Joseph Beuys-nya Indonesia yang Pantas Dapat Rekor MURI

ꦄꦼꦮ꦳ꦼꦤ꧀ꦠ꧀ ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ

Mikke Susanto (kiri) dan Deni Je saat membedah buku Hutan Baru di Gunung Batu di Jogja Gallery, 11/8/2025. (Foto: Erwan Widyarto)

Pemilik Jogja Gallery Sugiharto Soeleman punya gawe. Meluncurkan  buku biografi “Hutan Baru di Gunung Batu: Sugiharto’s Journey Converting Karst Rocks into Green Forest. Buku karya Deni Junaedi (Deni Je) ini diluncurkan, didiskusikan dan diiringi pameran lukisan. Semua mengangkat Wunung: Giri Sela Kandha.

Launching pada Minggu (10/8) malam. Diskusi bedah buku Senin (11/8) dan Pameran pada 10-20 Agustus melibatkan 35 perupa. Semuanya bertempat di Jogja Gallery, yang berada di jantung kota Yogya. Persisnya di sudut Timur Luat Alun-Alun Utara, Kraton Yogya.

Bedah buku menghadirkan penulis Deni Je, pembahas Kartika Nur Rahman (keponakan Sugiharto), Prof M Baiquni  (guru besar yang pecinta alam dan mulai melukis), Sugi Handoko ( rekan kerja Sugiharto) dan Mikke Susanto (dosen ISI, kurator Jogja Gallery). Tampak hadir sejumlah seniman dan kolega Sugiharto. Ada Oei Hong Djien, Kartika Affandi, Dwi Marianto, Pupuk DP, Ustadz Anant dan para tetangga rumah Sugiharto di Jakarta.

Buku setebal xl+444 halaman ini mengisahkan perjalanan hidup Sugiharto, yang akrab disapa Sugi atau Pak Giek. Penulis membagi episode perjalanan hidup pengusaha tambang yang terjun ke dunia seni dan konsul kehormatan Austria di Yogya ini ke dalam empat fase. Yakni cangkul, pedang, keris dan nirgaman.

Fase cangkul menggambarkan  dunia kerja. Pedang era saat memegang kekuasaan. Keris era saat memegang kemuliaan dan Nirgaman era kontemplasi, saat Sugiharto berpikir bekal untuk “kembali“.

Yang menjadi fokus penulisan buku dan pameran adalah satu lokasi bernama Wunung. Gunung kecil di kawasan kecamatan Wonosari, kabupaten Gunungkidul. Gunung Wunung ini menjadi saksi perubahan alam dari gunung batu menjadi hutan rimbun.  

Saat diskusi bedah buku, Deni Je mengungkapkan ada sekitar 80 ribuan pohon berbagai jenis berhasil ditanam dan hidup di lahan 25 hektare itu. Dan itu menjadi langkah konservasi yang luar biasa. Tidak hanya hutan yang tumbuh, air pun makin baik dan hewan-hewan hutan seperti mendapatkan kembali rumahnya.

Dwi Maryanto saat menyampaikan pandangannya dalam diskusi bedah buku biografi Sugiharto Soeleman. (Foto: Erwan Widyarto)

Apa yang dilakukan Pak Sugi ini, sebenarnya karya seni. Begitu suara Prof Dr Dwi Maryanto MFA.  Rektor ISI Yogya periode 2016-2020 ini lantas menguraikan contoh seniman yang karyanya berupa penanaman ribuan pohon yakni Joseph Beuys. Ia terkenal dengan proyeknya yang berjudul 7.000 pohon Oaks.

Beuys menganggap proyek ini sebagai karya seni sosial yang bertujuan untuk mengubah lingkungan dan masyarakat. Tujuan dari proyek ini adalah untuk menunjukkan bahwa seni dapat menjadi agen perubahan sosial dan lingkungan.

Pak Sugi ini tidak hanya 7.000 tapi 80 ribu pohon.  Sama dengan Beuys, kerja Pak Sugi juga telah menunjukkan terjadinya perubahan sosial dan lingkungan di Gunung Wunung. Menurut Dwi Maryanto ini karya fenomenal dan layak masuk Rekor MURI.

Dalam buku terbitan ArtCiv Publisher Yogya ini, terungkap bagaimana bentang karst diubah menjadi destinasi wisata konservasi alam bernama Wunung: Giri Sela Kandha. Tempat yang kini berdiri belasan glamping ini, pada 10-11 Februari 2025 didatangi 35 perupa –pelukis, pegrafis, pematung, dan fotografer— mengamati kawasan itu. Mereka datang ke lokasi untuk memperoleh gagasan berkarya. Hasilnya, mereka pamerkan dalam The Story of Giri Sela Kandha, 10-20 Agustus 2025.

Sugiharto Soeleman (berdiri) memberikan tanggapan terhadap beberapa hal yang disampaikan pembahas maupun peserta diskusi buku. Tampak di sisi kiri Prof Dr M Baiquni. (Foto: Erwan Widyarto)

Banyak nilai inspiratif yang didapat dari buku ini. Tidak hanya soal keteguhan seorang Sugiharto tetapi juga soal ketekunan, kepedulian dan kegemaran berbagi kepada sesama. Buku ini tidak terwujud jika pihak penulis dan penerbit gagal meyakinkan Sugiharto dan istrinya. Karena, di awal pertemuan rencana penulisan biografi ini, selalu ditolak dengan alasan “ndak dikira umuk“ dan riya. Pamer. (erwan widyarto)

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *