PAMERAN DRAWING GoART
Senator DPD RI Ahmad Syauqi Mengajak Menggambar Indonesia dari Museum Keraton Yogyakarta

Event Headline

Senator Ahmad Syauqi mengamati gambar GKR Hemas karya Hadiyanto (kanan) yang dipamerkan dalam Pameran Drawing #5 Utthana di Kagungan Ndalem Museum Wanaharata Keraton Yogyakarta.

LANGKAH Ahmad Syauqi Soeratno melambat begitu memasuki ruang utama Museum Wahanarata Keraton Yogyakarta yang dijadikan tempat pameran, Sabtu petang (23/5/2026).

Di dinding ruang pameran museum itu, puluhan karya drawing tergantung rapat. Ada wajah-wajah manusia, lanskap, detail bangunan, hingga guratan yang seperti menyimpan kegelisahan zaman. Aroma klasik bangunan Kagungan Ndalem bercampur suara percakapan para perupa yang sejak siang menyiapkan ruang pameran Drawing #5 “Utthana”.

Namun Syauqi tidak langsung berjalan mengelilingi ruangan. Ia berhenti di karya paling awal yang ditemuinya.

Berhenti lama.

BACA JUGA: Wawali Buka Pameran Drawing Utthana di Kotagede

Matanya menatap detail gambar itu seperti sedang mencari sesuatu yang akrab di ingatan. Lalu ia menoleh ke sekitar.

“Mana ini Mas Didit?” katanya.

Beberapa orang saling pandang. Ketua Panitia Pameran yang juga Ketua Kelompok GoART Drawing Wasis Subroto berteriak memanggil Didit. Tak lama kemudian, Didit Njedit –begitu ia menuliskan namanya di karya– datang mendekat dengan wajah sedikit bingung.

Syauqi tersenyum lebar. “Saya sudah koleksi karya Mas Didit lho…”

Didit tampak terkejut. “Yang mana Pak?”

“Waktu pameran di SMSR. Nanti saya fotokan,” jawab Syauqi sambil tertawa kecil.

BACA JUGA : Story Telling Jadi Strategi Baru Museum Beteng

Percakapan singkat itu membuat suasana semakin mencair. Para peserta yang semula berdiri agak formal mulai bergerak mendekat. Mereka rupanya baru sadar, senator yang membuka pameran hari itu bukan datang sebagai tamu yang sekadar memberi sambutan seremonial. Ia datang sebagai seseorang yang memang dekat dengan dunia gambar.

Saat menyampaikan sambutan pembukaan, Syauqi bahkan bercerita tentang koleksi karya yang dimilikinya. Ia menyebut nama-nama besar dari Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) seperti Agus Djaja dan Oto Djaja. Ia juga mengoleksi sketsa karya Ipe Ma’roef.

Maka ketika pembukaan pameran dimulai, sambutannya terdengar berbeda. Bukan pidato resmi yang penuh angka dan jargon.

BACA JUGA : Esai tentang Jogja yang Penuh Kenangan

Ia berbicara tentang menggambar seperti orang yang percaya bahwa sebuah garis bisa ikut menentukan masa depan bangsa. Menggambar harus dimaknai tidak sekadar membuat coretan di kanvas. Tetapi harus dimaknai lebih besar. Ia pun kemudian menyebut pentingnya “menggambar Indonesia“.

“Ini bukan urusan politik. Orang yang bisa menggambar Indonesia berarti punya visi ke depan,” ujarnya sembari menatap Presiden Indonesia Menggambar Edo Pop. Edo yang sebelumnya menyampaikan sambutan menjelaskan tentang sejarah Bulan Menggambar Nasional yang selalu diperingati di seluruh Indonesia setiap bulan Mei.

Kalimat Senator dari Komite III DPD RI itu membuat suasana hening. Apa hubungan “menggambar Indonesia“ dengan visi masa depan? Syauqi kemudian melanjutkan, “Karena yang bisa menggambar Indonesia itu, dia bisa membayangkan keadaan yang diinginkan di masa mendatang.”

