ESAI
Dopamin yang Disuling dari Hujan Senja

OLEH: AK SUPRIYANTO Jogja selalu menyenangkan. Selalu kurindukan. Tubuhku seperti merilis sejenis hormon yang tak bernama—mungkin sejenis dopamin yang disuling dari hujan senja, dari asap angkringan, dari debu jalan-jalan kecil yang dulu pernah kujejaki dengan sandal jepit dan mimpi yang masih basah. Kendati banyak segi dari kota ini berubah drastis, lanskap maupun kehirukpikukannya, ada semacam […]

ꦭꦚ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦕ

Tasbih Raksasa di Tamalabba

OLEH: AK Supriyanto SEBELUM menjadi ”Bapak APAR (Alat Pemadam Api Ringan)”, Haris hanyalah seorang lelaki yang takut pada api. Bukan takut yang biasa, yang membuatnya menjauh dari tungku atau berhati-hati dengan korek. Tapi, takut yang bersarang di tulang rusuk, yang membuatnya terbangun di malam hari hanya untuk memeriksa colokan listrik, yang membuatnya selalu duduk di […]

ꦭꦚ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦕ

ESAI
Catatan Bagi yang Hendak Pulang

OLEH: AK Supriyanto —untuk penumpang kereta yang tubuhnya tak sempat tiba Pernahkah engkau dengar bagaimana rel bernyanyi di malam hari? Bunyi itu—tak-tak-tak, tak-tak-tak—adalah detak jantung tanah Jawa, irama yang kuhafal sejak usia belia. Ketika gerbong-gerbong Senja Utama mulai meluncur dari Stasiun Tugu, ketika Matarmaja membelah pematang sawah yang menguning di senja hari, ketika KRL Commuter […]

ꦭꦚ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦕ

Rektor UII Baca Puisi di Peluncuran Gejayan Id

Katanya ia suka mendengar bahkan sangat terbuka asal yang masuk sesuai selera telinga Kritik disebut berisik Nasehat dianggap mengganggu Dan siapa pun penyambung suara rakyat langsung dicap: antek-antek asing atau anggota permanen barisan sakit hati… ITULAH sepenggal puisi yang berjudul Telinga Tebal . Puisi ini dibaca oleh Rektor UII Fathul Wachid di acara peluncuran situs […]

ꦭꦚ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦕ

ESAI AK Supriyanto
Kenangan yang Diasinkan

DI TANAH rantau yang berhawa sejuk ini, aku adalah sebongkah kenangan yang terapung-apung di antara dua arus. Yang satu arus laut Pantura nan bergemuruh dan asin, yang telah mengaliri pembuluh darahku sejak kanak-kanak. Satunya lagi arus sungai-sungai tenang dan kolam-kolam sunyi di dataran tinggi Priangan, yang airnya tawar, yang napas ikannya berlumpur dan berbau tanah. […]

ꦭꦚ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦕ

ESAI AK Supriyanto
Para Penjaga Cahaya

(Renungan di Hari Pendidikan Nasional) DI BAGIAN selatan Pekalongan, di sebuah desa yang bahkan angin pun enggan singgah, pernah hidup seorang guru muda. Ia adik perempuanku, anak ketiga dari empat bersaudara, yang memilih jalan sunyi sebagai guru honorer di sebuah sekolah dasar yang nyaris dilupakan peta. Setiap pagi, sebelum masa subuh usai, ia sudah menggenjot […]

ꦭꦚ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦕ

ESAI AK Supriyanto
Biru yang Menari di Kanvas Memoriku

Pagi itu, biru menyergapku tanpa permisi. Dua puluh lima tahun adalah gurun yang cukup luas untuk menenggelamkan seluruh pameran seni yang pernah kusinggahi. Aku telah menjadi asing pada diriku sendiri—pada lelaki muda yang dulu mencintai garis, mencumbui tekstur, dan meniduri warna dengan kata-kata. Jurnalisme budaya telah lama kutinggalkan, seperti kanvas yang tertutup debu di sudut […]

ꦭꦚ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦕ

ESAI AK SUPRIYANTO
Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya

Malam ini, Indonesia kehilangan penyairnya lagi. Bukan, ia tak mati hari ini. Ia telah pergi sejak bertahun-tahun lalu, tapi kepergiannya terasa kembali setiap kali negeri ini gemetar oleh kekuasaan yang lupa diri, setiap kali puisi dianggap barang usang, setiap kali panggung-panggung kehilangan daya hidupnya. Aku hanya dua kali duduk dekat dengannya. Dua kali yang singkat, […]

ꦭꦚ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦕ

Catatan dari Final ProLiga 2026 di Among Rogo (2-Habis)
Sosok Penting di Balik (Kemenangan) LavAni

DI ANTARA pusaran emosi manusia itu, pandangan saya beberapa kali tertumbuk pada satu sosok di tribun kehormatan. Seorang lelaki senior berbalut polo short biru navy yang senada dengan jersey kami. Ia duduk, senantiasa kalem, bertepuk tangan dengan wibawa yang tak perlu dicari—Susilo Bambang Yudhoyono.  Akrab disapa SBY. Oleh: AK Supriyanto, fan LavAni dari Bandung Di […]

ꦭꦚ꧀ꦗꦸꦠ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦕