KLATEN — Suasana hangat penuh rasa kekeluargaan menyelimuti acara syukuran pengabdian Bapak Sugiri Kartowijono di Warung Bakmi Cak Rory, Minggu (1/2/2026). Tokoh pendidik kelahiran Magetan, 2 Februari 1938, ini dikenal luas sebagai pendidik dengan masa pengabdian yang sangat lama.
Sekitar 150-an alumni lintas angkatan, dari angkatan awal hingga terakhir, hadir dalam acara tersebut. Bagi Pak Giri, begitu ia biasa dipanggil, undangan untuk para alumni yang sekaligus muridnya ini adalah bentuk rasa syukurnya. Ia merasa selama ini dimuliakan oleh murid-muridnya.
Sedangkan bagi para alumni, kehadiran ini sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan terima kasih atas jasa dan keteladanan beliau. Bagi para kolega, rekan-rekan seperjuangan, mereka hadir untuk ikut merasakan kebahagiaan dan kesyukuran.
Pak Giri, merupakan figur sentral dalam perjalanan alumni Smada. Selain dikenal sebagai pendidik yang tegas dan penuh kehangatan, beliau juga tercatat sebagai pendiri organisasi alumni SMA Negeri 2 Klaten, yang kemudian tetap membersamai perjalanan organisasi tersebut sebagai penasihat hingga di usia senja.
Peran itulah yang membuat beliau dikenang bukan sekadar sebagai guru, tetapi sebagai sosok yang menyatukan dan menjaga ikatan alumni lintas generasi.

Bahasa Gendruwo
Sebagai guru, Pak Giri mengajar banyak mata pelajaran. Awalnya, mengajar Bahasa Jerman, Bahasa Prancis, Bahasa Inggris sampai bahasa daerah (bahasa Jawa).
Untuk bahasa Jawa, Pak Giri punya kritik yang tajam. Terutama dengan kebiasaan orang yang menuliskan kata Jawa dengan mengunakan huruf o. Padahal mestinya tulisan tetap memakai huruf a. Dia contohkan orang banyak yang menulis ‘Ojo dumeh’ yang mestinya ‘Aja dumeh.’ Juga ‘opo tumon’ yang mestinya ditulis ‘apa tumon’.
Pak Giri menyebut fenemona tersebut dengan istilah “bahasa Gendruwo”. Karena semua ditulis dengan huruf “o”. Pak Giri sering mengingatkan anak didiknya untuk menghindari salah kaprah seperti itu.
Bapak Alumni
Sementara itu, salah satu alumni yang hadir sekaligus diminta memberikan sambutan dan testimoni adalah Ketua Kasmada85, Mayjen TNI (Purn) Dr. Agus Winarna, SIP, MSi, M.Tr (Han), MH. Dalam sambutannya, ia menyampaikan penghormatan mendalam kepada Pak Giri atas nilai-nilai kehidupan yang ditanamkan kepada para muridnya.
“Bagi kami, Pak Giri bukan hanya guru di ruang kelas. Beliau adalah pendidik sejati yang mengajarkan cara berpikir, bersikap, dan bertanggung jawab sebagai manusia,” ujar Agus Winarna di hadapan hadirin.
Ia mengenang ketegasan Pak Giri yang selalu dibingkai dengan kehangatan, disiplin yang membentuk karakter, serta teguran yang bukan untuk menjatuhkan, melainkan menumbuhkan. Menurutnya, banyak alumni baru benar-benar memahami makna didikan tersebut ketika telah terjun ke kehidupan nyata dengan beragam profesi dan tantangan.
Dalam sambutannya, Agus Winarna juga menegaskan bahwa hubungan Pak Giri dengan para murid tidak pernah terputus oleh kelulusan dan waktu. “Karena itulah kami menyebut beliau sebagai Bapak Alumni—sosok yang mengantar kami keluar dari gerbang sekolah menuju kehidupan nyata,” tutur alumni Akmil yang mengawali tugas di Timor Timur ini.
