Oleh: Erwan Widyarto

“Air hujan adalah pesan cinta langit kepada bumi. Tapi jika bumi tak membuka hati, pesan itu lewat begitu saja, hilang tanpa makna.”
MUSIM kemarau kembali datang, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, kekeringan merambat ke berbagai sudut negeri. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan bencana hidrometerologi ini. (Kedaulatan Rakyat 14/7/25)
Ladang retak, sumur mengering, dan antrean air bersih kembali jadi rutinitas yang melelahkan. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, hujan tercurah begitu deras. Banjir, genangan, dan limpasan air melimpahi kota dan desa—namun semuanya lewat tanpa sempat disimpan.
BACA JUGA: Mengembalikan Makna Pariwisata Lewat Slow Tourism
Masalah kekeringan bukan semata tentang kekurangan hujan, tetapi lebih pada ketidakmampuan kita menyimpan air saat berlimpah. Air hujan hanya numpang lewat karena tanah kita tak lagi mampu menerima. Di sinilah kita perlu kembali mengenalkan solusi sederhana namun revolusioner: Lubang Resapan Biopori (LRB).
Apa Lubang Resapan Biopori
Lubang Resapan Biopori adalah lubang vertikal dengan diameter sekitar 10–15 cm dan kedalaman 80–100 cm, yang dibuat di tanah dan diisi sampah organik. Lubang ini menciptakan pori-pori alami yang memudahkan air meresap ke dalam tanah, memperkaya cadangan air tanah, dan menyuburkan ekosistem mikro di bawah permukaan.
BACA JUGA : Tantangan Pengembangan Desa Wisata di DIY
Teknologi ini diperkenalkan oleh Prof. Dr. Kamir Brata dari IPB—sebuah cara meniru kerja alami hutan dan tanah yang sehat. Biopori memungkinkan air hujan masuk perlahan ke perut bumi, bukan hanyut di permukaan lalu menghilang. Air disambut, bukan diusir.
Apa dampaknya?
Pertama, biopori memperkuat cadangan air tanah, sangat vital bagi masyarakat yang bergantung pada sumur dangkal. Setiap tetes hujan yang meresap jadi investasi air bersih di masa depan.
Kedua, lubang resapan biopori mengurangi banjir dan genangan. Saat tanah kembali berpori, ia bisa menerima air lebih cepat dan lebih banyak, mengurangi beban saluran drainase dan memperlambat limpasan air permukaan.
Ketiga, lubang resapan biopori adalah teknologi rakyat. Tidak mahal. Tidak rumit. Bisa dibuat sendiri oleh warga, sekolah, komunitas, atau RT. Satu rumah saja bisa membuat 4–6 titik biopori di halaman. Bayangkan jika satu kampung serempak membuatnya—kita sedang membangun ribuan titik resapan tanpa alat berat.
Sayangnya, dalam tata kota dan kebijakan lingkungan, biopori kerap tak dianggap seksi. Ia kalah gaung dibanding proyek-proyek infrastruktur besar yang menghabiskan anggaran miliaran. Padahal, dalam diamnya, lubang resapan biopori bekerja: menyerap, menyimpan, menjaga air.
Ubah Cara Pandang
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Hujan bukan masalah. Hujan adalah anugerah—jika kita tahu cara menyambutnya. Jika lubang resapan biopori ditanamkan dalam program wajib sekolah, syarat izin bangunan, dan gerakan kolektif masyarakat, kita bisa perlahan mengatasi ketimpangan antara musim basah dan musim kering.
Hujan adalah rahmat.
Dan rahmat itu benar-benar terwujud jika kita Resapkan Air Hujan Menjadi Air Tanah.
Kebiasaan kita selama ini yang mempersilakan air hujan segera lari, pergi ke selokan, ke saluran drainase, harus segera diubah. Buat lubang resapan biopori, agar air tidak lari. Agar saat kemarau, tanah tidak parau.
“Jangan salahkan langit karena tidak memberi hujan, jika kita sendiri tidak menyiapkan wadah untuk menerimanya.”
Lubang Resapan Biopori adalah wadah kecil untuk mimpi besar: tanah yang hidup, air yang cukup, dan masa depan yang lestari.***
*) Erwan Widyarto, Sekretaris Paguyuban Bank Sampah DIY, salah satu inisiator Gerakan Sejuta Lubang Biopori untuk DIY.