Gambar iku koyo tapaking kuntul kang lagi nglayang.
Drawing at its best is not what your eyes see but what our mind understands (Millard Sheets)
Tajuk pameran Heritage (warisan) ternyata sedang membumi dan dibumikan dalam berbagai konteks: pariwisata, museum, sosial dan budaya serta pendidikan. Warisan adalah sesuatu peninggalan (objek) budaya dari pendahulu diberikan kepada generasi berikutnya. Cara merawat budaya tersebut bisa berbentuk benda material (bendawi) dan nonbendawi. Warisan ini dipromosikan untuk dijadikan: sistem pertahanan budaya (cultural resilience) yang selanjutnya dikatakan sebagai narasi warisan budaya (the heritage trail) termasuk arsitektur, benda sejarah yang terkait dengan story line suatu daerah.
Pameran gambar dalam tajuk heritage dalam rangka Bulan Menggambar adalah usaha untuk mempromosikan benda warisan budaya Ngayogyakarta. Kata Gambar sendiri mempuyai banyak arti dan presentasinya. Semula, gambar adalah representasi suatu bentuk atau objek, dapat berupa lukisan, ilustrasi, visualisasi bayangan berupa ungkapan jiwa atau segala sesuatu yang mewakili (representasi) ide dan gagasan. Namun, seiring dengan perkembangan IPTEKS makna gambar mengalami degradasi.
Gambar sebagai produk budaya saat sebelum Indonesia merdeka memuat arti banyak dan komprehensif. Sebagai contoh, PERSAGI (Persatuan Ahli Gambar) adalah sekelompok seniman yang mewujudkan gagasan berupa figure, bentuk karya dua dimensi; gambar menjadi wahana mengutarakan pikiran dan gagasan. Sudjojono 1941 mengatakan dalam gambar ini tercermin ‘diri’ (‘jiwa katon´). Gambar (to scratch)berarti menggaruk, menggores dengan benda tajam menghasilkan kesan goresan setelah kemerdekaan (Post Colonial) menjadi the second class karena hasil goresan ini terkesan sederhana dan naif.
Dunia postmodern mengangkat kembali hakikat gambar; gambar secara substansif adalah tumpuan titik suatu goresan (garis) yang menghasilkan garis imajiner. Garis menjadi kata sentral yang mewakili limit suatu bentuk. Dalam paralogika seni, garis adalah kesan sebuah gerakan hingga menjadi bentuk, seperti pepatah Jawa menyebutkan: garis iku koyo tapaking kuntul kang lagi nglayang (seperti garis gerak seekor burung camar yang sedang terbang). Garis menjadi sketsa gerakan yang penuh arti dan gambar merupakan hasil pengamatan, pemikiran makrifat, ungkapan jiwa dan sebuah goresan pengangkapan objek gerak.
Proses representasi gambar tersebut melalui pembacaan dan menginterpretasi objek agar dapat diubah menjadi symbol dan subjek gambar; apakah symbol bentuk atau karakter. Seorang filsuf, Pestalozi mengangkat gambar sebagai pengetahuan dasar yang mampu membuat imajinasi peseni, karena melalui kegiatan menggambar seseorang akan mempertanyakan suatu bentuk: asal-usul, anatomi tubuh, kemiripan bentuk dan merujuk berpikir metafisik. Kemudian, gambar dimanfaatkan oleh dunia pendidikan karena berperan menjelaskan pikiran orang lain, atau menjelaskan suatu masalah.
Akhirnya, pameran bertajuk heritage ini para peseni mengekspresikan objek warisan budaya keraton bendawi maupun nonbendawi menjadi beberapa pola penciptaan:
- Gambar ekspresif, merupakan hasil perenungan peseni terhadap warisann bendawi maupun nonbendawi melalui rasa simpatiknya. Paul Cezanne mengatakan: gambar itu seyogyanya merupakan ungkapan perasaan (a work of art which did not begin in emotion is not art). Melalui pendalaman dan menginterpretasi objek direpresentasikan menjadi karya-karya ekspresif; goresan spontan, brush strokes dilakukan oleh Agus Nugroho, Daliya, Sentot Regede, Jedink Alexander, Faesol Budiharso, menuju impresi sebuah bentuk warisan budaya.
