YOGYA – Pernyataan sangat memprihatinkan disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres. “Dunia membuang terlalu banyak pangan. Setiap hari, kita membuang pangan cukup untuk menyiapkan satu miliar porsi, sedangkan sembilan persen umat manusia dibiarkan kelaparan,” kata Guterres dalam video di web resmi Sekretariat Jenderal PBB, Senin (30/3/2026).
Ia menyampaikan hal tersebut dalam keterangannya menyambut Hari Tanpa Sampah Internasional atau International Day of Zero Waste yang diperingati setiap 30 Maret. Pada peringatan tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti krisis limbah pangan global yang kian mengkhawatirkan.
Peringatan Hari Tanpa Sampah Internasional ini diputuskan pada 14 Desember 2022, melalui sidang ke-77 PBB. Pada sidang itu, Turkiye mengajukan resolusi lalu 105 negara lainnya mengikuti untuk mensponsori. Resolusi ini mengikuti resolusi lainnya yang berfokus pada sampah, termasuk semboyan Mengakhiri polusi plastik, menuju instrumen yang mengikat secara hukum dan internasional diadopsi di Majelis Lingkungan PBB pada Maret 2022.
Ditegaskannya, pembuangan makanan bukan hanya berdampak pada aspek sosial, tapi juga memperparah krisis lingkungan. Limbah makanan turut membahayakan iklim, merusak ekosistem, dan mengancam kesehatan manusia.
Sekjen PBB mengingatkan bahwa pangan tidak boleh dianggap sebagai sumber daya yang selalu tersedia tanpa batas. “Bersama-sama, mari kita bangun sistem pangan tanpa sampah yang mampu menopang kehidupan manusia dan menjaga planet ini,” imbuh Guterres.
Apa yang bisa kita lakukan? Upaya yang bisa dilakukan untuk mengurangi limbah makanan, antara lain mengubah kebiasaan berbelanja dan memasak. Sedangkan untuk pengelola ritel dapat mengoptimalkan operasional serta mendistribusikan kembali pangan yang berlebih.
Sekjen PBB Guterres juga mengimbau agar setiap kota dapat memperluas pemilahan limbah organik dan menerapkannya di sekolah serta rumah sakit. “Pemerintah dapat mendorong perubahan sistemik dengan memasukkan pengurangan limbah pangan ke dalam aksi iklim dan rencana keanekaragaman hayati serta membangun kemitraan publik-swasta,” tegas Guterres.
PBB telah meluncurkan berbagai inisiatif global, antar lain Food Waste Breakthrough dan No Organic Waste dalam Conference of The Parties (COP30). Melalui program tersebut, dunia ditargetkan mampu mengurangi limbah pangan hingga 50 persen pada 2030. Upaya ini dinilai berpotensi menekan emisi metana hingga tujuh persen sekaligus mendorong terciptanya sistem pangan yang lebih sirkular dan tangguh.
“Selain melindungi planet kita, upaya ini akan menciptakan pekerjaan hijau, mengurangi kerawanan pangan dan dampak iklim, dan mencegah kerugian ekonomi hingga satu triliun dollar (Amerika Serikat, sekitar Rp 16.000 triliun) setiap tahun,” jelas Guterres.
Selama Hari Internasional Tanpa Sampah, negara anggota, organisasi-organisasi dalam sistem PBB masyarakat sipil, sektor swasta, akademisi, pemuda, dan pemangku kepentingan lainnya diajak untuk terlibat pada aktivitas yang bertujuan meningkatkan kepedulian nasional, subnasional, regional, dan lokal terkait sampah.
Peringatan ini juga dinilai membantu mendorong tujuan dan target Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 (Sustainable Development atau SDGs) 11 dan 12. Poin SDGs tersebut membahas semua bentuk sampah, termasuk pemborosan makanan, ekstraksi sumber daya alam, serta sampah elektronik. (wid)
