GM Launching Buku, Hotelnya Menasbihkan Diri sebagai Penyedia Makanan Indonesia

ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ

Ninda Kariza saat memberikan ulasan terhadap buku Hospitality karya Ibnu Novel.

Kunci kesuksesan dalam pengembangan pariwisata adalah inovasi, adaptasi dan kolaborasi. Sepertinya hal inilah yang diyakini dan sekaligus dijalankan oleh hotel milik Ketua Kospin Jasa yang berada di wilayah Gejayan, Condongcatur ini. Setidaknya, hal itulah yang bisa dilihat dalam peluncuran buku karya sang General Manager (GM) hotel tersebut, Senin malam (25/8).

Erwan Widyarto, Yogya

“KALAU menginap di hotel kami dan mau sarapan American breakfast dipastikan tidak tersedia. Tetapi kalau sebelumnya bilang ke petugas, akan disiapkan menu yang diminta, yang insyaAllah enak,” ungkap Ibnu Novel Hafidz dalam peluncuran buku Hospitality: Memenangkan Bisnis, Memuliakan Pelanggan.

Novel menyampaikan inovasi dalam pelayanan di hotelnya. Dan penyajian makanan khusus Nusantara tersebut diyakini membawa okupansi Grand Keisha hotel stabil dan tak kurang dari 87 persen. “Dengan menggunakan strategi makanan Nusantara ini, kami sejak Januari 2025, meski suasana hotel pada umumnya berteriak, alhamdulillah Grand Keisha okupansinya masih di atas 87persen. Dan kami 100 persen karyawan masih masuk kerja seperti biasa. Tak ada PHK,” tambah mantan Penyiar TVRI  Stasiun Yogyakarta ini.

Dikatakan pula, pemilihan menu Nusantara ini juga sebagai bentuk pelestarian makanan tradisional di tengah gempuran makanan asing.  Ia pun bercerita, sangat menyedihkan kalau anak-anak gen Z diajak makan gudeg, pilihnya ramen. Padahal  ramen itu sebenarnya bisa diganti dengan bakmi godog. Terus sayur asem, mereka ngomongnya tom yam, atau pilih sushi padahal itu kita punya arem-arem,” selorohnya.

Inovasi menu makanan untuk tamu hotel ini semakin mantap dilakukan karena selama empat tahun berturut-turut,  Traveloka memberi penghargaan kepada Grand Keisha sebagai hotel dengan makanan terenak di Yogya.

“Saya berani mengambil sikap itu juga karena pada 2022, Markplus 2000 menganugerahkan Planet Tourism Award, dan kami mendapatkan Silver Award sebagai hotel yang menyajikan makanan sehat sesuai dengan CHSE,” tambah pria asal Pekalongan ini.  Artinya, menu Nusantara juga menjadi salah satu bentuk adaptasi masa Pandemi.

Novel menceritakan pula, satu hal yang membuatnya terbangun sikap percaya diri yang bertambah. Yakni, saat Bank Indonesia perwakilan Semarang, mengadakan acara di Borobudur memilih menggunakan katering dari Grand Keisha.

Waktu itu berlangsung Central Java Investment Forum, yang dihadiri tamu-tamu investor dari seluruh dunia. Grand Keisha menyajikan makanan-makanan  tradisional Nusantara seperti Rendang Malintang Sakti, jagung gunung, dan Sanggabuwana.  “Dan mendapatkan apresiasi yang sangat bagus. Bahkan Gubernur  Jawa Tengah waktu itu, Ganjar Pranowo bilang, makananmu enak banget.”

Tak pelak, acara peluncuran buku malam itu, sekaligus andrawina bertajuk Maharasa Nusantara adalah pembuktian kepada tamu yang datang betapa lezatnya sajian makanan Nusantara di Grand Keisha.  Sebelum acara dan saat acara, para tamu menikmati makanan Nusantara seperti nasi Megana, lumpia perpaduan budaya Cheng Ho dan Sriwijaya, lontong Cap Go Meh, dan sebagainya.

Penandatanganan kesepakatan antara Grand Keisha dengan sejumlah mitra dalam pengembangan pariwisata DIY. (Foto2: Erwan Widyarto)

Acara malam itu juga diwarnai kolaborasi dalam pengembangan pariwisata. Grand Keisha menggandeng belasan mitra yang diajak bersama-sama untuk maju dan mengembangkan pariwisata DIY. Ada Bank Mandiri, Batik Allussan, Kenes Bakery, The Duck King, Bakpia Wong, Hasha Sushi and Grill, Heha Sky View dan lain-lain. 

Kendati berbungkus peluncuran buku, acara Maharasa Nusantara malam itu menampilkan banyak hal yang berhubungan dengan pengembangan pariwisata. Dalam setiap paparannya, Ibnu Novel Hafidz memperlihatkan pengalamannya  sebagai seorang  event organizer dalam mengemas event.

Soal kolaborasi dengan berbagai pihak tersebut, misalnya, pernah ia lakukan saat menjadi pelaksana HUT Kota Yogya. Yakni dengan menggelar Yogya Great Sale. Ia menggandeng banyak mitra –toko maupun hotel dan restoran—untuk melakukan diskon besar-besaran agar menarik orang datang ke Yogya. Keberhasilan program tersebut yang diyakininya juga akan bisa dicapai dengan kolaborasi saat ini.  

Launching buku, peneguhan diri sebagai hotel dengan makanan Nusantara, penandatanganan MoU kolaborasi, dan pengenalan produk menu baru plus stand up comedy yang melibatkan banyak talent, diramu dengan sangat baik.

Launching buku ditandai dengan penyerahan buku dari Direktur Penerbit Gava Media Listyanto kepada penulis Ibnu Novel. Oleh Novel secara simbolis buku diserahkan kepada insan pariwisata yakni pada Ketua DPD Asita DIY Atok Sunarjati  dan Ketua BPD PHRI DIY yang diwakili Muhammad. Kemudian sebagai pengulas buku ada Prof Junaidi (Universitas Teknologi Yogyakarta), Ninda Kariza (penyiar) dan Prof Ida Rochani Adi (Pengajar Etika).

Kelik Pelipur Lara saat tampil di acara Maharasa Nusantara.

Sebagai penutup tampil komedian Kelik Pelipur Lara. Pria dengan nama asli Kelik Sumaryoto ini pernah ngetop dengan perannya sebagai JK di Republik BBM yang tayang di televisi swasta nasional. Kelik rupanya temen lama Ibnu Novel saat awal merintis karis sebagai EO dan penyiar. Novel mengakui salah satu keberhasilan acara malam itu adalah hadirnya sejumlah sahabat lama dari berbagai kalangan. Selain Kelik, Ninda, Prof Ida Rochani yang disebut Novel sebagai ibu yang mengajarinya etika dan kepribadian, hadir pula mantan Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo, Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi UII Prof Masduki, yang dulu penyiar Radio Unisi.*

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *