OPINI
Sawah di Mal, Etalase Desa Wisata

Headline

Ilustrasi by AI

OLEH: ERWAN WIDYARTO

SEBUAH pusat perbelanjaan di Tiongkok mendadak berubah wajah. Atrium yang biasanya dipenuhi etalase fesyen dan promosi berbagai produk disulap menjadi hamparan sawah. Anak-anak dan orang tua turun ke lumpur, menanam bibit padi, merasakan sensasi menjadi petani, lalu mengabadikan pengalaman itu melalui telepon genggam. Aktivitas tersebut segera menarik perhatian publik karena menghadirkan sesuatu yang tidak lazim di tengah ruang modern.

Banyak orang mungkin melihatnya sebagai sekadar atraksi unik untuk mendongkrak kunjungan mal. Dari perspektif pariwisata, gagasan itu menawarkan pelajaran yang jauh lebih penting. Sawah bukan lagi sekadar lahan produksi pangan, melainkan panggung pengalaman (experience) yang mampu menghadirkan emosi, pembelajaran, dan kenangan.

BACA JUGA; 12 PRODUK WISATA BERBASIS PENGALAMAN

Indonesia justru telah lama memiliki “sawah pengalaman” seperti itu. Di berbagai desa wisata (Deswita), wisatawan dapat turun langsung ke sawah, membajak lahan dengan kerbau, menanam padi, hingga memanen hasilnya. Aktivitas tersebut bukan hal baru. Yang masih kurang justru cara mengemas dan mempromosikannya.

Sejumlah desa wisata di Yogyakarta yang menawarkan atraksi menanam padi, membajak lahan dengan kerbau hingga memanen padi di antaranya Desa Wisata Pentingsari, Desa Wisata Ekowisata Pancoh (keduanya di Sleman), Desa Wisata Kebonagung (Bantul), Desa Wisata Nglanggeran (Gunungkidul) dan  Desa Wisata Banjarasri (Kulonprogo).

Fenomena sawah di mal Tiongkok tersebut dapat menjadi inspirasi bagaimana ruang-ruang perkotaan dimanfaatkan sebagai etalase untuk memperkenalkan pengalaman autentik yang sesungguhnya berada di desa. Asal momentumnya pas, langkah tersebut bisa menjadi kolaborasi yang saling menguntungkan bagi mal dan desa wisata.

BACA JUGA: DESA WISATA JAWABAN BARU WISATA KELUARGA

Kesalahan akan terjadi apabila mal justru menghadirkan pengalaman yang lengkap itu selama musim liburan sekolah. Ketika anak-anak sudah merasa cukup bermain lumpur, menanam padi, dan berfoto di dalam gedung berpendingin udara, motivasi keluarga untuk datang ke desa wisata bisa berkurang. Dalam situasi seperti itu, mal tanpa disadari berubah menjadi kompetitor desa wisata.

Karena itu, yang diperlukan bukanlah persaingan, melainkan kolaborasi. Kebijakan Satu Mal, Satu Deswita atau semacamnya bisa menjadi langkah sinergi yang saling menguntungkan.

Bayangkan apabila tiga atau empat minggu sebelum liburan sekolah dimulai, atrium mal menghadirkan miniatur sawah hasil kerja sama dengan desa wisata. Pengunjung diperbolehkan mencoba menanam bibit padi selama beberapa menit, berinteraksi dengan petani, mencicipi kuliner desa, menyaksikan pertunjukan seni tradisional, sekaligus memperoleh informasi mengenai paket wisata yang dapat dinikmati saat liburan.

BACA JUGA: OPERASI GABUNGAN BNN DAN LAPAS BERANTAS NARKOBA

Sawah di mal bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah “trailer”. Film utamanya tetap berada di desa wisata.

Strategi promosi seperti ini jauh lebih efektif dibanding sekadar membagikan brosur atau memasang spanduk. Pengunjung terlebih dahulu dibuat penasaran melalui pengalaman singkat. Setelah rasa ingin tahu tumbuh, mereka terdorong untuk merasakan pengalaman yang lebih utuh di desa.

Pendekatan ini sejalan dengan perubahan perilaku wisatawan masa kini. Mereka tidak lagi sekadar mencari tempat yang indah untuk difoto. Mereka ingin menjadi bagian dari cerita. Menanam padi bersama petani, belajar mengolah hasil panen, memasak makanan tradisional, hingga menginap di homestay memberikan pengalaman yang tidak mungkin tergantikan oleh instalasi sementara di pusat perbelanjaan.

Kolaborasi tersebut juga menguntungkan kedua belah pihak. Mal memperoleh atraksi edukatif yang berbeda dari promosi komersial biasa. Desa wisata mendapatkan akses promosi kepada ribuan calon wisatawan yang setiap hari datang ke pusat perbelanjaan. Petani, pelaku UMKM, seniman desa, dan pengelola homestay memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk dan jasa mereka secara langsung.

Model promosi seperti ini sebenarnya dapat diperluas. Tidak hanya sawah, tetapi juga kebun sayur, kebun kopi, permainan tradisional, kerajinan bambu, membatik, hingga aktivitas memberi makan ternak dapat diperkenalkan dalam bentuk demonstrasi singkat di kawasan perkotaan. Semua diarahkan pada satu tujuan: mengundang masyarakat datang menikmati pengalaman yang sesungguhnya di desa.

Desa wisata pada akhirnya tidak boleh hanya mengandalkan keaslian alam. Keaslian tanpa promosi yang kreatif akan kalah oleh atraksi yang lebih dekat dengan masyarakat. Sebaliknya, promosi yang kreatif mampu mengantarkan wisatawan menuju pengalaman yang autentik.

Sawah di mal telah menunjukkan bahwa lumpur pun dapat menjadi magnet pengunjung. Kini tantangannya bukan lagi siapa yang paling cepat membuat sawah buatan, melainkan siapa yang paling cerdas menjadikan sawah buatan itu sebagai pintu masuk menuju sawah yang sesungguhnya. Ketika kota menjadi ruang promosi dan desa menjadi ruang pengalaman, keduanya tidak lagi saling berebut wisatawan, tetapi saling mengantarkan. *

Erwan Widyarto, Pendamping Desa Wisata dan Pegiat Pengelolaan Sampah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *