OPINI
Desa Wisata, Jawaban Baru untuk Wisata Keluarga

Headline

PENGALAMAN BERKESAN: Tamu diajak pemilik homestay membuat tempe bungkus daun. (Foto: Erwan W)

OLEH: ERWAN WIDYARTO

KETIKA merencanakan liburan keluarga, apa yang sebenarnya dicari oleh wisatawan? Apakah sekadar berpindah tempat untuk mengabadikan kebersamaan dengan berfoto? Apakah sekadar FOMO (fear of missing out)? Takut ketinggalan mengunjungi destinasi yang sedang viral di media sosial? Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam yang ingin diperoleh dari sebuah perjalanan?

Tren pariwisata global menunjukkan bahwa wisatawan, termasuk wisatawan keluarga, kini semakin mencari pengalaman yang autentik dan bermakna (deep and meaningful experience). Wisatawan tidak lagi hanya mengejar destinasi, tetapi pengalaman mendalam. Mereka ingin terlibat, belajar, berinteraksi, dan pulang dengan cerita yang lebih kaya daripada sekadar koleksi foto.

Dalam konteks inilah desa dan kampung wisata menjadi semakin relevan. Desa dan kampung wisata bisa menjadi jawaban atas kebutuhan wisata keluarga di saat musim liburan.

Interaksi Keluarga Lebih Intim

Daerah Istimewa Yogyakarta yang selama ini dikenal dengan Malioboro, Keraton, Prambanan dan berbagai destinasi ikonik lainnya sesungguhnya memiliki kekuatan besar yang belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh wisatawan keluarga. Yakni ratusan desa dan kampung wisata dengan keunikan yang sangat beragam. Desa-desa wisata ini menawarkan sesuatu yang semakin dicari wisatawan modern: deep experience atau pengalaman yang mendalam.

Di desa wisata, anak-anak tidak hanya melihat sawah dari balik jendela kendaraan. Mereka dapat turun langsung ke pematang, menanam padi, memberi makan ternak, memerah susu kambing, menangkap ikan, atau belajar mengenali tanaman obat keluarga.

Aktivitas sederhana ini mungkin tampak biasa bagi masyarakat desa. Tetapi, bagi anak-anak yang tumbuh di lingkungan perkotaan, pengalaman tersebut menjadi petualangan yang berharga.

Bahkan bagi orang tua, desa wisata menawarkan sesuatu yang semakin langka di era digital yakni kesempatan untuk memperlambat ritme kehidupan. Tidak ada antrean panjang, tidak ada keramaian berlebihan, tidak ada tekanan untuk segera berpindah dari satu atraksi ke atraksi lain. Yang ada adalah kesempatan menikmati waktu bersama keluarga secara lebih intim.

Keunikan Kuliner

Hal lain yang menjadi kekuatan desa wisata adalah kuliner. Saat ini wisata kuliner atau culinary and gastronomy tourism menjadi salah satu tren yang berkembang pesat di dunia. Wisatawan tidak lagi hanya ingin makan enak, tetapi juga ingin mengetahui cerita di balik makanan yang mereka santap. Mereka ingin mengenal bahan bakunya, proses pembuatannya, serta hubungan makanan tersebut dengan budaya setempat.

Desa wisata di Yogyakarta memiliki modal besar dalam tren ini. Di Desa Wisata Krebet, Bantul, misalnya, wisatawan tidak hanya dapat menikmati pengalaman membatik kayu, tetapi juga mencicipi ingkung Krebet, nasi kenduri, atau gudeg manggar yang jarang ditemukan di tempat lain.

Di Desa Wisata Nganggring, Sleman, wisatawan dapat menikmati gudeg salak pondoh, oseng-oseng salak, hingga susu kambing kurma setelah mengikuti aktivitas peternakan kambing Ettawa. Rombongan keluarga bisa belajar memasak dengan mengikuti program cooking class. Atau belajar membuat produk olahan dari susu kambing menjadi kosmetik.

Bagi keluarga, pengalaman seperti ini jauh lebih berkesan dibanding makan di restoran cepat saji yang menunya seragam di berbagai kota.

Desa Wisata Wellness

Tren lain yang sedang berkembang adalah wellness tourism. Setelah pandemi, semakin banyak wisatawan yang mencari perjalanan yang mampu meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Mereka mencari udara yang lebih bersih, lingkungan yang lebih tenang, makanan yang lebih sehat, serta aktivitas yang mendukung kesejahteraan diri.

