Satu gang di Jalan Karanglo, Kampung Purbayan, Kotagede, Yogyakarta, sore itu terasa berbeda. Di salah satu sudut kampung wisata yang dikenal dengan jejak sejarah dan denyut tradisinya, sebuah ruang seni baru resmi dibuka: Galeri Aileen. Bukan sekadar galeri pamer, ruang ini memadukan galeri seni, koleksi vintage, benda antik, dan batik sekaligus menjadi ruang perjumpaan lintas generasi.
PERESMIAN Galeri Aileen dilakukan oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, Rabu (7/1/2026), disaksikan para seniman, pegiat seni, warga kampung, serta undangan dari berbagai kalangan. Suasana pembukaan terasa hangat, akrab, sekaligus istimewa. Sebuah perayaan seni yang tumbuh dari kampung.
Acara dibuka dengan suguhan tari yang langsung mencuri perhatian. Dua penari cilik berbakat, El Nathan dan Jo Nathan, tampil memukau lewat gerak yang lincah dan ekspresif. Keduanya belakangan viral di media sosial berkat video-video tarian mereka yang memadukan tradisi dan ekspresi kekinian. Tepuk tangan panjang mengiringi penampilan pembuka tersebut, seolah menjadi penanda bahwa panggung hari itu memang milik anak-anak berbakat.
Dalam sambutannya, Wawan Harmawan menyampaikan apresiasi atas kehadiran Galeri Aileen di kawasan Kotagede. Menurutnya, ruang seni seperti ini memperkuat Yogyakarta sebagai kota budaya yang terus hidup dan berkembang, tidak hanya di pusat kota, tetapi juga di kampung-kampung wisata.
“Ini contoh nyata bagaimana kampung bisa menjadi ruang kreatif yang tumbuh dari warga, dari keluarga, dari anak-anak. Yogyakarta membutuhkan ruang-ruang seperti ini,” ujarnya. Wawan menambahkan saat ini Yogya dikembangkan menjadi Kota Sinema. Sejumlah tempat di kota ini menarik para sineas untuk membuat film.
“Semoga tidak hanya Bali yang didatangi Julia Roberts. Yogya pun bisa menarik artis terkenal untuk membuat film di sini, “ kata Wawan.
Pembukaan Galeri Aileen sekaligus pameran tunggal Aileen. Menampilkan sekitar lima puluh karya lukis milik Aileen Nathania Pranata, pelukis cilik berusia 11 tahun. Meski usianya masih belia, Aileen bukan nama baru di dunia seni rupa. Ia telah beberapa kali mengikuti pameran bersama, bahkan beberapa kali menggelar pameran tunggal. Pencapaian yang membuat banyak seniman senior tersenyum kagum.
Karya-karya Aileen yang dipajang menunjukkan keragaman tema dan gaya. Ada lukisan bergaya anime dan komik Jepang, ada pula karya yang merekam Sumbu Filosofi Yogyakarta, sebuah konsep ruang budaya yang menjadi identitas kota. Namun satu tema tampak paling dominan dan konsisten: perempuan berkebaya.
Perempuan-perempuan dalam lukisan Aileen hadir dengan ekspresi lembut, anggun, sekaligus kuat. Kebaya digambarkan bukan sekadar busana tradisional, melainkan simbol identitas dan keindahan perempuan Nusantara.
Menurut sang ibu, Mawar Dyah Kusumawati, ketertarikan Aileen pada perempuan berkebaya tumbuh secara alami. “Sejak kecil Aileen memang senang melihat perempuan berkebaya. Dia suka menggambar perempuan, dan kebaya itu seperti sudah menyatu dengan imajinasinya,” tutur Dyah.
Galeri ini pun tidak hanya menawarkan pengalaman visual, tetapi juga pengalaman rasa. Para tamu disuguhi makanan tradisional, termasuk kudapan khas Kampung Wisata Purbayan, kembang waru. Aroma jajanan pasar berpadu dengan nuansa seni, menghadirkan atmosfer yang hangat dan membumi. Ciri khas perayaan budaya di Yogyakarta.
Sejumlah seniman ternama tampak hadir dan berbaur akrab dengan pengunjung. Di antaranya Nasirun, Pupuk DP, Wasis Subroto, dan sejumlah perupa lainnya. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan bentuk dukungan nyata terhadap tumbuhnya generasi seniman baru.
Nasirun, pelukis senior yang dikenal dengan gaya khas dan humor reflektifnya, turut memberi komentar spontan yang langsung disambut gelak tawa hadirin. “Karya Aileen keren-keren. Umur 11 tahun saya dulu baru bisa apa ya?” ujarnya, disambut tawa para tamu.
Komentar tersebut terasa ringan, namun menyimpan pengakuan tulus atas kualitas karya yang ditampilkan. Bagi banyak pengunjung, melihat lukisan-lukisan itu bukan hanya soal teknik, tetapi juga tentang keberanian berekspresi di usia sangat muda.
Usai peresmian, Wawali Yogyakarta bersama para tamu berkeliling galeri. Mereka menyusuri dinding demi dinding, mengamati karya Aileen yang dipajang berdampingan dengan koleksi vintage dan benda-benda antik. Perpaduan itu menciptakan dialog menarik antara masa lalu, masa kini, dan masa depan—antara tradisi, benda, dan imajinasi anak.
Galeri Aileen menjadi penanda bahwa seni tidak selalu harus lahir dari gedung besar atau nama besar. Ia bisa tumbuh dari rumah, dari kampung, dari keluarga yang memberi ruang bagi anak untuk berekspresi.
Di Kampung Purbayan, seni hari itu bukan hanya dipamerkan. Ia dirayakan –dengan tarian, tawa, kebaya, batik, kembang waru, dan keyakinan bahwa masa depan seni rupa Indonesia sedang bertunas dengan cara yang sederhana, jujur, dan penuh harapan. Semoga.
Selamat untuk Aileen. (erwan w)