Ia menambahkan, alumni Kasmada85 kini telah berkiprah di berbagai bidang—mulai dari pendidik, TNI, politisi, pengusaha, aparatur negara, pekerja sosial, jurnalis hingga seniman—namun tetap disatukan oleh nilai-nilai dasar yang diyakini berasal dari didikan para guru, termasuk Pak Giri.
Dalam kesempatan tersebut, turut disampaikan catatan kontribusi Kasmada85 bagi almamater, yakni penyumbangan seperangkat gamelan Slendro Pelog yang diberi nama “Kyai Kasmada85”. Sumbangan ini menjadi simbol penghormatan alumni kepada guru sekaligus upaya melestarikan nilai budaya yang sejalan dengan semangat pendidikan karakter.
Menutup sambutannya, Agus Winarna atas nama keluarga besar Kasmada85 menyampaikan doa agar Pak Sugiri Kartowijono senantiasa diberikan kesehatan, ketenteraman batin, serta kebahagiaan bersama keluarga. “Kini, kami para alumni adalah saksi hidup dari karya Bapak,” ujar Dosen di Universitas Pertahanan Jakarta ini.

Kesaksian Warga Kasmada85
“Saya adalah salah satu dari sekian banyak murid yang beruntung pernah diajar oleh Pak Sugiri…” begitu ujar Dr. Ahmad Sukamta, anggota Komisi I DPR RI, mengawali kesaksiannya.
Beliau, lanjut Sukamta, bukan hanya mengajarkan Bahasa Inggris, tetapi menumbuhkan keberanian, kepercayaan diri, dan semangat belajar.
Politisi PKS ini menambahkan, hingga usia 88 tahun, kepedulian Pak Giri pada sekolah dan murid-muridnya tetap hidup. Hubungan yang beliau bangun bukan sekadar guru dan siswa, melainkan ikatan hati yang hangat dan tak lekang oleh waktu.
“Terima kasih Pak Sugiri, ilmu dan keteladanan Bapak akan selalu hidup
dalam diri murid-muridmu,” tandas anggota DPR RI dari Dapil DIY ini.
Pengusaha telur dan ayam Ir H Agus Wibowo menilai Pak Giri merupakan sosok guru penuh dedikasi, motivasi dan pelita bagi siswa. Canda tawa, ikatan yang hangat dengan siswa adalah hal yang selalu bisa dikenang.
“Matur nuwun Pak Giri. Priyayi luhur budi, keteladananmu abadi ada di sanubari. Barakallah,” ungkap Agus Wibowo, Ketua Kelas IPA 2 di masa itu yang alumnus Peternakan UGM.
Kenangan lebih personal datang dari Retno. Kendati semua orang tahu namanya Retno, dan para guru memanggilnya Retno, tapi Pak Giri memanggil perempuan jurusan IPS ini dengan panggilan “Totok Titik”.
Itu terjadi karena Pak Giri tahu bahwa “pacar” yang kemudian –mungkin juga berkat doa Pak Giri– menjadi suami Retno adalah siswa bernama Totok. Dari panggilan Pak Giri itulah, sampai sekarang Retno lebih sering dipanggil “Titik Totok”.
Mengenai sosok Pak Giri, Retno maupun Totok menilai bahwa cara mengajarnya kebapakan banget. Dan, kehadiran untuk mengajar atau tidak bisa cepat diketahui lewat kendaraan yang dikendarai Pak Giri.
“Vespanya Pak Giri yang masih saya kenang. Suara vespanya khas. Sehingga kalau datang, langsung kita kenali. Pak Giri rawuh…,” kenang Retno eh Titik Totok.
Acara syukuran di Warung Bakmi milik putri Pak Giri itu berlangsung sederhana namun sarat makna. Menjadi pengingat bahwa jejak seorang pendidik sejati tidak pernah berhenti di ruang kelas, melainkan hidup dan tumbuh dalam perjalanan murid-muridnya sepanjang hayat. (wan)
