Syawalan, Gubernur Ingatkan Peran Strategis GIPI

ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ

Senator DPD RI Perwakilan DIY Ahmad Syauqi Soeratno saat menyampaikan sambutan di acara Syawalan GIPI DIY. (Dok: GIPI DIY)

YOGYA – Syawalan bukan sekadar tradisi. Melainkan jeda batin. Ruang di mana kita menundukkan ego, merawat nuranidan memperbaharui niat. Dari jabat tangan yang tulus dan maaf yang diikhtiarkan, lahir satu kekuatan yang seringkali tak kasatmata: kekuatan untuk menyambung kembali yang renggang dan menguatkan yang sudah terjalin.

“Dalam konteks itulah, silaturahmi tidak berhenti pada relasi personal, tetapi berkembang menjadi energi kolektif. Energi yang bila dikelola dengan bijak mampu menjadi pondasi bagi kebangkitan sektor-sektor strategis termasuk pariwisata,“ ujar Gubernur DIY Hamengku Buwono (HB) X dalam sambutan Syawalan GIPI DIY yang dibacakan oleh Noviar Rahmat, staf ahli gubernur bidang ekonomi dan pembangunan.

BACA JUGA: GIPI dan DIspar DIY Dampingi Desa Wisata

Syawalan DPD Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY berlangsung di Kampus STP AMPTA, Jumat (17/) sore. Hadir pada kesempatan tersebut sejumlah mitra kerja DPD GIPI DIY. Telihat di antaranya Senator DPD DIY Ahmad Syauqi Soeratno, Ketua Komisi B DPRD DIY Andriana Wulandari,  Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi, Deputi Bank Indonesia Perwakilan DIY Hermanto, GM YIA M Thamrin, Kapolda DIY diwakili Ditpamobvit Polda DIY.

Hadir pula, Direktur Utama Bank BPD DIY yang diwakili R. Wahyu Wijonarko (Pemimpin Divisi Kredit), Ketua KADIN diwakili Arif Effendi (Wakil Ketua Umum Bidang Pariwisata KADIN DIY), Ketua ISEI DIY diwakili Bambang P Hadi, SE, MM (Wakil Bendahara 1 ISEI DIY) dan perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota.

BACA JUGA : Kaur Pangripta Sleman Manfaatkan Syawalan untuk Konsolidasi

Lebih lanjut Gubernur menegaskan, pariwisata bagi Yogyakarta bukan sekadar sektor ekonomi. Ia adalah wajah peradaban, cermin kebudayaan, sekaligus ruang perjumpaan nilai.

Ditambahkan, lanskap perekonomian global saat ini tengah mengalami dinamika yang tidak sederhana. Ketegangan geopolitik, fragmentasi ekonomi dunia, serta berbagai penyesuaian kebijakan di tingkat nasional telah memengaruhi hampir seluruh sektor, termasuk pariwisata.

BACA JUGA: Menyoal Kata BUANG dalam Pengelolaan Sampah

Dalam situasi seperti ini, lanjut Gubernur, pola mobilitas manusia, preferensi perjalanan, hingga ritme aktivitas ekonomi mengalami pergeseran. Dan sebagai sektor yang sangat bergantung pada pergerakan dan kepercayaan publik, pariwisata pun turut merasakan implikasinya.

“Oleh karena itu, yang kita hadapi hari ini bukan sekadar tantangan sektoral, melainkan bagian dari perubahan ekosistem yang lebih luas, yang menuntut ketahanan, keluwesan dan kemampuan beradaptasi bersama,“ tambah HB X.

Namun, sebagaimana falsafah yang kita pahami bersama, “tanggap ing sasmita“, kita dituntut untuk peka membaca zaman. Bahwa setiap perubahan, sejatinya bukan untuk dihindari, tetapi untuk dipahami, diolah menjadi peluang.

BACA JUGA : POSYANDU Condongcatur Incar Juara Nasional

Menurut Gubernur, di sinilah peran strategis GPI menjadi sangat penting. GIPI bukan hanya organisasi, tetapi simpul dari berbagai kepentingan, sekaligus jembatan yang menghubungkan pelaku usaha, pemerintah dan masyarakat.

“GIPI memiliki posisi yang unik. Sebagai orkestrator kolaborasi. Menghimpun kekuatan hotel, restoran, biro perjalanan, hingga sektor pendukung lainnya untuk bergerak dalam satu irama. Dari sinergi itulah kita berharap lahir inovasi, baik dalam pengembangan destinasi, diversifikasi produk wisata mapun strategi pemasaran yyang lebih adaptif terhadap perubahan zaman,“ tegas Gubernur.

Lebih dari itu, GIPI diharapkan mampu  menjadi ruang konsolitasi gagasan. Tempat di mana pengalaman lapangan bertemu dengan kebijakan dan di mana tantangan diterjemahkan menjadi langkah-langkah solutif. Karena pada akhirnya, pariwisata yang kuat bukan hanya yang ramai dikunjungi, tetapi yang mampu memberi manfaat keberlanjutan bagi masyarakatnya.

Gubernur pun mengajak momentum syawalan sebagai titik tolak. Tidak hanya untuk saling memaafkan tetapi juga untuk menyatukan langkah. “Dari hati yang telah bersih, kita bangun niat yang jernih. Dari niat yang jernih, kita wujudkan kerja bersama yang bermakna,“ tandas HB X.

Dengan semangat itulah, Gubernur optimis bahwa pariwisata Yogyakarta akan tetap tegak. Tidak hanya sebagai kekuatan ekonomi, tetapi sebagai penjaga martabat budaya dan kemanusiaan. (wid)

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *