Penguatan Konektivitas RI-Kanada, Dubes Muhsin Usul Sejumlah Langkah. Apa Saja?

Headline


Henry Ford, pendiri perusahaan otomotif dunia, pernah mengatakan, “Coming together is a beginning; keeping together is progress; working together is success” (Bersatu adalah permulaan, tetap bersama adalah kemajuan; bekerja bersama adalah keberhasilan).

Kutipan tersebut terasa relevan untuk menggambarkan hubungan Indonesia dan Kanada, khususnya dengan Provinsi British Columbia (BC), yang kian hangat.

Dalam siaran persnya, KBRI Ottawa mengabarkan pertemuan beberapa hari lalu di kota Victoria, Menteri Pekerjaan dan Pertumbuhan Ekonomi BC, Ravi Kahlon, menyampaikan kegembiraannya atas penandatanganan Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA).

Dia bahkan telah merencanakan kunjungan ke Indonesia tahun depan untuk menjajaki peluang investasi dan kerja sama ekonomi yang lebih besar.

Pernyataan tersebut disampaikan Kahlon saat menerima Duta Besar RI untuk Kanada, Muhsin Syihab, bersama Konsul Jenderal RI Vancouver, Nina Kurnia Widhi. Pertemuan berlangsung di Gedung Parlemen Provinsi BC dan juga dihadiri oleh Sekretaris Parlemen Bidang Perdagangan, Paul Choi.

Dalam kesempatan terpisah, Dubes Muhsin dan Konjen Nina juga bertemu Ketua DPR Provinsi BC, Raj Chounan.  Salah satu topik utama yang mengemuka adalah tindak lanjut hasil kunjungan Presiden RI ke Ottawa pada 24 September 2025.

Kunjungan tersebut telah membuka ruang besar untuk kolaborasi konkret, mulai dari perdagangan, investasi, hingga pendidikan dan pertukaran budaya.

”Terdapat banyak cara untuk semakin mendekatkan hubungan kedua masyarakat, salah satunya adalah melalui pembentukan kota kembar/provinsi kembar. Saya harapkan hal ini menjadi salah satu yang dapat dijajaki,” papar Raj Chounan.

Lebih lanjut, ia menyampaikan pentingnya menggunakan festival-festival seni budaya sebagai wahana untuk semakin meningkatkan hubungan antara Indonesia dan BC.

Sementara itu, Dubes Muhsin kepada para pejabat Provinsi BC tersebut menekankan bahwa Indonesia dan Kanada memiliki banyak kesamaan yang bisa menjadi fondasi kerja sama yang lebih kuat—dari garis pantai yang panjang, kekayaan hutan, hingga komitmen terhadap nilai-nilai demokrasi.

Dubes Muhsin juga menyoroti perlunya penguatan konektivitas masyarakat melalui program pertukaran mahasiswa, kolaborasi seni budaya, dan peningkatan intensitas kunjungan pejabat pemerintah serta parlemen. Ia bahkan mengusulkan pembentukan grup persahabatan antarlembaga legislatif untuk mempererat komunikasi.

“Kunjungan pejabat pada tingkat tinggi seperti Menteri yang membawa delegasi bisnis ke Indonesia, akan memberikan pesan kuat bahwa Kanada, khususnya Provinsi BC, berkomitmen serius dalam memperkuat hubungan dengan Indonesia”, tegas Dubes Muhsin.

Provinsi BC selama ini dikenal sebagai salah satu mitra penting Indonesia di Kanada, baik dalam ekonomi maupun hubungan sosial budaya. Pada 2024, nilai perdagangan Indonesia–BC mencapai USD 654,51 juta, menjadikan Indonesia mitra dagang terbesar BC di ASEAN setelah Vietnam, Thailand, dan Kamboja. Meskipun cukup besar, angka ini dianggap masih belum mencerminkan potensi sebenarnya.

“Nilai perdagangan Indonesia-BC saat ini belum mencerminkan potensi yang tersedia. Untuk itu, ICA-CEPA dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mengakselerasi kerja sama ekonomi, termasuk perdagangan”, timpal Konjen Nina di akhir pertemuan. (wid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *