Oleh: ERWAN WIDYARTO
Di tengah “kejenuhan“ pariwisata massal yang bertumpu pada foto selfi, keramaian, dan konsumsi instan, edutourism atau wisata edukasi bisa dimunculkan sebagai magnet baru. Ia menawarkan sesuatu yang berbeda yakni pengalaman belajar yang menyenangkan, kontekstual, dan berkesan. Bukan sekadar jalan-jalan, tetapi pulang dengan pengetahuan, perspektif baru, bahkan kesadaran sosial dan ekologis.
Pertanyaannya, apa saja yang bisa dikembangkan sebagai edutourism, dan sejauh mana Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki modal untuk itu?
Secara konseptual, edutourism tidak harus selalu identik dengan ruang kelas atau kunjungan ke museum. Edutourism mencakup spektrum luas: wisata budaya, sejarah, sains, lingkungan, hingga kewirausahaan. Intinya bukan pada lokasi-nya, melainkan pada proses belajar yang dialami wisatawan. Pengalaman itu bisa bersifat partisipatif, reflektif, dan berbasis praktik langsung.
Keunggulan Komparatif DIY
DIY memiliki keunggulan komparatif yang jarang dimiliki daerah lain. Pertama, ekosistem pendidikan yang kuat. Kehadiran puluhan perguruan tinggi, lembaga riset, dan komunitas belajar menjadikan Yogyakarta sebagai “laboratorium hidup”. Kampus tidak hanya bisa menjadi tempat studi formal, tetapi juga destinasi edutourism melalui program kunjungan riset, kuliah umum terbuka, hingga summer course tematik yang menyatu dengan wisata budaya.
Kedua, kekayaan budaya dan sejarah yang autentik. Keraton Yogyakarta, situs-situs sejarah, desa budaya, hingga tradisi lokal seperti batik, gamelan, dan wayang sebenarnya adalah ruang belajar terbuka. Jika dikemas sebagai edutourism, wisatawan tidak hanya menonton, tetapi ikut membatik, belajar filosofi motif, memahami struktur sosial budaya Jawa, dan merefleksikan relevansinya dengan kehidupan modern.
Ketiga, potensi edutourism lingkungan. DIY memiliki desa wisata, kawasan pertanian, pengelolaan sampah berbasis komunitas, hingga praktik konservasi yang bisa menjadi ruang belajar ekologis. Wisatawan bisa belajar soal pertanian organik, ketahanan pangan lokal, pengelolaan air, hingga mitigasi bencana. Isu yang justru semakin relevan di tengah krisis iklim. Edutourism semacam ini tidak hanya mendidik, tetapi juga membangun empati dan tanggung jawab ekologis.
Keempat, edutourism kewirausahaan dan ekonomi kreatif. Yogyakarta dikenal sebagai kota UMKM dan industri kreatif. Proses produksi batik, kerajinan, kuliner, hingga startup kreatif dapat dikemas sebagai wisata belajar bisnis berbasis nilai lokal. Wisatawan tidak hanya membeli produk, tetapi memahami proses, tantangan, dan filosofi usaha rakyat.
Pasar Lintas Usia
Pertanyaan pentingnya: apakah edutourism hanya relevan untuk menarik kaum terpelajar atau pelajar saat liburan sekolah? Jawabannya: tidak. Inilah kekeliruan yang sering terjadi. Edutourism justru relevan lintas usia dan latar belakang. Keluarga, pekerja profesional, komunitas, bahkan wisatawan lansia bisa menikmati edutourism selama kontennya disesuaikan. Belajar tidak selalu berarti akademik; ia bisa hadir dalam bentuk cerita, praktik, dan pengalaman hidup.
Bagi pelajar, edutourism memperkaya pembelajaran kontekstual. Bagi keluarga, ia menjadi sarana rekreasi bermakna. Bagi profesional, edutourism bisa menjadi ruang refleksi, peningkatan kapasitas, atau bahkan healing berbasis pengetahuan dan budaya. Inilah keunggulan edutourism: fleksibel dan inklusif.
Tantangan pengembangan edutourism di DIY terletak pada pengemasan dan kolaborasi. Banyak potensi berjalan sendiri-sendiri tanpa narasi besar. Dibutuhkan kurasi program, pelatihan pemandu berbasis edukasi, serta sinergi antara kampus, desa wisata, komunitas, dan pemerintah daerah. Tanpa itu, edutourism hanya akan menjadi label, bukan pengalaman bermakna.
Jika dikembangkan serius, edutourism dapat menjadi magnet baru yang lebih berkelanjutan bagi pariwisata DIY. Ia tidak mengejar jumlah kunjungan semata, tetapi kualitas pengalaman. Di tengah dunia yang semakin cepat dan dangkal, edutourism menawarkan jeda: perjalanan yang mengajak berpikir, memahami, dan pulang dengan makna. Dan justru di situlah kekuatan Yogyakarta sesungguhnya.***