Banyak desa wisata di Yogyakarta sebenarnya memiliki unsur-unsur tersebut secara alami. Lingkungan pedesaan yang asri, kebun herbal, jamu tradisional, aktivitas berjalan kaki di alam terbuka, yoga tradisional hingga makanan berbasis bahan segar lokal. Ini merupakan bagian dari gaya hidup masyarakat desa yang kini justru menjadi kebutuhan wisatawan modern.

Desa wisata Sidorejo, Lendah, Kulonprogo, misalnya, memiliki atraksi wellness yang menarik. Pengunjung bisa menikmati minuman herbal yang berbeda-beda sesuai dengan pawukon. Perhitungan lahir menurut tradisi kalender Jawa. Dengan menyebutkan tahun dan tanggal lahir, maka tamu akan diketahui memiliki wuku apa dan kemudian ramuan minuman yang cocok dari tanaman apa saja.

Desa Wisata Ramah Lingkungan

Tidak kalah penting adalah tren eco-tourism atau wisata berbasis lingkungan. Wisatawan semakin peduli terhadap isu keberlanjutan dan ingin memastikan bahwa perjalanan mereka memberikan manfaat bagi masyarakat lokal sekaligus menjaga lingkungan. Desa wisata menawarkan model yang relatif ideal karena manfaat ekonomi langsung dirasakan masyarakat setempat, sementara aktivitas wisata umumnya memiliki skala yang lebih kecil dan lebih ramah lingkungan.

Kampung Wisata Cokrodiningratan di Yogyakarta, misalnya, menawarkan pengalaman edukasi lingkungan, konservasi sungai, dan keberagaman sosial perkotaan. Tamu bisa belajar bagaimana mengelola sampah organik dengan maggot tanpa repot. Di kampong wisata tak jauh dari Tugu Jogja ini, ada 35 rumah yang setiap dua minggu sekali panen maggot.

Aktivitas seperti ini memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk memahami isu lingkungan secara langsung, bukan hanya melalui buku pelajaran.

Lebih Akrab Tinggal di Homestay

Keunggulan lain yang sering terlupakan adalah pengalaman menginap di homestay desa atau kampung wisata. Berbeda dengan hotel yang cenderung formal, homestay desa dan kampong wisata menghadirkan suasana yang lebih akrab dan personal.

Wisatawan tidak hanya menyewa kamar, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan keluarga tuan rumah. Mereka dapat berbincang, menikmati masakan rumahan, dan merasakan kehidupan sehari-hari masyarakat desa.

Di Homestay Mawar Desa Wisata Purwosari, Kulonprogo, tamu bisa ikut membuat tempe bungkus daun pisang. Pemilik homestay memiliki usaha bersama kelompoknya membuat tempe dan menjualnya di pasar.

Di Homestay Surip, Homestay Sumardi atau Homestay Sugiri di Desa Wisata Pentingsari, interaksi dengan pemilik rumah meninggalkan kenangan tersendiri. Di saat senggang saat sarapan, pemilik bisa bercerita seputar Merapi, tradisi semedi di Kali Kuning, maupun cerita rakyat di kawasan itu yang menarik didengarkan.

Pengalaman Nyata dan Bermakna

Pada akhirnya, wisata keluarga bukan hanya tentang mengisi waktu libur. Wisata keluarga adalah investasi pengalaman, pengetahuan, dan kenangan bersama. Dan jika yang dicari adalah pengalaman yang mendalam, kuliner yang sehat dan unik, pembelajaran budaya yang autentik, lingkungan yang lebih lestari, serta interaksi yang hangat dengan masyarakat lokal, maka desa wisata di Yogyakarta sesungguhnya telah memiliki semua yang dibutuhkan.

Melihat hal-hal menarik tersebut di atas, tampaknya, masa depan wisata keluarga tidak lagi berada di tempat-tempat yang paling ramai. Justru ia hadir di desa-desa yang menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di dunia modern: pengalaman yang nyata, manusiawi, dan bermakna.

Sekarang tinggal bagaimana para pengelola desa dan kampung wisata bergerak terus menangkap peluang yang ada. Menyiapkan produknya dan mempromosikan. Secara aktif memberi tahu bahwa desa wisata dan kampung wisata yang dikelola memiliki banyak hal yang harus dicoba. Bukan menunggu.*

Erwan Widyarto adalah Pendamping Desa Wisata, Anggota Pokja Desa Wisata DIY.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *