7 Desa Wisata DIY Naik Kelas,  Mana Saja?

ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ ꦮꦶꦱꦠ

Penyerahan sertifikat klasifikasi desa wisata tahun 2025 di Dispar DIY. (Foto: Erwan W)

YOGYA – Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan klasifikasi terhadap 18 desa wisata (Deswita) dan kampung wisata (Kamwis) dari seluruh DIY. Klasifikasi yang dilakukan oleh Tim Pokja Klasifikasi dan Tim Auditor ini berlangsung tiga bulan, April-Juni 2025. Hasil klasifikasi disampaikan dalam acara Penyerahan Sertifikat di Aula Dispar DIY, Kamis (3/7).

“Setelah melakukan penilaian dan rapat koordinasi, hasilnya, dari 18 desa/kampung yang diklasifikasi ada tujuh yang naik kelas, sepuluh tetap dan satu desa turun klas. Pesan saya, untuk yang turun klas, tetap semangat. Ibarat mundur sejenak untuk melompat lebih jauh,“ pesan Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi dalam sambutannya.

Imam melanjutkan, berbeda dengan tahun lalu, untuk tahun ini semua peserta akan mendapatkan rekomendasi dari Tim Pokja. Dikatakan, rekomendasi Tim Pokja untuk setiap desa wisata atau kampung wisata ini hendaknya dijadikan pijakan dalam pengembangan desa wisata kampung wisata ke depan.

“Untuk hasil klasifikasi, siapa yang naik kelas, siapa yang tetap, kami minta Ketua Tim Pokja Gusti Bendara yang menyampaikan, “ ujar Imam yang saat itu didampingi GKR Bendara dan Kepala Bidang Sumberdaya Pariwisata (SDP) Dinas Pariwisata DIY Siti Inganati.

Sebelum membacakan hasil klasifikasi, Gusti Bendara memberikan motivasi kepada para pengelola desa/kampung wisata. Saat acara ini hadir 18 desa/kampung wisata yang diklasifikasi, wakil dari Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota di DIY, Tim Pokja maupun Tim Auditor Homestay Desa Wisata.

“Pertama saya salut dengan para pengelola desa atau kampong wisata karena memang tidak mudah mengelola banyak orang. Njenengan bisa bertahan itu sudah prestasi. Karena itu untuk yang naik kelas pertahankan kinerjanya dan utuk yang tetap dan yang turun kelas tingkatkan. Terus berjuang terutama di bulan Juni-Juli ini, “ pesan Gusti Bendara.

Bulan Juni-Juli yang dimaksud adalah momentum liburan sekolah. Diharapkan para pengelola desa wisata mengambil inisiatif menjaring tamu pada momen liburan ini. Meski situasi sedang tidak baik-baik saja, baik karena kebijakan pemerintahan baru maupun karena dinamika global.

Kepada yang turun kelas, Gusti Bendara berpesan agar jangan berkecil hati untuk terus berjuang. Sedang untuk yang naik kelas, dia mengingatkan bahwa tanggung jawabnya semakin besar. Harus terus bergerak akan jumlah kunjungan terus meningkat.

BACA JUGA : Jaga Mutu, Dispar DIY Klasifikasi 18 Desa Wisata

Dari 18 desa/kampung wisata, Gusti Bendara memilih membacakan yang naik kelas saja. Dimulai dari Kota Yogya, Kampung Wisata Kauman dari rintisan menjadi berkembang. Dari Kabupaten Bantul, dari dua yang diklasifikasi, dua-duanya naik kelas. Desa Wisata Bumi Mataram Plered dari berkembang menjadi maju dan Desa Wisata Jagalan dari rintisan menjadi berkembang.

Dari Gunungkidul ada Dewi Kampus (Desa Wisata Kampung Madani Tepus) dan Dewi Kapulut (Desa Wisata Pulutan) yang naik kelas. Keduanya dari berkembang menjadi maju. Sedangkan dari Kabupaten Sleman ada satu yang naik kelas yakni Desa Wisata Embung Opak (Sorasan) dari rintisan menjadi berkembang.

“Terakhir, dari Kabupaten Kulonprogo ada Desa Wisata Gulurejo dari rintisan menjadi berkembang. Sekali lagi selamat untuk yang naik kelas. Terus semangat,“ ucap Putri Bungsu Raja Keraton Yogya yang juga Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY ini.

Klasifikasi yang dilakukan Tim Pokja Desa Wisata DIY ini meliputi delapan aspek dalam pengelolaan desa wisata. Mulai dari Kelembagaan, Peran Serta Masyarakat, Kemitraan, Lingkungan dan Pelestarian, Amenitas, Atraksi, Aksesibilitas, Pemasaran dan Promosi. Sedangkan untuk homestay tiga aspek, Produk, Layanan dan Pengelolaan.

Klasifikasi merupakan bentuk penjaminan mutu pengelolaan desa wisata yang sesuai dengan Peraturan Gubernur DIY nomor 40 tahun 2020. Tim Pokja terdiri dari unsur akademisi, komunitas, industri, dan media. (wid)

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *