PERCAKAPAN itu bermula dari sebuah foto yang dikirimkan pada suatu siang yang entah di hari apa. Di layar ponselku yang remang, wajah Aji Erlangga menatap dengan tenang, dibalut selembar batik yang jatuh anggun di bahunya. Ada wibawa yang tak diucapkan, ada marwah yang tak perlu disuarakan. Kain itu berbicara bahasa yang lebih tua dari kami semua—bahasa malam, lilin, dan tangan-tangan yang menari di atas kain putih bagai menulis doa.
Ah, Ridaya. Ia yang berdarah Buton, yang mencoba keras men-Jawa, yang barangkali merindukan sesuatu yang tak sepenuhnya ia miliki. Ia mengenang wejangan Aji tentang batik bagus yang seolah menjadi syarat tak tertulis dari sebuah jabatan. Tapi di balik kalimatnya yang ringan, aku menangkap getar yang lain: tentang pencarian jati diri sebagai menantu priyayi Jawa, tentang menjadi “sah” dalam sebuah lingkaran budaya yang tak sepenuhnya ia warisi sejak lahir.
Marwah, katanya. Kata itu mengendap di benakku seperti ampas kopi di dasar cangkir. Marwah—harga diri yang dibungkus dalam selembar kain. Sejak kapan harga diri kita membutuhkan kain untuk membuktikannya? Tapi mungkin begitulah manusia, makhluk yang selalu mencari bentuk untuk menyatakan isi, mencari rupa untuk mewakili rasa. Batik, dalam konteks ini, adalah aksara tanpa huruf yang berkisah tentang siapa kita, atau setidaknya, siapa yang kita ingin orang lain pahami tentang kita.
Dennis, mbakyu dosen dari Jogja itu, mengingatkan kami tentang definisi. Ah, definisi—betapa sering ia menjadi penjara. Tapi kali ini aku tahu ia benar: batik bukanlah sekadar kain bermotif. Batik adalah proses, bukan hasil. Ia adalah ketekunan yang mewujud dalam garis-garis pecah yang tak sempurna, dalam warna yang sedikit bocor ke luar batas, dalam remukan yang justru menjadi keindahan.
Aku membayangkan selembar kain putih yang direntangkan. Sebuah canting turun, tangan menggambar malam yang cair dengan kesabaran yang hanya dimiliki oleh mereka yang tak mengenal kata “tergesa”. Lilin itu mengalir seperti sungai kecil yang membeku, menciptakan perintang, menciptakan batas—mbatik, kata orang Jawa, yang berasal dari tik, menitik, menetes, sebutir demi sebutir waktu yang jatuh ke atas kain.
Bukankah hidup kita pun seperti itu? Kita membuat batas-batas, kita menorehkan malam, kita memilah mana yang boleh diwarnai dan mana yang harus tetap putih. Dan pada akhirnya, ketika seluruh warna sudah meresap, kita rebus kain itu agar malamnya luruh, dan barulah tampak pola sesungguhnya—yang tadinya tersembunyi justru menjadi yang paling tampak.
Filosofi batik adalah filosofi penyingkapan: bahwa kebenaran seringkali baru terlihat setelah lapisan-lapisan yang menutupinya dilepaskan.
Aku teringat Bude Nari.
Canting di tangannya bukanlah alat, melainkan perpanjangan dari jiwanya. Di sudut rumahnya di Pekalongan, di bawah cahaya lampu yang temaram, ia duduk bersila berjam-jam. Tidak ada keluhan, tidak ada lelah yang diucapkan. Hanya ada canting yang menari, malam yang mengalir, dan kain yang perlahan berubah menjadi semesta.
“Sing sabar, Le,” katanya padaku suatu kali, ketika aku kecil dan tak sabaran menunggu. “Batik iki koyo urip. Ora kesusu. Sing penting terus mlaku.”
Batik ini seperti hidup. Tidak tergesa-gesa. Yang penting terus berjalan.
Saat itu aku tak mengerti. Sekarang, di usia kepala lima, aku baru paham bahwa Bude Nari sedang mengajariku tentang waktu—bahwa ada hal-hal yang tak bisa dikerjakan dengan cepat, bahwa kecantikan sejati lahir dari proses yang panjang, bahwa ketidaksempurnaan tiap titik malam adalah tanda tangan manusia yang menolak untuk menjadi mesin.
Pekalongan.
Menyebut nama itu, aku seperti membuka sebuah lembaran yang sudah menguning. Kota itu adalah kampung halaman ibuku, dan juga kampung halaman sebuah tradisi yang menolak mati. Di sana, membatik bukanlah sekadar profesi. Ia adalah napas, ia adalah identitas, ia adalah semacam doa yang dirapalkan dengan canting dan malam.
