Pesona Kasaningrat Memikat Peserta JIKF  dari Sejumlah Negara

Headline Tugu

Sekitar 40 wisatawan mancanegara berkunjung ke Kasaningrat. (Foto-foto Kasaningrat)

Langit Yogyakarta –terutama di kawasan Pantai Parangtritis– beberapa hari terakhir dipenuhi aneka warna layang-layang dari berbagai penjuru dunia. Namun, bagi 40 peserta Jogja International Kite Festival (JIKF) 2026, ada pengalaman lain yang menimbulkan kesan mendalam. Apa itu?

Catatan: Erwan Widyarto

SEKITAR 40 peserta JIKF dari Amerika Serikat, India, Vietnam, Tiongkok, Lithuania, Brasil, Haiti, Lebanon, Jerman, Tunisia, dan Malaysia menghabiskan waktu menikmati beragam atraksi wisata berbasis masyarakat di Kampung Wisata Cokrodiningratan, Kota Yogyakarta. Mereka menyusuri gang-gang Kampung Wisata Cokrodiningratan (Kasaningrat), pada 8Juli 2026. Belajar membatik dengan pewarna limbah kopi, menanam kepedulian terhadap lingkungan, hingga melepas ikan di Sungai Code.

Kampung wisata yang berada di kawasan Sumbu Filosofi di sebelah utara Tugu Yogyakarta itu menyuguhkan pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata perkotaan pada umumnya. Di sini, wisatawan tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam aktivitas warga.

Sejak memasuki kawasan kampung, para tamu disambut suasana akrab khas perkampungan Jawa. Tidak ada sekat antara wisatawan dan masyarakat. Tawa riang terdengar ketika peserta dari berbagai negara mencoba membuat tas berbahan kain dengan teknik ecoprint pounding, membuat gantungan kunci dari tutup botol bekas, hingga mencanting malam di atas kain batik.

Beberapa di antara mereka tampak serius memperhatikan setiap tahapan membatik, sementara yang lain sesekali tertawa ketika garis malam yang mereka buat melenceng dari pola.

Yang cukup menarik perhatian para tamu adalah Batik Kopi, inovasi khas Kasaningrat dalam pendampingan bersama DPD GIPI DIY. Inovasi yang memanfaatkan limbah ampas kopi dari berbagai kafe di sekitar kawasan Cokrodiningratan sebagai pewarna alami batik.

Alih-alih menjadi sampah, limbah kopi diolah menjadi bahan bernilai ekonomi sekaligus memiliki cerita yang kuat tentang ekonomi sirkular dan kepedulian lingkungan.

Bagi peserta dari negara-negara yang memiliki budaya kopi kuat seperti Brasil maupun Amerika Serikat, gagasan tersebut menjadi pengalaman baru. Mereka melihat bagaimana limbah yang biasanya berakhir di tempat sampah dapat berubah menjadi karya seni bernilai tinggi.

Aktivitas wisata kemudian berlanjut ke Sekolah Sungai, ruang edukasi lingkungan yang menjadi salah satu ikon Kampung Wisata Kasaningrat.

Seorang turis mengamati budidaya lebah madu dengan tanaman air mata pengantin (kiri) dan seorang wisatawan praktik membatik.

Di tempat ini, peserta memperoleh penjelasan mengenai upaya masyarakat menjaga kualitas Sungai Code, pengelolaan sampah berbasis warga, hingga pentingnya membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini.

Pembelajaran tidak berhenti dalam diskusi. Para tamu juga diajak melihat budidaya lebah madu yang dikembangkan warga, sebelum akhirnya berjalan menuju tepian Sungai Code untuk mengikuti prosesi melepas ikan sebagai simbol kepedulian terhadap ekosistem sungai.

Suasana terasa hangat ketika peserta dari berbagai negara berdiri berdampingan di tepi sungai sambil melepaskan benih ikan ke aliran Code. Momen sederhana itu menjadi simbol bahwa kepedulian terhadap lingkungan adalah bahasa yang dipahami oleh semua bangsa.

Sebagian besar aktivitas dipusatkan di Teras 22 dan kawasan Pasar Minggon Code, ruang kreatif masyarakat yang selama ini menjadi pusat kegiatan ekonomi, budaya, sekaligus edukasi lingkungan di Kasaningrat. Mereka juga disambut dengan Pasukan Bregada.

Tidak hanya mengenal kehidupan masyarakat masa kini, rombongan internasional tersebut juga diajak menelusuri jejak sejarah bangsa Indonesia.

Mereka mengunjungi sejumlah bangunan bersejarah seperti Sekolah Kebangsaan SMA Negeri 11 Yogyakarta dan Princes Juliana School (SMKN 2 Yogya). Tempat, yang masing-masing menyimpan cerita penting dalam perjalanan sejarah pendidikan dan kebangsaan Indonesia. Misalnya, SMA 11 adalah tempat diselenggarakannya Kongres Boedi Oetomo I pada tahun 1908.

