Mencermati Pameran “Ojo Urik“ Alex Pracaya
Karya  yang Satire, Tidak Berteriak tetapi Mengajak Berdialog

Event Headline

Alex Pracaya mendampingi Wagub DIY Paku Alam X dalam pembukaan pameran Ojo Urik di Ndalem Langenkusuma. (Foto: Humas DIY)

Masuk ke ruang pamer Ndalem Langenkusuma, senyum  kecil muncul di sudut bibir para pengunjung.  Namun, sejurus kemudian, sebuah tamparan terasa. Pengunjung  tidak hanya disuguhi warna cerah yang tampak jenaka, melainkan poster-poster yang bisa menampar nurani. Halus tapi terasa.

Oleh: Erwan Widyarto

PAMERAN tunggal pertama  Alex Pracaya bertajuk “Ojo Urik” – Transparansi dalam Warna, Integritas dalam Goresan bukan sekadar perayaan visual. Ia hadir sebagai ruang refleksi sosial, tempat humor, budaya Jawa, dan kritik terhadap praktik ketidakjujuran bertemu dalam bahasa yang sederhana dan membumi. Digelar pada 16–20 Desember 2025, pameran ini memanfaatkan ruang heritage berarsitektur Jawa klasik sebagai latar yang seolah menegaskan: pesan moral tak pernah lekang oleh waktu.

Judul pameran “Ojo Urik”, ungkapan Jawa yang berarti “jangan curang”, menjadi kunci pembacaan seluruh karya. Lewat poster satir dan ilustrasi yang komunikatif, Alex mengajak pengunjung bercermin pada kebiasaan kecil yang sering dianggap remeh: ingkar janji, memanipulasi fakta, atau berkompromi dengan nurani demi kenyamanan sesaat. Hal-hal kecil inilah, menurutnya, yang kerap menjadi pintu masuk praktik korupsi dalam skala yang lebih besar.

Kurasi pameran disusun layaknya lintasan cerita. Pengunjung diajak berjalan dari humor keseharian, menuju ironi sosial, hingga kritik yang semakin tajam. Namun semua disampaikan tanpa nada menggurui. Visualnya ringan, kadang mengundang tawa, tetapi menyisakan pertanyaan yang menempel lebih lama dari sekadar pandangan mata. Pendekatan ini membuat pesan integritas terasa dekat, terutama bagi generasi muda yang tumbuh dalam budaya visual.

Ndalem Langenkusumo pun menjadi saksi perjumpaan lintas zaman. Dinding-dinding tua yang sarat sejarah itu kini menampung poster-poster kontemporer yang berbicara tentang masalah paling klasik dalam kehidupan manusia: kejujuran. Di sanalah karya-karya Alex Pracaya berdiri, tidak berteriak, tetapi mengajak berdialog.

Menariknya, “Ojo Urik” –ejaan yang benar Aja Urik—  merupakan pameran tunggal pertama Alex Pracaya setelah puluhan tahun berkarya dan terlibat dalam berbagai pameran nasional maupun internasional. Momentum ini terasa semakin kuat karena digelar bertepatan dengan peringatan Hari Antikorupsi. Seni poster, yang selama ini identik dengan medium komunikasi massa, dihadirkan sebagai alat refleksi sosial yang dekat dengan keseharian publik.

Pameran ini resmi dibuka oleh Wakil Gubernur DIY KGPAA Paku Alam X. Suasana pembukaan terasa hangat dan personal. Sri Paduka tak hanya hadir sebagai pejabat, tetapi juga sebagai kawan lama sang perupa. Dalam sambutannya, ia mengenang masa persahabatan mereka sejak SMA. 

Kisah sederhana tentang peta yang dibagi sebagai oleh-oleh, yang kelak menjelma menjadi karya visual dengan daya guna luas bagi masyarakat.  Alex merupakan pembuat peta wisata Kota Yogya yang sudah dicetak banyak pihak tanpa ia pedulikan royalty-nya. “Saya hibahkan untuk Yogya, “ kata Alex satu waktu.

Paku Alam X memaparkan, “Pameran ini merupakan pencapaian luar biasa bagi seorang perupa yang telah lama berkarya.” Ia menilai karya-karya Alex sebagai contoh bagaimana memori personal dapat diolah menjadi karya publik yang informatif, artistik, sekaligus memperkaya identitas kota.

Apresiasi juga disampaikan terhadap konsistensi Alex Pracaya dalam menjaga karakter karya yang mengandalkan sentuhan tangan manusia. Di tengah derasnya arus teknologi dan kecerdasan buatan, karya-karya tersebut tetap terasa jujur dan bernapas. “Saya menggarisbawahi kalimat ‘Integritas dalam Goresan’. Itu nyata. Mas Pracaya sejak dulu tidak pernah sekadar mengikuti pesanan, tetapi selalu berkarya sesuai idealisme dan nuraninya,” imbuh Sri Paduka.

“Ojo Urik” juga menegaskan bahwa pameran seni tak harus eksklusif. Selain memajang karya, pameran ini menghadirkan beragam kegiatan pendukung: workshop dan talkshow tentang relasi seni dan kecerdasan buatan, dongeng serta lomba mewarnai untuk anak-anak, pementasan drama Jawa, hingga angkringan dan wedangan yang menciptakan suasana akrab khas Yogyakarta.

Ruang pamer pun berubah menjadi ruang temu. Anak-anak, mahasiswa, seniman, akademisi, hingga warga sekitar duduk berdampingan, berbagi cerita, dan menafsirkan karya dari sudut pandang masing-masing. Seni hadir bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai sarana edukasi, hiburan, dan dialog sosial yang membumi.

Alex Pracaya sendiri dikenal sebagai kartunis lepas dan desainer grafis yang aktif berkarya sejak awal 1990-an. Ia pernah mengisi rubrik kartun di berbagai media cetak, sekaligus mengerjakan desain logo, ilustrasi, dan pemetaan visual. Konsistensinya mengangkat nilai budaya lokal dan isu sosial menjadi benang merah perjalanan kreatifnya.

Melalui pameran tunggal ini, salah satu motor penggerak GoART Jogja ini, seolah merajut kembali perjalanan panjang tersebut dalam satu narasi besar. Narasi tentang integritas, kejujuran, dan keberanian untuk tidak “urik” dalam kehidupan sehari-hari.

Pameran ini terbuka gratis untuk umum. Siapa pun dipersilakan datang, menikmati karya, berdialog, sekaligus merasakan atmosfer rumah Jawa klasik di jantung Kota Yogyakarta. Lebih dari sekadar pameran seni, “Ojo Urik” menjadi pengingat bahwa kejujuran adalah nilai dasar yang perlu terus dirawat bersama. Dimulai dari pilihan-pilihan kecil yang kita ambil setiap hari.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *