REUNI 40 TAHUN FISIPOL86 UGM
Tak Sekadar Kumpul. Ada Launching Buku, Fesyen Show dan Layanan Adminduk.

Headline


Ada yang berbeda pada ajang Reuni 40 Tahun Fisipol UGM Angkatan 1986 pada 24-25 Juli 2026 dengan reuni pada umumnya. Reuni yang dihadiri 150-an lulusan dari enam jurusan di Fisipol UGM ini, tidak sekadar temu kangen, kumpul-kumpul, ngobrol dan menikmati menu khas Jogja.

Catatan: ERWAN WIDYARTO

ADA yang tidak biasa dilakukan di acara reuni kali ini. Pertama, ada stan layanan administrasi kependudukan (Adminduk), kedua ada fashion show memeragakan kain batik dan tenun dari UMKM Jogja dan ketiga, ada launching/peluncuran buku baru.

BACA JUGA: PAKET WISATA HINDIA BELANDA DI KASANINGRAT

Layanan Adminduk yang digelar di ruang Fisipol Information Center (FIC) bersama Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil DIY maupun Kabupaten Sleman, melayani beragam kebutuhan warga. Layanan tidak hanya dinikmati masyarakat umum, melainkan juga para alumni yang sedang reuni. Layanan Adminduk di hari libur ini atas inisiasi Dirjen Dukcapil Teguh Setyabudi, alumnus Pemerintahan angkatan 1986.

Seorang alumnus peserta reuni menikmati layanan Adminduk yang dibuka saat kegiatan Reuni 40 Tahun Fisipol UGM. (Foto: Erwan W)

Fesyen show atau peragaan busana hadir saat penampilan jurusan. Wakil dari jurusan Administrasi Negara (AN) memasuki panggung dengan format peragaan busana. Mantan Sekda Kabupaten Sleman Susmiarta menjadi salah satu peragawannya. Busana ini rancangan Theo Ridzky dari JunkQ Batik. Desainer Jogja ini alumnus AN angkatan 1986.

BACA JUGA: Pesona Kasaningrat Memikat Peserta Festival Layang-layang Internasional

Sedangkan peluncuran buku baru dilakukan oleh alumnus dari Jurusan Sosiatri, Jusra Abdi. Buku dengan judul Geopolitik Simbiosis Energi –Esai-esai Energi, Sumber Daya dan Iklim secara simbolis diserahkan kepada Dekan Fisipol UGM Wawan Masudi dan perwakilan dari enam jurusan peserta reuni.

Enam jurusan di Fisipol UGM tahun 1986 itu adalah Administrasi Negara (sekarang Manajemen Kebijakan Publik), Hubungan International, Ilmu Pemerintahan (Politik dan Pemerintahan), Ilmu Komunikasi, Sosiologi dan Sosiatri (Pembangunan Sosial dan Kemasyarakatan). Istilah jurusan, sekarang berubah menjadi departemen.

Penampilan perwakilan jurusan Administrasi Negara membawakan busana karya Theo Ridzky (JunkQ Batik).

Buku terbitan Mata Aksara Publishing ini merupakan kumpulan tulisan Jusra Abdi di berbagai media online seperti rmol.id dan cowasjp.com. Dalam pengantarnya, Jusra mengatakan mulai menulis saat pandemi Covid-19 menghampiri kehidupan kita.

BACA JUGA: Harga Sawi Anjlok, Takmir Borong ke Petani Kopeng

“Di tengah kegamangan tubuh dalam melawan virus Covid-19 itu, saya berusaha mengimbanginya dengan meramu olah gagasan mengenai isu-isu sumberdaya, energi dan iklim. Saya berusaha konsisten mengangkat tren actual di tiga isu tersebut,” ungkap pendiri Nusantara Circular Economy and Sustainability Initiatives (M-CESI) ini.

Sejumlah isu menarik diangkat dalam buku setebal hampir 300 halaman ini. Buku ini mencoba mengkritisi paradigma dominan tentang energi, sumberdaya dan iklim khususnya politik iklim.

Bisa dibaca dalam buku ini, isu seperti Krisis Energi Dunia Tahun 2021, Mobil Listrik dan Kiamat yang Datang Lebih Awal, Panjang Umur Batu Bara, Plastik; Kontroversi terhadap Pilar Peradaban, Sampah Plastik & The New Kids on The Block, Sampah Kota Dari Perpres ke Perpres dan Biodisel Penumpang Gelap Ekonomi Indonesia.

Dari kiri ke kanan, Ketua Panitia Reuni Teguh Setyabudi, Dekan Fisipol UGM Wawan Masudi dan Jusra Abdi saat launching buku.

Banyak pandangan kritis disampaikan Jusra yang bisa mengundang diskusi. Misalnya, dia sampaikan, batubara meski dikatakan energi kotor, ia memainkan peran penting dalam setiap bauran energi dan menjaga stabilitas jaringan.

“Dunia, yang selama tiga dekade rajin berpidato tentang transisi energi dan net-zero, tiba-tiba tersadar: ia belum kemana-mana. Ia masih berdiri di atas fondasi yang sama: hidrokarbon,” tegasnya.

Dikatakan, semua ini bukan sekadar krisis geopolitik. Ini adalah ujian realitas terhadap tesis besar dekarbonisasi — dan hasilnya sangat menyakitkan bagi mereka yang selama ini membangun narasi bahwa dunia sudah berada di jalur menuju masa depan bebas fosil.

Menurut Jusra, kesalahan konseptual terbesar dalam debat energi modern adalah menyamakan energi dengan listrik. Ketika politisi dan aktivis berbicara tentang dekarbonisasi, mereka hampir selalu berbicara tentang bagaimana menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar fosil dengan panel surya dan turbin angin. Ini adalah pemikiran yang, dalam istilah teknik, sangat tidak lengkap.

Bahan bakar fosil — minyak, gas alam, dan batu bara — adalah apa yang oleh para insinyur kimia disebut sebagai “beyond electron”. Mereka bukan hanya penghasil elektron. Mereka adalah bahan baku peradaban modern itu sendiri.

Hidrokarbon memberikan manusia pupuk, sulfur, nafta dan beragam prodüksi turunan yang membuat peradaban modern terbentuk seperti saat ini. Kebijakan agresif dekarbonisasi di Eropa menghasilkan harga listrik industri yang melonjak tajam, memicu deindustrialisasi, dan meningkatkan kerentanan geopolitik.

Penari Tarian Edan-edanan saat tampil di acara Reuni 40 Tahun Fisipol UGM Angkatan 1986.

Reuni 40 Tahun Fisipol UGM Angkatan 1986 ini juga mengangkat kuliner dan seni budaya lokal. Menu makanan yang dihadirkan dipesan dari pengusaha kuliner local Jogja. Seperti Gudeg Yu Narni, Siomay dan Dawet Geboy, Rujak Eskrim Pakualaman, Bakpia, dan lain-lain.

Untuk seni budayanya menghadirkan penari Tarian Edan-edanan dari Kampung Wisata Rejawinangun. Tari Edan-edanan yang berasal dari Keraton Yogyakarta ini memiliki filosofi sebagai sarana ritual tolak bala (menolak bahaya atau roh jahat) serta simbol ungkapan rasa syukur dan kegembiraan. Enam orang penari mewakili enam jurusan yang adai di Fisipol UGM.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *