YOGYA – Rame-rame soal ijazah milik mantan Presiden RI ke-7, membawa Jokowi sampai ke Museum Wahanarata, Yogyakarta. Jokowi terlihat meletakkan jari tangannya di depan bibir. Mengisyaratkan agar orang tidak berbuat atau tidak berkata sesuatu.
Menariknya, ekspresi seperti itu dilakukan Jokowi di dalam satu tempat yang aneh: botol.
Itulah tangkapan imajinasi Faisal Budiharsa yang dituangkan di atas kanvas dengan judul “Takdir yang Diperdebatkan.” Perupa asal Magelang ini sepertinya prihatin dengan kejadian yang menimpa mantan Presiden ini.
Tak hanya Jokowi. Gibran pun muncul di Kagungan Ndalem Museum Wahanarata Kraton Ngayogyakarta sejak 17 Mei 2025. Terlihat wajah Gibran seperti orang kebingungan. Di depannya ada jambu mete warnah merah.
Goresan tinta di atas kertas karya Solichin ini diberi nama “plesetan” dari dua judul film. Film pertama Noktah Merah Perkawinan. Dan film kedua Marmut Merah Jambu. Solichin memberi juudul karyanya ini Noktah Merah Jambu Mete.

Dua karya tersebut adalah sebagian karya dari 55 peserta Pameran Menggambar #4 Kelompok GoART merayakan Mei Bulan Menggambar. Dengan tajuk “Dwipantara” para perupa mengangkat berbagai sudut keindahan Nusantara maupun persoalan sosial politik yang melingkupinya.
Kurator Pameran Dr Hadjar Pamadi membingkai karya Solichin dan Faisal ini dengan menyebut karya gambar sebagai media mengutarakan gagasan. Oleh karenanya gambar menjadi catatan kejadian kemudian disimpan sebagai memori.
Kuratorial lengkap Hadjar Pamadi baca di sini: Dwipantara
“Di sini gambar ingin dijadikan penampung ide untuk mengembangkan visi seperti yang dikatakan oleh Gustav Klimt bahwa: Art is a line around your thoughts, ” jelas Hadjar Pamadi.
Dwipantara sebagai tajuk pameran dalam rangka Hari Menggambar Nasional pada bulan Mei 2025. Tujuannya adalah memahami, menghayati, mengembangkan, mempertahankan serta memperjuangkan kekayaan hayati maupun sosial Indonesia.
“Para seniman mengangkat Dwipantara sebagai objek material maupun formal, berisi: kondisi situasi geografi, lingkungan sosial, lingkungan spiritual menjadi karya gambar, ” tambah Hadjar Pamadi.
Dalam pengantar kuratorial pameran, Hadjar Pamadi juga menguraikan bahwa Sumpah Palapa yang diteruskan menjadi Dwipantara diekspresikan oleh para seniman berupa representational art maupun nonrepresentational art. Langgam realistik, realisme dan surealisme dengan menggarap objek material dengan teknik realis, dekoratif maupun vignetis.
Sedangkan Sekretaris GoART Erwan Widyarto menegaskan bahwa pameran di Museum Wahanarata ini merupakan pengukuhan diri kelompok GoART. Go ART mengukuhkan eksistensinya di ruang yang sarat akan sejarah dan budaya: Museum Wahanarata, Kraton Yogyakarta.
“Pameran Drawing #4 Dwipantara, 17 Mei-1 Juni 2025, menjadi penanda kematangan dan dedikasi mereka dalam mengangkat tema keragaman budaya dan kekayaan alam kepulauan Indonesia melalui goresan-goresan yang penuh makna, ” paparnya.
Kepala Museum Wahanarata GKR Bendara menyambut baik pameran ini. Dikatakannya, pameran kelompok GoART tahun ini merupakan tahun kedua. Pada waktu pameran pertama, antusias pengunjung luar biasa. Karenanya, Gusti Bendara pun membuka pintu untuk pameran selanjutnya. **
