik, kini justru bergulat dengan manis dan pahitnya membina klub bola voli. Ini bukan sekadar hobi. Ini adalah filosofi.
BACA JUGA: Perkuat Pariwisata Berkelanjutan Tawarkan Kantong dan Sedotan Singkong
Saya menarik kilas balik perjalanan LavAni yang bukannya tanpa luka. Ada masa-masa awal yang canggung, ada turnamen di mana mereka terjungkal, ada kritik dan keraguan. Membangun tim dari fondasi adalah soal konsistensi hati.
SBY tidak sekadar melempar dana lalu pergi. Konon, ia kerap berdiskusi taktis, menyemangati pemain yang cedera, dan hadir bukan sebagai mantan penguasa, tetapi sebagai pendengar dan pemeluk semangat tim.
BACA JUGA : Harlah Ansor Sleman Gelar Permainan Tradisional
Di situlah letak keindahannya: sebuah dedikasi yang lahir dari cinta, bukan dari ambisi kekuasaan. LavAni adalah inkarnasi dari visinya tentang manusia Indonesia—yang jatuh, bangkit, berlatih keras, dan pada akhirnya menempa diri menjadi baja.
Lihatlah ia berjalan di antara kerumunan tanpa pasukan pengawal yang galak, tanpa sekat-sekat protokoler yang menegangkan. Ia menikmati hidup sebagai warga senior biasa, bercengkerama dengan masyarakat, berfoto dengan siapa saja yang meminta.
Tidak terlihat ada ‘post-power syndrome’. Tidak ada raut was-was dihantui warisan persoalan masa lalu, tidak ada topeng yang dikenakan untuk melindungi reputasi yang retak. Yang ada hanyalah pria yang tersenyum tulus, bahagia karena tim volinya baru saja menjuarai Proliga.
Inilah role model yang langka. Di sebuah negeri yang gamang dengan transisi kepemimpinan dan keteladanan, SBY mewarnai kehidupan bangsa justru dari sisi-sisi non-politik yang paling jujur: dari cinta pada olahraga dan keindahan seni.
Ia menunjukkan bahwa purna tugas bukanlah titik, melainkan koma, dan paragraf baru kehidupan bisa ditulis dengan tinta yang lebih berwarna. Kepada generasi muda, ia seolah berseru dengan sunyi, “Janganlah kalian gantungkan identitas dan kebahagiaan hanya pada takhta. Gantungkanlah pada gairah, pada proses mencipta dan membina, pada cinta yang membuatmu mau berpeluh tanpa tanda jasa.”
Tengah malam itu, di tengah udara Jogja yang mulai dingin, kemenangan LavAni bukan hanya tentang piala. Ia adalah metafora agung. Tentang bagaimana manusia dan mimpi-mimpinya, meski kehabisan bensin dan berulang kali tertinggal, akan selalu punya kesempatan untuk comeback selama masih ada hati yang teguh. Fokus yang terasah, dan teladan yang berdiri kokoh di pinggir lapangan—bukan untuk mendikte, tapi untuk menginspirasi.
Purna Presiden itu, dengan ketenangannya, telah menjadi puisi bisu yang lebih mengharu biru daripada seluruh gegap gempita malam juara. Trembesi itu telah merunduk dan meneduhkan, dan di bawahnya, tunas-tunas baru belajar untuk bertumbuh dengan akar yang mencengkeram bumi, dan mimpi yang menggapai langit. (Habis)
