YOGYA – Sebuah kajian dalam pengembangan kawasan Borobudur–Yogyakarta–Prambanan (BYP) menunjukkan bahwa kawasan ini –termasuk Kraton di dalamnya—adalah destinasi utama yang paling siap dijual ke pasar mancanegara. Hasil kajian tersebut kemudian menjadi rujukan dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata BYP.
Demikian disampaikan oleh Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) Agustin Perangin-angin saat menjadi pembacara Forum Pentahelix 2025. Forum Pentahelix bertema Kesiapan Pariwisata DIY Menghadapi Dinamika Pariwisata Global ini digelar di Aula Kantor BPOB, Gedung Keuangan Negara (GKN) Yogya, Senin (25/8).
BACA JUGA : Perlu Inovasi Produk Pariwisata dan Dirijen yang Mengorkestrasi
Forum Pentahelix ini menghadirkan akademisi, industri pariwisata, komunitas, pemerintah dan media. Selain Agustin Perangin-angin, tampil sebagai pemantik diskusi Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY GKR Bendara, Ketua Umum DPD GIPI DIY Bobby Ardyanto, Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi dan Wakil Ketua DPRD DIY Budi Waljiman.
Angin, begitu Dirut BPOB ini biasa dipanggil, menegaskan bahwa indikator rencana pembangunan pariwisata BYP tersebut hanya sampai tahun 2024. “Untuk periode 2025–2029 belum ada penyusunan lanjutan secara rinci, sehingga saat ini masih menggunakan indikator 2024. Proses perencanaan juga terlihat berjalan lambat akibat adanya perubahan nomenklatur di tingkat pusat,” lanjut Angin.
Pria kelahiran Karo yang baru terpilih sebagai Ketua Ikatan Alumni ITB ini menambahkan saat ini banyak program pariwisata yang sudah direncanakan belum diikuti dengan penganggaran yang memadai. Apalagi di saat terjadi efisiensi anggaran. Kendati begitu, ia berharap tahun 2026 event pariwisata dan dukungan pemasaran dapat lebih ditingkatkan dengan kolaborasi industri dan pemerintah daerah untuk menyusun materi promosi kawasan BYP secara lebih terpadu.
BACA JUGA : Tantangan dalam Mendorong Inovasi Produk dan Pasar Baru Pariwisata DIY
Pada kesempatan itu, Angin juga menginformasikan adanya ujicoba penerimaan wisata mancanegara di BYP. Pada November 2025, katanya, akan dilaksanakan ujicoba Air Cruise dengan skema menginap dua malam di Kulon Progo.
“Program ini melibatkan sekitar 250 tamu dari Prancis, dengan pembagian 150 orang menginap di Yogyakarta dan 100 orang di Borobudur selama 12 hari. Kegiatan ini difasilitasi promosi oleh Kementerian Pariwisata dan diharapkan memberi pengalaman yang memuaskan sehingga dapat menciptakan repeat visit,” harapnya.
BACA JUGA : Solusi Murah dan Mudah Hadapi Kekeringan
Menyoal aksesibilitas di kawasan BYP, Angin mengemukakan bahwa secara fisik, aksesibilitas sudah lebih dari cukup. Namun konektivitas antar titik destinasi masih menjadi pekerjaan rumah. Harapannya, koneksi langsung dengan Yogyakarta International Airport (YIA) dapat menjadi prioritas, sehingga penguatan promosi kawasan BYP dapat berjalan seiring dengan peningkatan konektivitas.
Menyoal konektivitas YIA, GKR Bendara juga berpendapat. Terkait prioritas penerbangan internasional, katanya, perlu ada dorongan agar Yogya mendapat alokasi yang lebih besar dalam rute-rute langsung (direct flight).
Bendara menambahkan, kendati tidak semua kebijakan ada di kewenangan daerah, salah satu contohnya kebijakan konektivitas, namun daerah memiliki kepentingan strategis agar Yogyakarta International Airport (YIA) dapat menjadi pintu masuk internasional yang diprioritaskan.
Karena, seperti ditekankan oleh Kadispar DIY Imam Pratanadi, daya saing pariwisata Yogyakarta di pasar wisatawan asing masih terbatas, terutama karena keterbatasan penerbangan langsung (direct flight). Oleh karena itu, untuk membuka pintu wisatawan mancanegara, Imam berhadap rute Singapura–YIA perlu dikembangkan lebih serius. (wid)