Rangkaian kunjungan tersebut menjadi pelengkap pengalaman wisata yang memadukan aspek budaya, sejarah, pendidikan, dan lingkungan dalam satu perjalanan.

Kepala Bidang Pengembangan Sumber Daya Pariwisata Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta, Husni Eko Prabowo, mengatakan kunjungan peserta festival layang-layang internasional ke kampung wisata merupakan bagian dari strategi Pemerintah Kota Yogyakarta untuk memperkuat pemerataan manfaat sektor pariwisata.

Menurutnya, Pemerintah Kota bersama DPRD berkomitmen agar tamu-tamu yang datang ke Yogyakarta tidak hanya berkunjung ke destinasi populer, tetapi juga merasakan pengalaman otentik di kampung-kampung wisata. Kota Yogya memiliki 46 kampung wisata yang tersebar di 45 kelurahan.

“Program peningkatan kunjungan tamu ke kampung wisata merupakan salah satu komitmen Pemerintah Kota bersama DPRD Kota Yogyakarta. Ketika ada anggota dewan yang memiliki akses mendatangkan tamu dari luar daerah maupun luar negeri, kami berupaya mengarahkan mereka untuk berkunjung ke kampung wisata yang ada di Kota Yogyakarta,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kunjungan rombongan peserta Jogja International Kite Festival 2026 ke Kasaningrat merupakan tindak lanjut dari arahan anggota DPRD Kota Yogyakarta, Oleg Yohan. Sehingga para tamu memperoleh kesempatan menikmati pengalaman wisata berbasis masyarakat di tengah kota.

Strategi tersebut diharapkan mampu memperluas dampak ekonomi pariwisata hingga ke tingkat kampung, sekaligus memperkenalkan wajah Yogyakarta yang lebih beragam kepada wisatawan mancanegara.

Sementara itu, Ketua Kampung Wisata Cokrodiningratan, Ambarwati, mengaku persiapan menerima tamu internasional dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Meski demikian, seluruh unsur masyarakat mampu bekerja sama sehingga seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung lancar.

Alhamdulillah, persiapannya memang cukup singkat. Tetapi waktunya tidak bersamaan dengan agenda workshop pendampingan atau penguatan kampung wisata sehingga kami bisa lebih fokus menerima tamu,” katanya.

Menurut Ambar, kemampuan masyarakat dalam menyelenggarakan kunjungan wisata selama ini masih banyak kekurangan. Bersyukurnya, saat ini Kasaningrat pendampingan dari GIPI DIY yang telah diterima selama beberapa bulan terakhir.

Sejak Mei hingga Juli ini, Kampung Wisata Cokrodiningratan menjadi salah satu kampung/desa wisata yang memperoleh program pendampingan dari DPD GIPI DIY bersama Dinas Pariwisata DIY. Lokasi pendampingan lainnya di Desa Wisata Tinalah, Kulonprogo.

Melalui program tersebut, sumber daya manusia pengelola kampung wisata mendapatkan penguatan kapasitas dalam 11 bidang pengelolaan destinasi. Mulai dari tata kelola/manajemen destinasi, kepemanduan, pelayanan homestay, pemasaran, penyusunan paket wisata, pengembangan event, experiential learning, pengelolaan lingkungan hingga penguatan usaha (entrepreneurship).

Pendampingan tersebut membantu pengelola menyusun pengalaman wisata yang lebih terstruktur, tanpa kehilangan karakter lokal yang menjadi kekuatan utama kampung.

Keberhasilan menerima tamu dari berbagai negara ini sekaligus menjadi bukti bahwa kampung wisata mampu tampil sebagai wajah baru pariwisata Yogyakarta.

Di tengah semakin tingginya kebutuhan wisatawan terhadap pengalaman yang autentik, Kasaningrat menunjukkan bahwa daya tarik sebuah destinasi tidak selalu dibangun oleh bangunan megah atau wahana modern.

Justru melalui interaksi dengan warga, cerita tentang limbah kopi yang disulap menjadi batik, kepedulian terhadap Sungai Code, hingga semangat menjaga keberagaman masyarakat, wisatawan memperoleh pengalaman yang sulit ditemukan di tempat lain.

Semboyan “Pelestari Lingkungan dan Penjaga Keberagaman” yang diusung Kampung Wisata Cokrodiningratan pun bukan sekadar slogan. Nilai itu hadir dalam setiap aktivitas yang dijalani para tamu, mulai dari mengolah limbah menjadi produk kreatif, belajar menjaga sungai, hingga menyelami sejarah kebangsaan yang tumbuh di kawasan tersebut.

Ketika festival layang-layang mempertemukan berbagai bangsa di langit Yogyakarta, Kampung Wisata Kasaningrat mempertemukan mereka dengan kehidupan masyarakat yang hangat di bumi. Dari sebuah kampung di utara Tugu Yogyakarta, para tamu internasional membawa pulang lebih dari sekadar cendera mata. Mereka membawa cerita tentang sebuah komunitas yang berhasil merawat budaya, menjaga lingkungan, dan membuktikan bahwa pariwisata terbaik selalu lahir dari keterlibatan masyarakatnya.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *