SLEMAN, Kabar Malioboro – Upaya menghidupkan kembali kearifan lokal terus digencarkan. Salah satunya lewat sarasehan induk kelompok masyarakat kebudayaan. Berlangsung di Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman, Selasa (5/5/2026).
Kegiatan merupakan inisiasi Dinas Kebudayaan Sleman bersama Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Sleman.
Sebanyak 25 peserta dari MGMP PJOK SMP/MTs Korwil Sleman Barat turut ambil bagian.
Ketua KPOTI Kabupaten Sleman Syukron Arif Muttaqin menyebut sarasehan menjadi ruang konsolidasi sekaligus penguatan gerakan pelestarian budaya berbasis sekolah.
“Dolanan rakyat bukan sekadar permainan. Di dalamnya ada nilai karakter, kebersamaan, hingga identitas lokal yang perlu diwariskan,” ujarnya Anggota DPRD Kabupaten Sleman dari Fraksi PKB itu.
Mengusung tema Revitalisasi Kearifan Lokal Dolanan Rakyat dalam Upaya Pelestarian Warisan Budaya di Lingkungan Sekolah, kegiatan menghadirkan dua narasumber. Yakni Benny Kusumawan Hadikusumo (Pengurus KPOTI Sleman Bidang Kemitraan dan Kerja Sama) dan Wijang Wahyu Wiwoho (Wakil Kepala Kurikulum SMP Ma’arif Gamping).

Benny menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar dolanan rakyat tidak berhenti sebagai wacana.
“Sekolah bisa jadi pusat gerakan. Tapi harus didukung jejaring. Kemitraan dengan komunitas dan pemerintah menjadi kunci agar program berkelanjutan,” tegasnya.
Pemateri kedua, Wijang melihat peluang integrasi dolanan rakyat dalam pembelajaran. Terutama pada mata pelajaran PJOK dan penguatan profil pelajar.
“Ini bisa masuk ke kurikulum kontekstual. Anak-anak tidak hanya bergerak, tapi juga belajar nilai, budaya, dan kerja sama,” jelasnya.
Sementara itu, Kasi Warisan Budaya Tak Benda Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman Andre Veriangga mengapresiasi beberapa kegiatan KPOTI Sleman. Salah satunya ketika KPOTI Sleman mendapat hibah fasilitasi kemajuan kebudayaan. Pihaknya mendorong komunitas untuk lebih proaktif.
“Komunitas harus inovatif dan kreatif. Jangan hanya bergantung pada dana keistimewaan. KPOTI Sleman sudah memberi contoh dengan aktif mengajukan proposal untuk mendukung kegiatannya,” ujarnya.
Menurut Andre, tantangan pelestarian budaya saat ini menuntut pendekatan baru. Tidak cukup menjaga, tetapi juga mengemas ulang agar relevan dengan generasi muda.
Dalam sambutannya, Andre berharap sarasehan menjadi titik awal penguatan peran sekolah sebagai ruang hidup budaya. “Sekaligus memastikan dolanan rakyat tetap hadir di tengah arus modernisasi,” tutupnya. (eyd)