Sodik, kawanku dari Pekalongan, pernah bercerita bahwa para juragan batik di sana tidak pernah pelit ilmu. Mereka membagi pengetahuan seperti membagi udara—gratis, melimpah, tanpa pamrih. Orang-orang dari Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Papua, datang ke kota kecil di pesisir utara Jawa itu, dan pulang membawa pulang bukan hanya teknik, tapi juga ruh: semangat untuk mencipta, semangat untuk mewariskan.
“Dadi pembatik kuwi sejatine dadi wong sing lila,” kata Sodik. Menjadi pembatik itu sejatinya adalah menjadi orang yang ikhlas.
Aku merenungkan kata-kata itu. Ikhlas—sebuah kata yang begitu Jawa, begitu dalam, begitu sulit diterjemahkan. Ikhlas berarti memberi tanpa menghitung, mencipta tanpa menuntut pengakuan, mewariskan tanpa meminta imbalan. Mungkin itulah sebabnya batik tidak bisa dipisahkan dari spiritualitas. Karena setiap titik malam yang ditorehkan adalah latihan melepaskan ego, setiap warna yang dicelupkan adalah latihan menerima bahwa hasil akhir bukan sepenuhnya milik kita, setiap helai kain yang selesai adalah latihan untuk mengikhlaskan karya pergi menemui takdirnya sendiri.
Aku masuk dalam percakapan itu. Bukannya sok pamer, tapi aku memang punya banyak batik. Batik Tanjung Bumi dari Madura, kubeli ketika mengunjungi Cak Rosadi—kini ia menjadi Atdikbud di Moskow, sebagai oleh-oleh dari tanah Madura yang garang dan indah. Batik Pekalongan, batik Lasem, batik Bakaran dari Pati—setiap helainya adalah sebuah perjalanan, sebuah kisah, sebuah temu yang tak disengaja.
Ada juga Sasirangan dari Banjarmasin, yang bermotif garis-garis tegas seolah menyimpan ritme sungai. Batik motif Papua, dengan coraknya yang berani dan warna ngejreng, seperti teriakan visual dari bumi timur yang perkasa. Batik motif Kujur dari Tanjung Enim, yang aku bayangkan diciptakan oleh tangan-tangan perempuan Sumatera Selatan yang mulai belajar dari para guru yang sanadnya bermuara di Pekalongan.
Dan—ah, batik-batik eksperimental. Batik karya siswa-siswa disabilitas, yang dibuat dengan teknik ciprat. Tidak ada keteraturan sempurna di sana, tidak ada simetri yang matematis. Yang ada adalah kebebasan, adalah kejujuran yang langka. Setiap cipratan malam di kain itu seperti jejak jiwa yang menolak untuk dipenjara oleh standar-standar. Mereka mungkin tidak akan disebut “batik bagus” oleh mereka yang menilai marwah dari harga. Tapi bagiku, batik-batik itu adalah yang paling berharga, karena ia lahir dari tempat yang paling murni: dari hati yang tak peduli pada definisi.
Di sela-sela perbincangan itu, sebuah pantun Jawa kuno melintas di kepalaku:
“Ajining diri ana ing lathi, ajining sarira ana ing busana.”
Harga diri terletak pada ucapan, harga tubuh terletak pada busana.
Apakah itu berarti kita menilai manusia dari pakaiannya? Tidak sesederhana itu. Bagiku, pepatah ini bukan tentang menilai, melainkan tentang menghormati—menghormati diri sendiri, menghormati orang lain, menghormati momen. Ketika kita memakai batik yang bagus di acara penting, kita bukan sedang pamer atau menutupi kekurangan. Kita sedang menyatakan: “Aku menghormati pertemuan ini, aku menghormati engkau yang hadir, dan aku menghormati diriku sendiri yang telah menempuh perjalanan panjang untuk sampai di sini.”
Batik adalah media dari penghormatan itu. Ia adalah tata krama yang mewujud dalam tekstil, etiket yang dirajut dalam benang, unggah-ungguh yang dicetak dalam motif.
Tapi sesungguhnya, ajining sarira—harga tubuh—tidak berhenti pada busana yang kita kenakan. Lebih jauh lagi, ia terletak pada cerita yang membentang di antara benang-benangnya, pada tangan-tangan yang telah menorehkannya, pada luka dan cinta yang membentuk polanya, dan pada keberanian kita untuk terus membatik kehidupan, setitik demi setitik, meski tak ada yang tahu akan seperti apa hasil akhirnya kelak.
Bandung – Soetta, Mei 2026
