Oleh-Oleh dari ANTB 2026
Ketika Desa Wisata DIY Berusaha Memikat Jepang dengan Paket Wisata Keluarga

ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ


Di sebuah ruang pertemuan di Naha, Okinawa, awal Februari lalu, layar presentasi menampilkan sawah hijau, anak-anak memegang caping, dan ibu-ibu desa tersenyum sambil menunjukkan kerajinan dari kain perca. Di forum Asia New Travel Bootcamp (ANTB) 2026 itu, nama Yogyakarta disebut bukan sebagai kota wisata biasa, melainkan sebagai rumah bagi desa-desa yang sedang menumbuhkan masa depan pariwisata yang lebih sadar.

Adalah Insan Wisata Kids yang membawa cerita itu ke Jepang, 5–6 Februari 2026. Mereka hadir mewakili Indonesia dalam forum yang mempertemukan travel innovators dan pelaku industri pariwisata Asia. Namun yang mereka bawa bukan sekadar brand, melainkan desa.

Dari Yogyakarta ke Okinawa

Perjalanan menuju Okinawa berawal dari program Wonderful Indonesia Scale-up Hub (WISH) 2025 yang digagas Kementerian Pariwisata. Dalam kurasi nasional itu, Insan Wisata Kids terpilih sebagai salah satu dari 25 pelaku usaha terbaik.

Dari sana, langkah mereka meluas ke forum internasional seperti Asia New Travel Bootcamp (ANTB) 2026. Tapi yang menarik, mereka tidak datang membawa presentasi tentang angka kunjungan atau proyeksi omzet. Mereka membawa paket desa wisata dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)—lengkap dengan cerita pendampingan, dialog, dan proses co-creating bersama masyarakat.

“Kami membawa paket-paket wisata dari desa dan kampung wisata di DIY yang telah melalui proses pendampingan selama dua tahun. Produk-produk ini lahir dari kolaborasi bersama masyarakat lokal,” ujar Co-Founder Insan Wisata Kids, Hannif Andy.

Di forum itu, desa tidak ditempatkan sebagai objek kunjungan, tetapi sebagai subjek yang ikut merancang pengalaman.

Desa sebagai Pusat Inovasi

Sejak 2024, sejumlah desa dan kampung wisata di DIY menjalin kerja sama melalui nota kesepahaman untuk mengembangkan wisata berbasis pengalaman. Program dirancang, diuji, lalu diperbaiki bersama. Bukan sekadar “paket jadi”, melainkan proses yang tumbuh dari percakapan panjang.

Hasilnya adalah edutrip yang mengajak anak dan keluarga berinteraksi langsung dengan kehidupan desa. Anak-anak belajar bagaimana padi ditanam, bagaimana makanan diproses, bagaimana sampah bisa diolah menjadi produk kreatif.

Dari Kampung Wisata Suryatmajan dan Kampung Wisata Cokrodiningratan, misalnya, lahir produk kreatif dari limbah kain perca dan botol plastik. Limbah yang sebelumnya dianggap tak bernilai diubah menjadi suvenir dan produk dekoratif. Prinsip regeneratif—menjaga alam, merawat budaya, memberdayakan masyarakat—tidak berhenti pada slogan.

Di Okinawa, contoh-contoh konkret ini justru memantik perhatian.

Edukasi Anak, Jalan Masuk Masa Depan

Salah satu yang membuat model ini relevan adalah fokusnya pada anak usia 2,5 hingga 12 tahun bersama keluarga. Edukasi menjadi pintu masuk perubahan.

Dalam sesi diskusi, Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani, menyoroti pendekatan tersebut.

Ia mencontohkan hal sederhana: nasi di meja makan. Banyak anak sulit makan atau tidak menghargai makanan. Lewat pengalaman di desa—dari sawah hingga menjadi nasi—anak belajar memahami proses. Dari sana tumbuh empati pada pangan dan lingkungan.

Model ini berbicara pada kegelisahan zaman. Wisata bukan lagi soal berpindah tempat, tetapi tentang makna dan dampak.

Jepang Menoleh ke Desa DIY

Forum ANTB membuka peluang jejaring internasional. Sejumlah pelaku industri dari Jepang dan negara Asia lain menunjukkan minat pada model kolaborasi berbasis desa yang dikembangkan di DIY. Wacana pertukaran budaya (cultural exchange) untuk anak dan keluarga mulai dibicarakan.

Ini bukan sekadar potensi pasar baru. Ini pengakuan bahwa desa wisata di Yogyakarta punya daya saing regional—khususnya di segmen wisata edukatif keluarga yang bertanggung jawab.

Di tengah tren wisata global yang makin kritis terhadap dampak lingkungan, konsep regeneratif yang dibawa Insan Wisata Kids terasa relevan. Mereka tidak hanya menawarkan “low impact tourism”, tetapi perjalanan yang memberi nilai tambah bagi desa.

Cerita yang Menembus Batas

Keikutsertaan di Okinawa menjadi lebih dari sekadar partisipasi event. Ia menjadi ruang promosi bagi desa-desa DIY—bagi para pengrajin, petani, ibu-ibu pengolah limbah, dan anak-anak yang kini belajar menghargai proses kehidupan.

Transformasi pariwisata Indonesia, seperti yang terlihat di panggung kecil Okinawa itu, ternyata bisa berawal dari dialog sederhana di balai desa. Dari dua tahun pendampingan yang konsisten. Dari keberanian menempatkan masyarakat sebagai mitra sejajar.

Di Naha, paket wisata DIY diperkenalkan bukan hanya sebagai destinasi, tetapi sebagai gambaran masa depan: pariwisata yang lebih sadar, inklusif, dan berdampak.

Dan mungkin, dari desa-desa di Yogyakarta itulah, arah baru pariwisata Asia sedang pelan-pelan ditulis. (wid)

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *