Dosen dan Tendik STP AMPTA Yogya Antusias Bikin LRB
Setelah Praktik di Kampus, Langsung Ingin Buat juga di Rumah

Headline

Para dosen dan tendik STP AMPTA Yogya antusias membuat Lubang Resapan Biopori di kampus.

KESUNYIAN halaman Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) AMPTA Yogyakarta karena mahasiswa masih libur, Rabu pagi (7/4/26), pecah oleh keriuhan kecil. Sejumlah orang, laki-laki dan perempuan, berebut, bergantian, mengebor tanah di sekeliling pendapa.

Bukan proyek bangunan, bukan pula renovasi kampus. Siang itu, para dosen dan tenaga kependidikan (tendik) justru sibuk menggali tanah dengan semangat yang nyaris tak menyisakan jarak antara teori dan aksi.

Mereka tengah mempraktikkan pembuatan Lubang Resapan Biopori (LRB) yang benar. Ini menjadi salah satu kegiatan Dies Natalis Ke-39 STP AMPTA. Tema dies kali ini “Memantabkan Langkah Menuju Pariwisata Ramah Lingkungan dan Beretika”.  Pembuatan LRB, menurut Ketua Panitia Dies Natalis Setyo Pasiyono Nugroho, M.Sc. sangat relevan dengan upaya STP AMPTA membangun pariwisata berkelanjutan.

Kegiatan ini diawali dengan penjelasan singkat namun padat dari Pegiat Lingkungan Erwan Widyarto, yang selama ini aktif mengedukasi masyarakat tentang Lubang Resapan Biopori. Dengan gaya lugas dan komunikatif, Erwan menjelaskan apa itu biopori, mengapa penting, serta kesalahan-kesalahan umum yang sering terjadi dalam praktik di lapangan.

Salah satu poin yang langsung memantik reaksi peserta adalah soal biopori tanpa paralon—sebuah inovasi yang dikembangkan oleh Prof. Kamir Rafiudin Brata dari IPB Bogor, pencetus teknologi Lubang Resapan Biopori.

Begitu praktik dimulai, komentar-komentar spontan pun bermunculan.

“Gak pakai paralon ya?”

“Lho, di saluran air ta bikinnya?”

“Wah, ya ngirit berarti…”

Pertanyaan-pertanyaan itu justru menjadi tanda ketertarikan. Rasa penasaran berubah menjadi pemahaman, lalu berujung pada aksi. Setelah tahu bahwa LRB yang benar cukup dibuat langsung di tanah –bahkan di sekitar aliran air– tanpa pipa paralon, wajah-wajah peserta tampak semakin antusias.

Tanpa banyak komando, para dosen dan tendik pun bergantian memegang bor tanah. Lubang demi lubang dibuat, lalu diisi sampah organik: daun kering, sisa tanaman, dan material hayati lain yang akan  menjadi “makanan” bagi organisme tanah.

Ketika makhluk hidup di dalam tanah mendapat suplai makanan di dalam tanah, mereka tidak mencari makan naik ke permukaan. “Mereka tak mencari daun pintu atau jendela kayu kita. Sehingga rumah kita menjadi aman, “ papar Erwan.

Yang menarik, kegiatan ini benar-benar melibatkan semua kalangan. Laki-laki dan perempuan, muda dan senior, semua ikut bergerak. Tak ada yang hanya berdiri mengamati.

Bahkan  salah satu dosen di kampus itu, Doktor Ayu Cornellia –yang biasa akrab dengan ruang kelas dan diskusi akademik– turun langsung. Dengan tangan sendiri, ia ikut ngebor tanah, tersenyum sambil mencoba teknik yang baru saja dijelaskan.

Pemandangan itu seolah menegaskan satu hal: urusan lingkungan bukan hanya tanggung jawab aktivis, tetapi juga dunia pendidikan.

Menurut Erwan Widyarto, esensi pembuatan Lubang Resapan Biopori sebenarnya sangat sederhana. “Membuat biopori yang benar itu tidak ribet. Cuma perlu niat dan kemauan,” ujar provokator bank sampah yang biasa disapa Juragan Erwan ini.

Ia menekankan bahwa biopori bukan sekadar lubang di tanah, melainkan sistem alami untuk membantu resapan air, memperbaiki struktur tanah, sekaligus mengelola sampah organik rumah tangga. Tanpa paralon, biaya jauh lebih murah dan penerapannya lebih mudah direplikasi di rumah masing-masing.

Erwan juga sempat menjelaskan secara ringkas namun sistematis: mulai dari konsep biopori, cara membuat lubang yang benar, lokasi ideal, hingga jumlah biopori yang dibutuhkan untuk luasan tertentu. Ia juga membagikan contoh penerapan nyata, salah satunya di Kompleks AKMIL Magelang, yang telah lebih dulu mempraktikkan LRB sesuai konsep aslinya.

Antusiasme peserta ternyata tidak berhenti di halaman kampus. “Banyak yang pesan alat bor-nya, buat bikin lubang resapan biopori di rumah,” lapor  Fian Damasdino, koordinator kegiatan ini.

Permintaan itu menjadi indikator keberhasilan kegiatan. Pengetahuan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berlanjut menjadi rencana aksi di lingkungan masing-masing.

Bagi STP AMPTA Yogyakarta, kegiatan ini selaras dengan semangat pariwisata berkelanjutan.  Bahwa kampus pariwisata pun perlu memberi contoh praktik ramah lingkungan, dimulai dari hal paling sederhana.

Bor tanah pun terus berpindah tangan. Lubang-lubang kecil tercipta, namun dampaknya diharapkan besar. Dari halaman kampus, pesan itu mengalir: menjaga lingkungan tidak harus mahal, tidak harus rumit.  Asal mau bergerak.

Dan pertanyaannya kini bergeser ke kampus lain: ada yang mau bikin Lubang Resapan Biopori juga? (art)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *