Desa wisata harus bersih dari sampah. Jika tidak, desa wisata tersebut pasti tidak akan didatangi oleh wisatawan. Karena itu, pengelola desa wisata harus memperhatikan pengelolaan sampah di wilayahnya. Terus memperhatikan produksi sampahnya jangan sampai mengganggu pengembangan desa wisata.
“Bayangkan, di depan pendapa ini berserakan sampah. Ada pembalut, popok , seperti yang disebut narasumber tadi. Bisa jadi, wisatawan yang masih di dalam bus, tidak jadi turun dan pilih kembali, “ ingat Ketua Komisi B DPRD DIY Andriyana Wulandari.
MAU BELAJAR KELOLA KOPERASI MERAH PUTIH? KLIK DI SINI
Mbak Ndari –begitu ia biasa disapa—menyampaikan hal itu di hadapan peserta Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengelolaan Sampah di Destinasi. Bimtek digelar di Pendopo Joglo Semar, Desa Wisata Krebet, Sendangsari, Pajangan, Bantul, Rabu (13/8/2025) diikuti oleh para perajin, pengelola Desa Wisata Krebet, pengelola Bank Sampah dan warga.
Narasumber pada kegiatan ini adalah Erwan Widyarto mewakili Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Hendri (BUMDes Guwosari, Pajangan) dan Agus Budi Rahmanto (DPD PUTRI DIY). Acara yang berlangsung atas kerjasama Bidang Destinasi, Dinas Pariwisata DIY dan DPRD DIY ini dipandu Agus Jati Kumara (Ketua Desa Wisata Krebet).
BACA JUGA: Komunikasi Kunci Sukses Bisnis Pariwisata
Anggota dewan dari PDI Perjuangan ini juga mengingatkan agar tidak ada pembakaran sampah. Apalagi sampah plastik. “Bahaya asap pembakaran sampah itu lebih besar daripada asap rokok. Karena itu saya mohon warga di sini hindari membakar sampah. Kelola sampah dari sumber karena, seperti ditunjukkan Mas Erwan tadi, di Perda DIY Tahun 2013 ada pasal yang berbunyi Setiap penghasil sampah wajib memilah sampah sesuai jenis dan sifatnya, “ tambah Mbak Ndari.
Politisi yang sedang memperjuangkan penyusunan Perda Pariwisata Berbasis Budaya di Kalurahan dan Kelurahan ini juga berpesan agar Desa Wisata Krebet menghindari kemasan styrofoam. Bahan tersebut, katanya, sangat sulit terurai dan bahaya jika dibakar.
BACA JUGA: JALAN TOL DAN PEMBENAHAN EKOSISTEM PARIWISATA
Sementara itu, Erwan Widyarto mengurai sumber sampah dari Desa Wisata Krebet dan mengingatkan adanya tantangan pengelolaan sampah di Desa Wisata Krebet. Sebagai “batik kayunya Indonesia“,, sumber sampah Desa Wisata Krebet berasal dari Rumah Produksi Batik Kayu bisa berupa serbuk kayu, potongan kayu sisa, plastik kemasan bahan baku, kain lap bekas dan lain-lain.
Kemudian dari area wisata dan workshop. Bisa berupa sampah sisa makanan suguhan welcome snack maupun makan besar, sampah kemasan makanan/minuman pengunjung, dan limbah pelatihan batik kayu yang menjadi atraksi unggulan.
Sumber sampah berikutnya dari permukiman warga berupa sampah rumah tangga organik maupun anorganik. Dan kemudian sampah dari event wisata yang berupa sampah sekali pakai seperti gelas plastik, sedotan, brosur, dan banner.
“Kalau ada serbuk kayu hasil gergajian yang banyak, bisa dikelola menjadi media tanam. Bisa dikembangkan mencontoh Bli I Gde Arsa Sudiarsana. Lewat GedeJamur, ia sukses mengelola sampah serbuk gergaji menjadi industri jamur. Bisa dilihat di IG @gedejamur, “ papar pria dengan akun IG @juraganerwan ini.
BACA JUGA: GIPI dan UAD Kenalkan Smart Limbah
Sedangkan untuk pengelolaan limbah cairan sintetis pewarna batik kayu, Erwan mengingatkan kalau GIPI pernah berkolaborasi dengan Universitas Ahmad Dahlan mengenalkan Smart Limbah ke Krebet. Teknologi praktis dan tepat guna untuk mengolah limbah batik menjadi cairan netral yang aman bagi lingkungan dalam waktu 3 jam saja. “Harganya sangat terjangkau dan sangat strategis untuk meningkatkan branding Krebet sebagai Desa WIsata Berkelanjutan, “ tegasnya.
Sedangkan Hendri sebagai Direktur BUMDes Guwosari bercerita tentang aktivitas BUMDes dalam pengelolaan sampah. Mulai dari pengangkutan hingga pengolahan dan pemrosesan akhir. Pengolahan sampah organik dengan maggot dan pemrosesan plastik menjadi papan untuk bahan furniture. Hendri juga bercerita metode chicken tractor, memanfaatkan ayam sebagai penyelesai sampah organik.
BACA JUGA: Dubes Muhsin Perkuat Jembatan Budaya Indonesia-Kanada
Sedangkan Agus Budi Rahmanto lebih banyak bercerita bagaimana Taman Pintar yang dikelolanya menyelesaikan produksi sampah di destinasinya. Dia bercerita tentang zona sampah organik, zona bank sampah dan zona maggot. Pria yang biasa disapa dengan Rahman ini juga bercerita tentang integrated eco-management di lingkungan destinasi wisata. Mulai dari sampah, air dan listrik.
Seorang peserta bertanya yang diceritakan baru soal sampahnya, bagaimana dengan air dan listriknya. Mendapat pertanyaan ini, Rahman menjanjikan penjelasan bisa disampaikan di Taman Pintar. “Silakan datang ke Taman Pintar. Gratis. Saya fasilitasi untuk 50 orang. Kita berdiskusi lebih panjang di sana karena saat ini waktu habis, “ kilah Rahman.
Peserta pun lantas minta nomor kontak Rahman dan merencanakan untuk datang ke Taman Pintar. (art)
