Anda ingin merasakan sensasi makan malam para Sinyo dan Noni Belanda bernuansa Yogya? Anda ingin menjadi tentara Keraton? Kemudian melakukan berbagai kegiatan pelestarian lingkungan dan budaya? Kampung Wisata Cokrodiningratan (Kasaningrat) sedang mempersiapkannya untuk Anda!
Catatan: ERWAN WIDYARTO
“Saya sangat senang sekali. Semua kegiatannya saya suka!” ujar Suppakarn Boonyaboonya, mahasiswa dari Thailand. Perempuan yang akrab disapa Rita ini menyampaikan kesannya usai mengikuti keseruan paket Kasaningrat Nostalgieen selama dua hari, Sabtu-Minggu (18-19 Juli 2026). Hal yang sama disampaikan rekannya, Pannaphon Fangklang yang biasa dipanggil Indah.
BACA JUGA: Pesona Kasaningrat Memikat Wisatawan Mancanegara Peserta JIKF
Kedua mahasiswa asing tersebut menjadi bagian dari Tim yang diminta menikmati ujicoba paket (test tour) Kasaningrat Nostalgieen. Tim yang lain terdiri dari para Pendamping Kampung Wisata GIPI dan dari Dinas Pariwisata DIY maupun Kota Yogya.
Di awal kegiatan sebelum paket wisata dimulai, hadir pula Kepala Dinas Pariwisata DIY Imam Pratanadi dan Ketua GIPI DIY Bobby Ardiyanto Setya Aji. Saat memberikan sambutan menjelang uji coba paket, Imam mengingatkan agar Kampung Wisata bisa menyusun paket wisata berbasis pengalaman dan potensi lokal yang kuat serta menarik sehingga laku dijual.
Usai seremoni singkat, test tour pun dimulai. Imam kemudian bersama Tim Pendamping yang saat itu bertindak sebagai tamu/wisatawan, menikmati welcome drink dan makan siang. Welcome drink berupa setup sawo yang disajikan hangat dan dingin.
BACA JUGA: KTP Kamu Rusak? Yuuk Ganti di Acara Reuni Fisipol
“Setup itu dari Bahasa Belanda stoof artinya memasak makanan secara perlahan dengan air atau merebus. Dan buah sawo, bisa dengan mudah didapatkan di daerah Cokrodiningratan ini. Maka, sajian ini mendukung paket Nostalgieen yang penuh nuansa Hindia Belanda,” jelas Dr Nur Wahyuni yang biasa disapa Chef Yuyun, pendamping bidang kuliner dari GIPI DIY.
Menu makan siang ini juga bernuansa tradisional Jawa spesial yakni nasi jagung, gecok genem, tempe garit, dan tumis daun papaya. Usai makan, wisatawan diajak ke Balai RW untuk workshop Bregada Rakyat. Bregada yang lahir dari rakyat. Bukan sebagai prajurit keraton.
Pasembaja (Paguyuban Semining Kabudayan Jawa) Cokrodiningratan yang melahirkan Bregada Rakyat ini menjadi bregada yang paling awal berdiri di Yogyakarta. Ketika belum ada bregada rakyat yang lain, mereka sering diminta mengawal agenda kegiatan Keraton ke Kedaton Tawangsari, Tulungagung, Jawa Timur.

Saat tiba di Balai RW dan mengisi buku tamu, kipas bambu kecil diberikan kepada setiap wisatawan. Mereka kemudian duduk di atas tikar pandan. Tas dan koper para tamu dikumpulkan di satu tempat. Icebreaking ringan dilakukan dengan menyebut Kata Bregada. Lumayan untuk mencairkan suasana.
Kemudian pemandu bregada menjelaskan seluk bregada. Mulai dari sejarah, perbedaan dengan bregada Keraton, perlengkapan pakaian dan alat-alat musik pendukungnya. Menariknya, para tamu wisatawan tidak hanya duduk mendengarkan cerita. Mereka diminta untuk berlatih memainkan alat-alat musik yang ada. Di antaranya drum/tambur, bende, kacer dan suling.
Latihan memainkan musik ini juga sekalian latihan cara berjalannya saat pawai. Ketika dirasa cukup piawai, para tamu diminta untuk berganti baju bregada. Lengkap dari celana, sabuk, baju hingga topi khas Bregada.
Dengan pakaian Bregada Rakyat itu, masing-masing wisatawan kemudian bertugas sesuai saat latihan. Yang tidak membawa alat musik, bertugas membawa tombak dan menjadi pengiring di belakang pemain musik. Mereka pun kemudian pawai berkeliling kampung menuju Balai Kelurahan, selayaknya pawai Bregada.
“Wah terlalu dekat ini. Mestinya sampai ke Tugu. Mumpung sudah tidak panas, ” seloroh Edwin yang menjadi pemegang drum.
“Nanti malam saja, kita pinjam ini untuk ngamen di sekitar Tugu mumpung malam Minggu,” timpal Liliek.
Semuanya tertawa. Atraksi bregada rakyat ini rupanya menjadi pengalaman berkesan bagi para tamu. Ini menjadi atraksi yang deep and meaningful experience. Tamu/wisatawan merasakan pengalaman penuh makna, tidak hanya mendengarkan cerita.
Itulah atraksi awal dari Paket Nostalgieen. Secara keseluruhan, paket ini mengajak tamu/wisatawan mengenang kembali masa-masa Hindia Belanda. Paket ini dikemas dalam paket live in 2D1N.