Di tengah dunia yang bergerak cepat dan semakin dipenuhi layar digital, Syauqi merasa kemampuan membayangkan masa depan justru menjadi sesuatu yang mahal. Menggambar, menurutnya, bukan sekadar keterampilan artistik, tetapi latihan berpikir visioner.

Ia menyinggung Generasi Z yang kini tumbuh bersama gadget dan media sosial. “Kegiatan menggambar ini penting dan relevan. Bahkan terutama untuk Gen Z. Jangan sampai tidak bisa menggambar tetapi malah menjadi yang digambar. Atau bahkan di gambar pun tidak ada,” katanya.

Baginya, menggambar melatih manusia untuk berhenti sejenak, mengamati, lalu membangun imajinasi. Sesuatu yang mulai jarang dilakukan ketika semua bergerak serba cepat. Karena itu ia berharap pameran seperti “Utthana” tidak berhenti sebagai acara komunitas semata.

“Harus didengungkan. Disebarkan. Supaya orang tahu makna positif menggambar ini,” ujarnya.

Sebelum melihat-lihat karya, prosesi pembukaan dilakukan dengan cara yang sederhana namun terasa intim. Syauqi diminta mencoret kanvas kosong yang disediakan panitia. Syauqi kemudian mengambil alat gambar warna abu-abu. Ia mencoret kanvas itu dan menggambar Pagelaran Keraton Yogyakarta.

Tangannya bergerak hati-hati. Sejumlah peserta memperhatikan dengan antusias. Beberapa mengangkat ponsel untuk merekam momen itu.

Setelah selesai mencoret kanvas, Syauqi mendapat cenderamata drawing hitam putih potret dirinya mengenakan blangkon karya Wasis Subroto. “Wah bagus sekali ini. Nanti kita pasang di kantor ya ini,” kata Syauqi kepada staf-nya.

Dari tempat prosesi pembukaan Syauqi berjalan mengelilingi ruang pamer. Satu demi satu karya diamati. Tak tergesa.

Kadang ia mendekat untuk melihat detail arsiran. Kadang mundur beberapa langkah untuk menangkap komposisi utuh. Di beberapa karya, ia berhenti cukup lama sambil mendengarkan penjelasan kurator.

Para peserta bergantian mengajak foto di depan karya mereka masing-masing. Ruang pamer berubah seperti ruang perjumpaan lama: hangat, cair, penuh obrolan kecil tentang gambar, kertas, garis, dan kenangan.

Ketika sampai di depan potret GKR Bendara karya Hadiyanto, Syauqi kembali berhenti.

Ia menatap gambar bergaya pointilisme itu beberapa detik.

Lalu bertanya kepada Kepala Museum Wahanarata, KRT Candrakusuma atau biasa disapa Mas Diptya.

“Gusti Bendara sudah tahu belum lukisan ini?”

Mas Diptya tersenyum sambil menjawab. “Belum! “

“Harus ditunjukkan ini,” lanjut Syauqi.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup menggambarkan bagaimana ia menikmati karya-karya yang dipamerkan. Bukan sebagai benda pajangan, melainkan sebagai sesuatu yang hidup dan perlu sampai kepada orang-orang yang digambarkan.

Pameran Drawing #5 “Utthana” sendiri menghadirkan sekitar 50 peserta dengan beragam pendekatan drawing. Ada yang realistis, ekspresif, surealis, hingga eksperimental. Namun di balik keragaman teknik itu, ada satu hal yang terasa sama: semua berangkat dari keberanian membuat garis pertama.

Dan mungkin di situlah makna yang ingin ditegaskan Syauqi siang itu. Bahwa masa depan, seperti gambar, tidak pernah hadir begitu saja.

Ia dimulai dari keberanian membayangkan. (erwan w)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *