“Wah saya sempat deg-degan melihat perdebatan seru para juri. Seru sekali. Alhamdulillah akhirnya sudah ditentukan pemenangnya,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) DIY Atik Sudarmi usai Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Juri Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY 2026. Rabu (19/8/2026).
Kadispar yang baru menjabat awal bulan Agustus ini, memimpin rapat koordinasi Tim Juri. Juri diketuai Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY GKR Bendara. Mengawali pembahasan hasil penjurian, para juri yang sudah bersama selama beberapa bulan, tampak akrab, gojekan, saling ledek dan tertawa bareng.
BACA JUGA : Usung Nuansa Hindia Belanda, Kampung Wisata Siapkan Paket Nostalgieen
“Biasa di awal biasanya ketawa-ketawa, guyon seperti ini Bu Kadis. Tapi, di tengah sampai akhir nanti pasti pada bersitegang, ramai kalau membahas nilai para peserta lomba,” ujar Gusti Bendara pada Kadispar mengawali pembahasan hasil penilaian juri.
Di layar pun kemudian dipaparkan penilaian para juri sesuai dengan delapan indikator yang ada di Pergub DIY No 40 Tahun 2020. Setiap juri menilai sesuai dengan indikator yang sebelumnya telah ditentukan untuknya. Nilai-nilai tersebut kemudian diakumulasikan. Terlihat persaingan angka yang ketat.
Nilai tersebut “didapat” dari kunjungan lapangan ke-10 desa/kampung wisata. Mereka adalah desa/kampung wisata terbaik dari lima kabupaten/kota di DIY. Setiap Kabupaten/Kota mengirim dua perwakilan.
BACA JUGA: Sawah di Mal, Etalase Desa Wisata
Mereka adalah Kampung Wisata Rejowinangun dan Kampung Wisata Taman (keduanya dari Kota Yogya), Desa Wisata Pleret dan Desa Wisata Kajii (dari Bantul), Desa Wisata Pulesari dan Desa Wisata Gabugan (dari Sleman), Desa Wisata Gulurejo dan Desa Wisata Sidorejo (dari Kulonprogo) serta Desa Wisata Katongan dan Desa Wisata Sidoharjo (Gunungkidul).
Proses penilaian dilakukan dengan mengunjungi peserta. Para juri datang ke desa/kampung wisata dengan “menyamar” sebagai tamu. Tidak menunjukkan jati dirinya sebagai juri.
Menurut Kepala Bidang Sumberdaya Pariwisata Dispar DIY Siti Inganati, hal itu dilakukan agar desa/kampung wisata yang dinilai benar-benar riil, apa adanya, sebagaimana kalau mereka menerima tamu wisatawan. Tidak memoles diri dan “menyiapkan karpet merah” agar terlihat wah.
BACA JUGA: 12 Produk Wisata Berbasis Pengalaman di Desa Wisata
“Kami menghindari seremoni. Sehingga, para juri ini melakukan reservasi sebagaimana tamu pada umumnya. Ada petugas reservasi yang mencari kontak lewat media sosial desa/kampung wisata yang akan dinilai. Respons terhadap reservasi ini pun menjadi penilaian sendiri, ” jelas Siti Inganati.
Cerita dari para juri, pada satu desa wisata, Tim Juri yang ada GKR Bendara ini sempat tidak dikenali hingga sore hari, meski sudah beraktivitas sesuai itinerary. Hingga akhirnya mereka “mengaku” dan meminta waktu untuk ngobrol atau sarasehan di malam harinya dengan Ketua Desa Wisata, Ketua Pokdarwis, Lurah dan lainnya.
Ada juga, desa/kampung wisata yang baru tahu ketika rombongan tiba dan ada sosok yang dikenali sebagai juri. Respons yang dilakukan masing-masing desa/kampung wisata pun kemudian bisa dinilai dari cara mereka menerima tamu wisatawan.
Nah, proses panjang Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY Tahun 2026 pun memasuki tahap menentukan. Setelah melalui seleksi administrasi sejak Februari 2026 dan kunjungan lapangan para pemenang pun diketahui saat Rapat Penentuan Pemenang Lomba Desa/Kampung Wisata Tingkat DIY Tahun 2026, Rabu(19/08/2026).
Menentukan yang terbaik memang butuh banyak pertimbangan. Bukan hanya soal siapa yang paling menonjol, tetapi bagaimana potensi desa dan kampung wisata dikelola, masyarakat dilibatkan, manfaat ekonomi bagi warga, lingkungan tidak dikorbankan hingga keberlanjutannya dijaga.
Dan siapa yang akan membawa pulang predikat terbaik tahun ini? Jawabannya akan menjadi bagian dari momen penghargaan yang direncanakan berlangsung 22 September 2026 dan akan diserahkan oleh Gubernur DIY.
Menurut Anda, desa/kampung wisata mana yang keluar menjadi yang terbaik? (wan)
