JAKARTA – Di tengah tantangan kota besar yang kian kompleks –kemacetan, polusi, hingga kebutuhan mobilitas yang terus meningkat– sebuah kabar baik datang dari panggung nasional. Di Grand Studio Metro TV, sorot lampu Indonesia Top Achievements of the Year (ITAY) 2026 mengarah pada satu nama: PT (Perseroda) Jakarta Propertindo atau JakPro.
BUMD milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta ini membuktikan bahwa perusahaan daerah bukan sekadar pelaksana proyek, melainkan motor transformasi kota. Apa yang dicapai JakPro bisa menjadi inspirasi bagi BUMD lain yang juga mengelola transportasi massal.
Dua Penghargaan, Satu Pesan Kuat
Dalam ajang ITAY 2026, JakPro meraih dua penghargaan sekaligus: Pertama, Urban Mass Transportation Infrastructure Excellence Award 2026 (Kategori Perusahaan) dan kedua Transformational Leadership in Urban Infrastructure Award 2026 (Kategori Kepemimpinan)
Penghargaan kepemimpinan diterima langsung oleh Direktur Utama JakPro, Iwan Takwim. Momen itu bukan hanya seremoni simbolik. Ia menjadi penegasan bahwa keberhasilan infrastruktur publik lahir dari kepemimpinan yang berani mengambil arah dan konsisten menjaga tata kelola.
Dewan juri ITAY menilai JakPro berhasil menunjukkan kapasitas sebagai pengembang sekaligus pengelola proyek infrastruktur strategis, khususnya dalam pembangunan dan pengembangan LRT Jakarta.
Keberhasilan operasional LRT Jakarta Fase 1A dan progres Fase 1B menjadi bukti nyata. Namun lebih dari sekadar rel dan rangkaian kereta, yang dinilai adalah visi integratifnya. JakPro mendorong pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD)—membuat transportasi massal bukan hanya alat berpindah, tetapi pusat kehidupan urban.
Transportasi menjadi simpul ekonomi. Stasiun menjadi ruang hidup. Kawasan sekitar menjadi titik tumbuh baru.
Di sinilah letak inspirasi besarnya.
Tata Kelola yang Jadi Fondasi
Keberhasilan itu tidak berdiri sendiri. Ada penguatan tata kelola proyek dan manajemen risiko. Ada optimalisasi aset daerah agar pembiayaan berkelanjutan. Ada kolaborasi lintas institusi—dari Pemprov DKI hingga BUMN dan mitra swasta.
Salah satu dewan juri, Martani Huseini, menegaskan, “Transportasi massal adalah tulang punggung kota modern. JakPro menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur publik memerlukan kepemimpinan yang visioner dan tata kelola yang kuat.”
Founder ITAY, Arief Hidayat Thamrin, juga menambahkan bahwa penghargaan diberikan kepada institusi yang mampu menjaga kesinambungan proyek strategis daerah—dan JakPro dinilai konsisten dalam komitmen tersebut.
Proses penjurian sendiri dilakukan independen dan berbasis data, dengan lima kriteria utama: Prestasi, Inovasi, Transformasi, Kompetensi Inti, dan Kontribusi. Artinya, ini bukan penghargaan seremonial, melainkan hasil evaluasi berbasis dampak publik.
Inspirasi untuk BUMD Daerah Lain
Keberhasilan JakPro menghadirkan pesan yang lebih luas: BUMD bisa menjadi lokomotif perubahan, bukan sekadar entitas administratif.
Ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil BUMD di daerah lain yang mengelola transportasi massal.
Pertama, visi jangka panjang lebih penting dari proyek jangka pendek. Infrastruktur bukan proyek lima tahunan. Ia adalah investasi lintas generasi.
Kedua, integrasi adalah kunci. Transportasi massal harus terhubung dengan tata ruang, kawasan ekonomi, dan pola hunian. TOD bukan sekadar istilah, melainkan strategi penguatan ekosistem kota.
Ketiga, tata kelola menentukan kepercayaan. Transparansi, manajemen risiko, dan pengelolaan aset yang terukur akan menentukan keberlanjutan pembiayaan.
Keempat, kolaborasi melampaui ego institusi. Transportasi publik tidak bisa berdiri sendiri. Sinergi dengan pemerintah daerah, BUMN, swasta, dan masyarakat adalah keniscayaan.
Di banyak daerah, transportasi massal masih bergulat pada isu klasik: keterbatasan anggaran, rendahnya okupansi, hingga lemahnya integrasi. Model yang ditunjukkan JakPro memperlihatkan bahwa dengan tata kelola yang kuat dan kepemimpinan yang transformatif, BUMD mampu menjadi agen perubahan.
BUMD yang Bersinar
ITAY 2026 bukan sekadar trofi bagi JakPro. Ia adalah pengakuan bahwa BUMD dapat bersinar di panggung nasional, bahkan menjadi referensi praktik baik.
Di tengah kebutuhan mendesak akan kota yang lebih ramah, terintegrasi, dan berkelanjutan, JakPro memberi contoh bahwa transportasi massal bukan sekadar alat mobilitas, melainkan fondasi peradaban kota.
Dan mungkin, inilah saatnya BUMD lain di berbagai daerah, termasuk Daerah Istimewa Yogyakarta, mengambil inspirasi: membangun bukan hanya rel dan stasiun, tetapi kepercayaan, integritas, dan masa depan kota yang lebih tertata.(wid)
