Oleh: Erwan Widyarto
Hari ini, 22 September 2026, para pemenang Lomba Desa/Kampung Wisata DIY 2026 menerima penghargaan. Ada yang membawa pulang piala, piagam, kebanggaan, uang pembinaan yang lumayan besar dan tentu saja cerita bahwa desanya menjadi yang terbaik di antara peserta lainnya.
Tetapi, sesungguhnya, kemenangan hari ini bukan garis akhir.
BACA JUGA: Agenda WIG 2026 Ada Afternoon Tea Bersama GKR Bendara
Justru setelah piala diterima, pekerjaan yang jauh lebih berat dimulai: membuktikan bahwa predikat juara bukan sekadar hasil penilaian, melainkan cermin dari kualitas desa wisata yang memang layak dipilih wisatawan.
Lomba tahun ini menarik karena juri tidak sekadar datang melihat-lihat. Mereka bertindak sebagai wisatawan. Melakukan reservasi sebagai mystery guest, menginap, mengikuti atraksi sesuai paket yang ditawarkan, merasakan pelayanan, kemudian mengevaluasi pengalaman secara langsung. Dengan kata lain, yang diuji bukan hanya apa yang dikatakan pengelola tentang desanya, tetapi apa yang benar-benar dirasakan wisatawan.
BACA JUGA:: Yogya-Solo Jadi Pusat Perhatian, 18 Media Diundang
Delapan aspek yang dinilai—kelembagaan, kemitraan, lingkungan dan pelestarian, peran serta masyarakat, atraksi, aksesibilitas, amenitas, serta promosi dan pemasaran—sesungguhnya bukan sekadar instrumen lomba. Kedelapan aspek itu adalah pekerjaan rumah yang harus terus hidup setelah kompetisi selesai.
Di sinilah para pemenang perlu berhati-hati.
Jangan sampai setelah pengumuman, aktivitas berhenti. Foto bersama piala lebih sering daripada memperbaiki produk. Spanduk juara lebih banyak daripada inovasi. Predikat “terbaik” justru membuat desa merasa sudah selesai. Padahal wisatawan tidak membeli piala. Wisatawan membeli pengalaman.
Self Audit
Karena itu, langkah pertama setelah menjadi juara adalah melakukan self audit. Pengelola perlu membuka kembali seluruh catatan penilaian serta rekomendasi dari para juri. Kemudian bertanya: apa yang sudah kuat, apa yang masih lemah, dan apa yang harus diperbaiki?
BACA JUGA: Kampung Wisata Ini Sajikan Paket Wisata Deep Experience
Kalau pelayanan reservasi masih lambat, benahi. Kalau cerita pemandu belum menarik, latih. Kalau paket wisata terlalu generik, kurasi ulang. Kalau amenitas belum nyaman, tingkatkan. Kalau promosi sudah ramai tetapi konversi rendah, evaluasi. Kalau lingkungan masih menjadi urusan kelompok tertentu, jadikan seluruh masyarakat bagian dari gerakan.
Lebih penting lagi, jangan hanya mempertahankan standar saat ada lomba. Predikat juara harus menjadi standar pelayanan setiap hari.
Ini menjadi semakin relevan karena DIY kini telah memiliki arah baru pembangunan kepariwisataan melalui Perda DIY Nomor 2 Tahun 2026 tentang RIPPARDA DIY 2026–2045. Dokumen tersebut menjadi arah pembangunan pariwisata DIY untuk dua puluh tahun ke depan.
Artinya, desa wisata tidak boleh berhenti sebagai objek lomba. Ia harus menjadi bagian dari ekosistem besar pencapaian pembangunan kepariwisataan DIY.
RIPPARDA menempatkan keberlanjutan, budaya, lingkungan, kualitas destinasi, daya saing, kolaborasi dan pemberdayaan sebagai bagian penting arah pembangunan. Bahkan dalam proses penyusunannya, pemerintah daerah menekankan pentingnya sinergi pemerintah, industri, akademisi, media dan masyarakat.
Maka, setelah menjadi juara, pertanyaannya bukan lagi: “Apa hadiah berikutnya untuk kami?”
Pertanyaannya harus berubah menjadi: “Kontribusi apa yang bisa kami berikan untuk pariwisata DIY?”
Ukur Dampaknya
Desa wisata juara seharusnya menjadi laboratorium pembelajaran. Berbagi praktik baik dengan desa wisata lain. Membuka jejaring kemitraan. Mengembangkan produk baru. Meningkatkan kualitas SDM. Memperkuat UMKM lokal. Menjaga lingkungan. Memastikan manfaat ekonomi tidak berhenti pada pengelola, tetapi mengalir kepada masyarakat.
Dan yang tidak kalah penting: mengukur dampaknya.
Berapa wisatawan yang datang? Berapa lama mereka tinggal? Berapa uang yang dibelanjakan di desa? Berapa warga yang memperoleh manfaat? Berapa produk lokal yang terserap? Apakah wisatawan datang kembali? Apakah mereka merekomendasikan desa itu kepada orang lain?
Sebab ukuran keberhasilan desa wisata pada akhirnya bukan berapa kali menjadi juara, tetapi berapa jauh kehadiran pariwisata meningkatkan kualitas hidup masyarakat tanpa merusak ruang hidupnya, lingkungan dan budayanya.
Hari ini piala boleh diangkat tinggi-tinggi. Tetapi besok pagi, wisatawan akan kembali datang.
Mereka tidak akan bertanya siapa juara lomba. Mereka hanya akan bertanya satu hal: “Apakah saya mendapatkan pengalaman yang layak untuk kembali datang ke sini?”
Di situlah sesungguhnya lomba sedang dimulai. *
Erwan Widyarto, anggota Dewan Juri Lomba Desa/Kampung Wisata DIY 2026.
