Dwipantara

ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ ꦮꦶꦱꦠ


Oleh: Hajar Pamadhi

A true artist is not one who is inspired, but one who inspires others (Salvador Dali)

Kata Dwipantara semula adalah Mandala Dwipantara; sebuah wawasan kebangsaan di masa kejayaan Kerajaan Majapahit berupa gagasan menyatukan pulau-pulau Nusantara. Ide Dwipantara dimulai oleh Kertanegara namun berhenti karena mangkat. Di samping itu kondisi kerajaan sedang dirundung duka terjadi kudeta oleh Prabu Jayakatwang. Lebih parah lagi disusul mendaratnya 20 ribu pasukan Mongol di Pelabuhan Kambang Putih, Tuban, pada 1293 M.

Kemudian Gajah Mada di bawah pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi (Bhre Kahuripan) meneruskan gelar Mandala Dwipantara dengan Sumpah Palapa (1334 M). Kemunculan Gajah Mada ini sebagai respons menguatnya pengaruh Tiongkok di Asia Tenggara. Kondisi ini juga mengalami kemacetan Sumpah Palapa, karena Gajah Mada (1364 M) dan Rajasanagara alias Hayamwuruk (1389 M) wafat.

Mandala Dwipantara hadir kembali ketika para pemuda: Jong Java, Jong Sumatera, Jong Celebes serta yang lain bertekad mengembalikan sebagai Sumpah Pemuda 1928. Konsep Mandala Dwipantara berstatus politik merujuk  perlunya penyatuan pemuda dari berbagai golongan, pulau-pulau untuk bersatu. Dwipantara merupakan satuan pulau-pulau di antara dua Samudera Hindia (sebelah Barat dan Selatan) dan Samudra Pasifik (sebelah Timur Laut) sebagai satu kesatuan Indonesia. Pulau yang mempunyai keragaman hayati, budaya serta sosial ini menjadi kekayaan yang indah.

Mandala Dwipantara sebagai tajuk pameran dalam rangka Hari Menggambar Nasional pada bulan Mei 2025. Tujuannya adalah memahami, menghayati, mengembangkan, mempertahankan serta memperjuangkan kekayaan hayati maupun sosial Indonesia. Para seniman mengangkat dwipantara sebagai objek material maupun formal, berisi: kondisi situasi geografi, lingkungan sosial, lingkungan spiritual menjadi karya gambar.

Beberapa perupa mempermasalahkan pengertian menggambar dengan melukis, karena setelah berdirinya Académie Royale de Peinture et de Sculpture (Akademi Seni Rupa Kerajaan) tahun 1648 karya dinilai berdasarkan standar akademik. Karya seni lukis terstrata berdasarkan kualitas penampilannya. Akademi yang merupakan lembaga seni rupa berkompetensi menetapkan standar peniliaian untuk seni klasik dan neo-klasik yang berdampak pada pengertian keduanya.

Pameran Dwipantara menetapkan pengertian menggambar dan melukis itu dari sudut karya, keduanya hadir dalam bentuk gambar. Oleh karen itu, semasa kejayaan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI) 1937/1938, dengan Agus Djaya (Ketua) dan S. Sudjojono (Sekretaris) diartikan sama. Dasar diperdebatkannya gambar dan lukis dari pengertian menggambar menghasilkan kesan garis atau gores (to draw atau to scretch).

Sumpah Palapa yang diteruskan menjadi Dwipantara diekspresikan oleh para seniman berupa representational art maupun nonrepresentational art. Langgam realistik, realisme dan surealisme dengan menggarap objek material dengan teknik realis, dekoratif maupun vignetis.

Demikian pula teknik inkonvensional serta menggarap medium inkonvensional termasuk mixed media dan berbagai aplikasi, serta ungkapan ekspresionistiknya. Para perupa ini sengaja mengangkat cerita fiktif kemudian dikemas menjadi tampilan realis agar memberi nuansa abstraksionistik. Dari tampilan ini memunculkan:

  • Karya gambar yang ingin menceritakan lingkungan sekitar sebagai motivasi mengekspresikan lingkungannya. Seperti dikatakan oleh: While drawing I discover what I really want to say (Dario Fo). Karya mereka dimulai dari mengembangkan objek material dikemas dalam subjek realis. Namun, para seniman mempunyai cara mengekspresikan yang khas; mendasarkan pada sketsa, ilustrasi, maupun realisme dan resealisme mengaitkan konsep ide surealisme dan langgam surealisme.  Daliya, Herlina, Aileen Nathalia Pranata, Ch Sapta, Alditiya Rakasiwi, Mardi Yuwono, Munawir, Oko, Sentot, Sarjiyanto Sekar, Firmanto, Didiet Njedhit, Mulyoto, Dewantoro Purbo, Hadiyanto, Sapek Syafei, Agus Winarto, Fahrurozi, Ninik Purwanti dan Benny Dimsiki.
  • Karya gambar sebagai media mengutarakan gagasan, oleh karenanya gambar menjadi catatan kejadian kemudian disimpan sebagai memori. Di sini gambar ingin dijadikan penampung ide untuk mengembangkan visi seperti dikatakan oleh Gustav Klimt bahwa: Art is a line around your thoughts. Para seniman Agung Suryahadi, Edi Wahyono, Rahmat Supriyadi, Yoset Wibowo, Arif Setyadi, Rangga Jalu Pamungkas, Barlin Srikaton, Herjaka, Erwan Widyarto, Solichin Kadar Muhammad dan Ahmad Syaify.

Akhirnya, penampilan ini mungkin dirasakan belum memuaskan. Seni memang tidak pernah berakhir. Kreativitas selalu dibangun melalui berkarya terus-menerus. Keyakinan tetap ada bahwa menggambar adalah proses komleks, tidaknya menghasilkan karya melainkan proses memahami objek, menhgolah objek agar orang lain mampu membaca estetika berkarya.

Selamat atas pameran Dwipantara

Semoga alam Indonesia ini mampu diungkap sebagai kekayaan bangsa dan sebagai modal mempertahankan tanah kelahiran kita. *

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *