BANTUL – Pameran seni rupa bertajuk “Kembali ke Habitat” menjadi penanda penting bagi perjalanan kreatif Tri Wiyono. Seorang perupa sekaligus pendidik yang selama puluhan tahun mengabdikan diri sebagai guru di MTsN 4 Bantul. Pameran yang dibuka pada 17 Januari 2026 ini bukan sekadar agenda seni, melainkan momentum “pulang” seorang seniman ke jati dirinya.
Tri Wiyono, alumnus IKIP Yogyakarta (kini Universitas Negeri Yogyakarta/UNY), selama ini dikenal luas melalui karya-karya patungnya. Ia aktif berpameran bersama berbagai kelompok seni, di antaranya Termos85 dan GoART Jogja. Namun di balik reputasinya sebagai pematung, Tri menyimpan kerinduan lama pada dunia gambar—medium awal yang membentuk kecintaannya pada seni rupa.
“Dulu saya senang menggambar. Dari sanalah kecintaan pada seni rupa tumbuh. Sekarang rasanya seperti kembali ke rumah,” ujar Tri Wiyono.
Pameran “Kembali ke Habitat” di Omah DhogK Art, 17-30 Januari 20266 ini, merepresentasikan fase baru sekaligus awal yang lama tertunda. Meski telah memasuki masa pensiun sebagai guru, Tri menegaskan bahwa semangatnya untuk berbagi pengetahuan dan menumbuhkan apresiasi seni di tengah masyarakat tidak pernah padam. Justru setelah pensiun, ia merasa memiliki ruang yang lebih lapang untuk kembali aktif berkesenian.
“Walaupun sudah pensiun, saya tetap ingin memberi pendidikan dan apresiasi kepada masyarakat melalui seni,” tuturnya.
Judul pameran “Kembali ke Habitat” dipilih bukan tanpa alasan. Ia menggambarkan perasaan bahagia dan antusias saat kembali berproses kreatif, khususnya menggambar. Bagi Tri, seni bukan sekadar aktivitas estetik, melainkan habitat –ruang hidup yang membentuk cara berpikir, merasakan, dan berinteraksi dengan dunia.
Pameran ini mendapat dukungan luas dari jejaring seni dan pendidikan yang selama ini membersamai perjalanan hidup Tri Wiyono. Rekan-rekan seniman dari kelompok Termos85 dan GoART Jogja turut nyengkuyung terselenggaranya pameran. Tak hanya itu, para alumni dan siswa MTsN 4 Bantul, tempat Tri mengabdi sebagai guru, juga terlibat aktif sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya di dunia pendidikan.
“Kami merasa punya ikatan emosional. Pak Tri bukan hanya mengajar, tapi menularkan semangat berkesenian dan keberanian berekspresi,” ungkap salah satu alumnus MTsN 4 Bantul.
Momen pembukaan pameran pun menyimpan kisah menarik. Awalnya, pameran direncanakan dibuka secara sederhana oleh sang istri. Namun rencana itu berubah setelah sang istri justru menolak dan mengusulkan agar pembukaan dilakukan secara lebih resmi. Dalam perkembangannya, pembukaan pameran direncanakan akan dilakukan oleh Bupati Bantul, sebagaimana disampaikan oleh pihak kelurahan setempat.
Tanggal 17 Januari 2026 dipilih sebagai penanda simbolik: titik awal Tri Wiyono untuk kembali menapaki dunia seni rupa secara aktif. Bagi Tri, pameran ini bukan puncak, melainkan awal dari perjalanan baru—atau lebih tepatnya, perjalanan lama yang dihidupkan kembali.
Melalui “Kembali ke Habitat”, Tri Wiyono mengirim pesan kuat bahwa seni tidak mengenal usia pensiun. Selama hasrat berkarya masih menyala, seniman akan selalu menemukan jalannya untuk pulang ke habitatnya.(wid)
