PAMERAN DRAWING
Utthana – Utthana Sutta

ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ


Oleh: Hajar Pamadhi

“Daḷhaṁ sikkhatha santiyā.” (Berlatihlah dengan gigih/teguh untuk mencapai kedamaian).

“In drawing, one must look for or suspect that there is more than is casually seen (George Bridgman).

Kata Utthana sebenarnya konotatif, dari asal bahasa Pali kemudian diterapkan kepada beberapa bahasa sehingga mempunyai arti luas.

Ada kata Utthana Sutta (Sutta Nipata) yang disambung dengan kata Daḷhaṁ sikkhatha santiyā. Berarti berlatihlah dengan gigih/teguh untuk mencapai kedamaian. Prasarat utthana adalah cara mengakui keberadaan, kebijaksanaan, dan kebaikan orang lain, sekaligus merendahkan ego diri sendiri.

Tidak ada kesombongan yang diharapkan dengan utthana, sikap tubuhmu saat menghormat mencerminkan kemurnian batinmu ketika memberi apresiasi. Misalnya secara fisik: berdiri dengan kesadaran untuk menemukan kedamaian.

Sehingga. Tajuk utthana menjadi kesadaran tinggi atas keberadaan sesuatu, keberadaan yang mendasarkan kepada kenyataan yang ada, bahwa di dunia segala yang hadir sudah menjadi modal tetap selalu dihargai. 

Utthana dalam tajuk pameran gambar dimaknai sebagai apresiasi secara sadar dan menundukkan bahwa yang ditanggapi bukan sekedar sesuatu yang ada, melainkan ada dan keberadaannya sebagai ungkapan rasa terdalam. Maka perlu mengangkat hal yang sesungguhnya ke dalam rasa seni.

Estetika yang dijadikan modal tetap pemerhati akan dijadikan langkah untuk membuat seseorang sadar dengan perbedaan, kekurangan bahkan juga kelebihan. Utthana dalam pameran gambar ini adalah sebuah apresiasi terhadap makna gambar yang berada dalam konteks seni, komunikasi maupun perjalanan spiritual yang menghasilkan enerji batin.

Ketika menanggap objek, gambar berfungsi sebagai: media ekspresi, ilustrasi, alat komunikasi atau bahasa kedua, wahana memindah bentuk (gambar model, gambar bentuk) dan sebagai media spiritual.

Memang gambar bagi Dario Fe adalah adalah alat motivasi menemukan sesuatu hal yang baru, aneh atau yang tidak terduga sebagai isi hati. “While drawing I discover what I really want to say”.

Gambar bukan sekedar bentuk yang ada, namun keberadaannya dapat membangkitkan pikiran, perasaan dan menumbuhkan energi batin yang mampu memberi nilai tambah sebuah karya ber-utthana. Terutama utthana adalah kebangkitan diri karena melalui menggambar akan menemukan dirinya dalah gambar peralihan seperti menggambar bentuk dan model.

Gambar mampu menampung enerji batin ketika melakukan pengembaraan rasa dan pikiran sehingga menemukan dirinya. Ketika menggambar, bayangan, angan serta cita-cita akan muncul seketika; ini konsep imanensi manusia ketika berhadapan dengan kekuatan luar akan menghasilkan energi baru. 

Pameran gambar oleh kelompok GoArt Drawing beberapa karya menunjukkan 5 pola yang sangat tipis jika diamatinya.

Pola-pola realis akan memberikan contoh paling banyak, sehubungan gambar sebenarnya adalah media menampung gagasan idealisme. Diantaranya: Evrie Ermasari, Erwan Widyarto, Niken Larasati, Hadiyanto, Nur Arifin, Rohmat Rizal, Asri MW, Djoko Sardjono, Barlin Srikaton, Bay Juri dan Lydia.

Kemudian hadir gambar realis yang diarahkan sebagai media berulah sosial, maka menghasilkan sosialisme realisme, ini nampak pada karya yang mengangkat kehidupan soisal sebagai objek material. Di antaranya: Pratiwi Endang Lestari, Oko Supriyadi, Tri Wiyono, Kartika Aryani.

Selanjutnya, beberapa karya yang menitikberatkan pada super-realisme. Dengan ketelitian mengarsir, atau menggores sehingga himpitan goresan ini mirip dengan tumpahan warna. Seniman yang mengangkatnya adalah: Ahmad Dardiri, Agung Suhastono, Moelyoto, Wasis Subroto, Sarjiyanto Sekar, Dewantoro PG, Agoes art & Dancer, Didit Njedit dan Faisal Budiharso.

Karya idealisme juga muncul ketika objek formal memberi warna sendiri dan mengartikan gambar sebagai kekuatan energi yang disalurkan lewat goresan tangan.“Dalam menggambar, seseorang harus mencari atau mencurigai bahwa ada lebih dari sekadar yang terlihat secara sepintas: (George Bridgman).

Pelebaran makna gambar menjadi ritus gambar terdapat mantra, doa dengan afirmasinya mampu memberi dasar kemunculan karya seni. Sesekali, para seniman gambar ini menerjemahkan bentuk dalam ekspresi spontannya sebagai surealismenya. Tatang B.sp, Alex Pracaya, Edi Wahyono, Imam Yunianto, Prihadi Moeljono, Podang Surata dan Coosmas Yunianto.

Gambar diungkapkan secara ornamentik; terdapat dua gaya: oranmen hiasa, dengan menguatkan dekoratif.

Di skisi lain muncul karya mengangkat gaya dekoratifsme: Ornamentik: Heri Santoso, Herjaka HS, Endang Apriyanto, Heraswati, dan Agung Suryahadi.

Akhirnya, diucapkan selamat berpameran, sukses hari ini berhasil di kemudian hari.***

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *