
Headline Kedaulatan Rakyat edisi 14 Juli 2025 memuat peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) tentang potensi bencana hidrometeorologi. Termasuk kekeringan yang mengancam sejumlah wilayah di Jawa Tengah seperti Boyolali, Jepara, dan Wonogiri. Peringatan ini bukan hanya alarm cuaca, tapi juga panggilan untuk segera berbenah dalam mengelola air dan lingkungan secara lebih adaptif.
Di tengah tantangan iklim yang kian tak menentu, kita tidak bisa lagi bergantung semata pada pendekatan reaktif seperti bantuan air bersih ketika krisis datang. Diperlukan solusi yang bersifat preventif, berbasis komunitas, dan bisa diterapkan secara luas. Salah satu yang layak diperhitungkan adalah lubang resapan biopori (LRB).
Lubang resapan biopori (LRB) bukanlah teknologi baru. Ia diperkenalkan oleh peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) sejak awal 1990-an, Prof Kamir R Brata. Sejumlah kepala daerah pernah membuat gerakan untuk memassalkan LRB ini. Ridwan Kamil saat menjadi Walikota Bandung pernah menginisiasi Gerakan Sejuta Biopori. Walikota Surabaya Tri Rismaharini juga pernah mengadakan gerakan yang sama. Mereka sudah memetik hasilnya.
Teknologi LRB ini memang sangat relevan untuk menghadapi ancaman kekeringan maupun banjir. Itu dua wajah dari persoalan yang sama: ketidakmampuan tanah menyerap air secara optimal.
Apa itu LRB?
Lubang resapan biopori (LRB) adalah lubang silindris dengan diameter sekitar 10 cm dan kedalaman 100 cm yang dibuat vertikal ke dalam tanah. Lubang ini kemudian diisi dengan sampah organik seperti daun kering atau sisa dapur. Seiring waktu, sampah itu akan membusuk dan menjadi pakan bagi organisme tanah seperti cacing dan mikroba, yang akan membuat saluran-saluran kecil di tanah yang disebut biopori. Biopori ini fungsinya meningkatkan daya serap air secara alami.
Dengan membuat banyak LRB di pekarangan, lahan pertanian, bahkan lahan sempit perkotaan, kita membantu air hujan meresap ke dalam tanah. Bukan mengalir sia-sia ke selokan atau menyebabkan genangan. Saat musim hujan, biopori menyimpan air di dalam tanah. Saat kemarau, cadangan air itu menjadi penyelamat bagi tanaman, kebun, dan bahkan sumber air sumur warga.
Dari Rumah ke Desa
Di tengah ancaman kekeringan, langkah konkret bisa dimulai dari rumah sendiri. Di Boyolali, Jepara, atau Wonogiri, pemerintah desa, sekolah, dan kelompok masyarakat bisa memulai gerakan lubang biopori rakyat. Setiap rumah membuat minimal lima lubang resapan biopori di pekarangan. Lahan kosong milik desa, lapangan, bahkan makam dan pinggir jalan bisa dimanfaatkan untuk biopori massal.
Biaya pembuatannya murah. Tanpa paralon tanpa semen. Hanya mengebor tanah. Alat bor biopori bisa dibuat dari pipa besi yang dimodifikasi. Isi lubang juga bukan barang mahal, tapi sampah organik. Satu hal yang justru sering menjadi masalah tersendiri. Di sinilah letak keunggulan LRB: ia menggabungkan solusi lingkungan dan pengelolaan sampah organik dalam satu langkah.
Satu lubang resapan biopori mungkin tampak sepele—hanya satu lubang kecil di halaman rumah. Namun di balik kesederhanaannya, ia menyimpan daya serap luar biasa: sekitar 4 liter air per menit saat kondisi optimal. Itu berarti, dalam satu jam hujan deras, satu lubang bisa menyerap hingga 240 liter air, yang seharusnya mengalir liar di permukaan, masuk ke selokan, atau bahkan meluap ke jalan.
Satu lubang biopori ukuran diameter 10 cm kedalaman 100 cm juga bisa menampung antara 2,5 – 5,5 kg sampah organik dalam sekali isi.
Sekarang bayangkan jika satu RT memiliki 100 lubang biopori. Maka akan ada kapasitas resapan sekitar 400 liter per menit—air hujan yang tidak lagi menjadi limpasan, tetapi kembali ke perut bumi, memperkaya cadangan air tanah, memberi makan mikroorganisme, dan menyuburkan tanah. Dalam sejam, angka ini mencapai 24.000 liter, atau 24 kubik air.
Dan akan ada 250 -550 kg sampah organik yang bisa tertangani. Dan itu baru satu RT. Semakin banyak lubang, semakin besar sampah organik terselesaikan.
Saatnya Mendayung Sebelum Ombak
Dalam konteks kebijakan, LRB bisa dimasukkan sebagai salah satu indikator desa/kelurahan tangguh bencana atau program ketahanan air. Dana desa dapat dimanfaatkan untuk pelatihan, penyediaan alat bor, dan pemantauan dampaknya. Pemerintah daerah bisa menetapkan target LRB per desa, sambil menggandeng sekolah, kampus, pesantren atau gereja sebagai motor penggerak edukasi lingkungan.
Dalam jangka panjang, lubang biopori bukan hanya menekan risiko kekeringan, tapi juga memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kesuburan, dan menjaga air tanah dari penurunan muka air secara ekstrem. Ketika musim kemarau datang, desa-desa yang punya banyak lubang resapan biopori akan lebih tahan menghadapi krisis.
Peringatan BMKG seharusnya tak lagi kita sikapi sebagai berita biasa. Ia adalah isyarat untuk berubah. Kekeringan bukan semata soal cuaca, tapi juga cermin dari kegagalan kita menyimpan air dengan bijak saat air melimpah.
Lubang Resapan Biopori adalah contoh bahwa solusi besar bisa datang dari hal sederhana. Ia bukan teknologi luar angkasa, tapi lahir dari pemahaman terhadap siklus alam dan kearifan lokal. Teruji secara ilmiah akademik dan praktik sosial di masyarakat. Kini saatnya kita menggali lubang, bukan untuk mengubur harapan, tapi untuk menyimpan kehidupan. ***
Zaenal Mutakin, Ketua Paguyuban Bank Sampah DIY dan Salah Satu Inisiator Gerakan Sejuta Biopori untuk DIY.