- Gambar penjelas (Ilustrasi); para peseni mengangkat warisan bendawi kemudian direpresentasikan berdasarkan visi dan pengamatannya. Kemungkinan, objek- objek yang diamati terdapat pesan yang harus disampaikan; In drawing, one must look for or suspect that there is more than is casually seen (George Bridgman). Peseni: Yoset Wibowo, Aileen Nathania Pranata, Agung Suryahadi, Djumadi, Christina Anggriyani, Podang S., Agung Suhastono, Tri Wiyono, Firmanto, Herjaka, Endang Pratiwi, Endang Apriyanto, Ninik Purwanti, Erwan Widyarto dan Moelyoto, mereka mengekspresikan kembali ke dalam gambar realistic dengan berbagai langgam: realisme, ilustratif bahkan dekoratif menuju doodle art agar lebih memperjelas pesan objek tersebut.
- Gambar Bentuk dan Gambar Model (style life Drawing); sebagian peseni yang piawai teknik menggambar, termasuk teknik perspektif, anatomi plastik, arsir maupun penguasaan Cahaya akan diungkapkan secara realistk dan realisme. Peseni Djentot Subechi, Agus Winarto, Juwanto, Nur Arifin, Sarjiyanto Sekar, Rohmat Safei, Sri Wahyuni sengaja menunjukkan kemampuan pencerapan makna objek dan mengekspresikan secara konsisten dan konvensional menjadi karya gambar berdasarkan pikirannya sehingga menyenangkan bagi penikmat. Hal ini disindir oleh Pierre Auguste Renoir: To my mind a picture should be something pleasant, cheerful and pretty. There are too many unpleasant things in life as it is, without creating still more of them.
- Gambar khayal (imajinatif); gambar sebagai hasil pengutaraan pikiran, perasaan yang rumit menyebabkan bentuk-bentuk terdestruktif, juga menambahkan gagasan hasil interpretasi terhadap objek.Ketika para peseni ini berekspresi ternyata menemukan hakiki bentuk dan akhirnya mengubah dan memodifikasi objek yang dihadapi menjadi simbol-simbol artistic seperti dikatakan Dario Fo: While drawing I discover what I really want to say (Dario Fo). Peseni Ahmad D, Agus Klowor, Riyanto Jiang, Yoset Wibowo, Barli Srikaton, Tales Suparman dan Mardi Yuwono mampu mengembangkan bentuk realis dari objek nonmaterial melalui pengembaraan batin menjadi karya sketsa bentuk, karya sketsa kehidupan maupun sketsa kosmologi.
Tampilan para peseni sengaja: (1) mengambil objek material dijadikan karya realistic dengan berbagai langgam, (2) mengambil objek material kemudian direpresentasikan menjadi seni nonreprsentasional, (3) menafsirkan objek sesuai garis esoterik namun ditampilkan menjadi karya seni representasional, dan (4) mengambail esoteric dan mendasarkan kepada noumena-noumena dan dipresentasikan menjadi karya seni nonrepresentasional.
Keanekaragaman tampilan dan pameran ini menunjukkan bahwa Gambar tetap eksis seperti sediakala: ‘gambar adalah wujud yang diekspresikan ke dalam taferil dapat berisi gagasan, pikiran, pencandraan, refleksi kehidupan dan representasional yang divisualkan sesuai dengan visi masing-masing peseni.
Selamat berpameran, gambar-gambar itu adalah gambaran nyata kehidupan budaya sebagai the heritage dan sebagai gambaran isi hati dan pikiran para peseni. ***
BACA JUGA : Catatan Kecil Erwan Widyarto tentang Pameran Heritage klik di sini.