Selesai menjadi Bregada, para tamu check in ke homestay. Untuk kemudian istirahat dan bersiap menjalani experience selanjutnya. Malam itu, agenda makan malam dikemas dalam Kasaningrat Dinner Avond soiree. Makan malam yang diset sebagai makan malamnya para Sinyo dan Noni zaman Hint;dia Belanda, beserta Priyayi Jawa.
Untuk menciptakan ambiens yang utuh, para tamu sejak awal diminta untuk membawa baju nuansa putih-putih. Nuansa Hindia Belanda zaman dulu. Dan ternyata… tuan rumah dan terutama Pemandu Lokal-nya pun totalitas menyulap dirinya menjadi sosok zaman Kolonial itu.
Menu yang disajikan pun menu Eropa yang dimodifikasi: Bestik Jawa. Kentang diganti singkong. Daging diganti telur. Dengan minuman bir Jawa: jahe sere gula batu.
Suasana makan malam menjadi entertaint yang luar biasa. Kedatangan tamu disambut lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng (Tante Lien) sehingga nuansa Hindia Belanda pun terasa. Iringan pemain biola memainkan lagu Yogyakarta (Kla Project) mempertegas bahwa momen ini ada di Kota Yogya.
Usai makan, tamu disuguhi pesona akulturasi budaya Tionghoa di wilayah Cokrodiningratan. Sudut kecil di Teras22 disulap menjadi arena workshop Xiangqi (象棋). Catur Gajah. Lampion merah dan tulisan Hanzi di dinding memperkuat ambience yang diinginkan.

Oh iya. Kedatangan para Sinyo dan Noni Belanda ke acara dinner itu, juga “mengajak tamu” untuk kembali ke masa lalu. Mereka naik becak yang dikemudikan oleh pria berpakaian Jawa. Tukang becak ini tinggal di sekitar Jetisharjo. Dengan demikian, paket ini bisa memberdayakan warga sekitar.
Sebagai venue makan, Teras 22 (Tempat Rerasan RT 22) sangat representative. Ruang untuk mengeset makanan tersedia, tempat untuk menyiapkan menu (memasak dan menyajikan) leluasa, fasilitas pendukung tempat duduk, piring, gelas, poci sangat memadai.
Hari pertama Paket Kasaningrat Nostalgieen begitu seru!
Atraksi hari kedua, walking tour Hint;Dia, juga penuh dengan kenangan dan pengalaman. Jalan pagi dari homestay, disuguhi pesta rakyat Kober (Cokro Bersatu) yang menggelar senam pagi, lomba menari dan bazaar UMKM. Tamu pun banyak yang membeli jajanan untuk bekal jalan pagi mengenali sejarah pergerakan lewat gedung-gedung heritage di kawasan Cokrodiningratan.
Tujuan pertama Princes Juliana School (SMKN 2 Yogya). Lokasinya di depan pintu masuk Kampung Wisata Cokrodiningratan. Cukup nyebrang jalan. Di tempat ini, tamu diajak mengenali bangunan arsitektur sekolah teknik yang besar, luas dan masih orisinil.
Ingatan dibawa kembali ke masa lalu. Kursi dan meja belajar yang menyatu, mesin praktik yang ditanam, mesin uap, dan lantai tegel/ubin. Dengan penjelasan pemandu dan foto-foto dokumen yang menarik, menyusuri bangunan seluas 6 hektare ini tidak membosankan. Berfoto di depan PJS mengakhiri kunjungan.
Selesai dari PJS, tamu kemudian dibawa ke Sekolah Kebangsaan (SMAN 11 Yogya). Tempat Kongres I Boedi Oetomo digelar. Berfoto di Aula Boedi Oetomo dan kemudian lanjut ke destinasi terakhir: Pasar Minggon Code.
Begitu sampai, pemandu lokal beralih memandu. Menjelaskan apa saja yang akan dilakukan di tempat tersebut. Kemudian, tamu dibagi sarapan pagi. Sarapan juga istimewa. Makanan ada dalam kemasan besek bambu. Isinya lontong singkong, krawu, sate lilit, tempe garit dan sambel matah.
Sarapan dilakukan di hamparan tikar pandan yang digelar di bawah rimbunan pohon bambu yang sejuk. Sesuatu yang spesial karena lokasi ini berada tidak jauh dari Tugu Jogja. Usai sarapan, kegiatan dilanjut ke Taman Robin, mendapat penjelaskan tentang EWS, teknologi informasi untuk kebencanaan. Robin singkatan dari Robotika dan Internet.
Dari Taman Robin kembali ke tempat sarapan tadi untuk workshop membatik limbah kopi. Saat itu, Pasar Minggon Code ramai sekali karena ada kegiatan bersama Dinas Koperasi. Juga ada workshop Art for Future Climate bersama seniman Australia dan tamu dari para mahasiswa Singapura.
Workshop membatik dengan limbah kopi pun berlangsung. Limbah kopi ini didapat dari kafe-kafe yang ada di sekitar Kampung Wisata. Pemanfaatan limbah kopi untuk pewarna alami batik ini sebagai bentuk Kampung Wisata Kasaningrat menjalankan dan meneguhkan visinya sebagai Pelestari Lingkungan dan Penjaga Keberagaman.
Workshop Batik Kopi Kasaningrat di lokasi Pasar Minggon yang ramai itu ternyata menarik perhatian pengunjung yang hadir. Saat para wisatawan menjelang selesai workshop, beberapa mahasiswa Singapura tertarik untuk ikut membatik.
Sedangkan para tamu paket Nostalgieen melanjutkan aktivitas lain yang masuk di dalam paket. Sembari menunggu proses pewarnaan dan mordanting, para tamu diajak melepaskan ikan di Sungai Code. Setelah itu kembali ke tempat membatik untuk menunggu batik dilorod. Dan itulah akhir dari perjalanan Kasaningrat Nostalgieen selama dua hari satu malam.
Satu paket wisata yang mengajak mengenali dan merasakan pengalaman yang akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan.
Anda tertarik mencoba?


