Terukir di Relief Candi, Diperkirakan Muncul Era 800 Sebelum Masehi
MAGELANG, Kabar Malioboro – Selama berabad-abad, Candi Borobudur dipahami sebagai mahakarya arsitektur dan spiritualitas Buddhis.
Namun kini, sebuah temuan akademik terbaru membuka perspektif yang jauh lebih kompleks dan mengejutkan.
Borobudur juga menyimpan jejak permainan papan kuno yang bukan sekadar hiburan, melainkan sistem pengetahuan, strategi, dan refleksi filosofis tentang kehidupan manusia.
Dr. M. Zaini Alif, S.Sn M.Dn peneliti yang sampai tahun 2026 menemukan dan mendata 2.600 jenis permainan rakyat Indonesia dan 1642 board games atau mainan papan di berbagai negara, mengungkap adanya representasi visual permainan dalam relief candi, lengkap dengan elemen-elemen seperti pion, dadu, dan pola lintasan permainan.
“Temuan ini bukan hanya menambah lapisan makna pada Borobudur yang dibangun pada abad 778 Masehi, tetapi juga berpotensi mengubah cara dunia akademik memahami hubungan antara budaya, permainan, dan pendidikan di masa lampau,” ujar Zaini dalam Focus Group Discussion yang digelar di Kemala Borobudur, Magelang, Kamis (9/4).
Hadir dalam kegiatan yang mengambil tema Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Pengembangan Objek Permainan Rakyat Melalui Produk Edukasi dan Digitalisasi Relief Candi Borobudur dihadiri pengelola Candi Borobudur, pegiat artefak, pelestari budaya, anggota dewan dan jurnalis.
Zaini menyampaikan yang membuat penemuan ini begitu signifikan adalah kenyataan bahwa permainan tersebut tidak berdiri sendiri.
Secara komparatif, lanjut Zaini, permainan ini memiliki kemiripan dengan berbagai permainan kuno dunia seperti Prachisi dari India era tahu 1100 – 800 SM, Senet dari Mesir 3500 SM, hingga Liubo dari Tiongkok 202 SM-220 SM.
“Namun demikian, permainan ini menghadirkan sesuatu yang unik, sebuah inovasi lokal nusantara berupa papan permainan berbentuk jam pasir yang sarat dengan simbolisme kosmologis dan spiritual,” lanjut Dekan Pascasarjana Institut Seni Budaya Indonesia, Bandung ini.
Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional (KPOTI) Pusat ini memaparkan penelitian ini berangkat dari pengamatan detail terhadap relief di salah satu panel Borobudur yang menunjukkan interaksi manusia dengan objek yang menyerupai permainan papan.
Dari situ, tim melakukan analisis multidisipliner yang menggabungkan pendekatan arkeologi, ikonografi, sejarah permainan, hingga rekonstruksi eksperimental.
“Karena tidak adanya naskah atau aturan tertulis yang tersisa, proses ini menjadi tantangan ilmiah tersendiri yang menuntut ketelitian tinggi. Melalui analisis morfologi, peneliti mengidentifikasi pola lintasan dan kemungkinan jumlah petak permainan. Kajian ikonografis kemudian digunakan untuk membaca simbol-simbol di sekitar adegan, termasuk kemungkinan makna sosial dan spiritual dari permainan tersebut,” papar peraih gelar doktor permainan tradisional di Institut Teknologi Bandung ini.
Selanjutnya, lanjut Zaini, dari studi komparasi dengan temuan permainan di berbagai peradaban kuno memperkuat hipotesis bahwa permainan Borobudur merupakan bagian dari jaringan pertukaran budaya global yang terjadi melalui jalur perdagangan dan penyebaran agama.
“Namun yang paling menarik adalah hasil rekonstruksi eksperimental yang dilakukan tim. Berdasarkan berbagai data tersebut, permainan ini direkonstruksi sebagai sebuah race and strategy board games yang menggabungkan unsur strategi dan keberuntungan,” lanjutnya.
Dijelaskan, dalam permainan ini, pemain menggunakan pion dan dadu untuk bergerak sepanjang lintasan, dengan tujuan mencapai titik akhir sebagai simbol “pencerahan”.
Dalam prosesnya, terdapat mekanisme “menangkap” bidak lawan, zona sempit sebagai fase ujian, serta dinamika permainan yang mencerminkan ketidakterdugaan hidup.
“Permainan ini kemudian kami beri nama Lintasan Dharma atau Borobudur Games atau Journey to Enlightenment * yang menggambarkan perjalanan manusia melalui berbagai fase kehidupan menuju kesadaran tertinggi. Tinggal nanti mana yang lebih cocok,” jelasnya.
Secara akademik, tambah Zaini, temuan ini membuka ruang diskusi baru dalam berbagai disiplin ilmu. Dalam arkeologi, permainan ini memperluas pemahaman tentang fungsi relief sebagai media pengetahuan, bukan sekadar narasi visual.
“Dalam studi budaya, permainan ini menunjukkan bahwa permainan memiliki peran penting dalam membentuk nilai sosial dan spiritual masyarakat. Sementara dalam pendidikan, permainan ini juga menawarkan pendekatan baru dalam pembelajaran berbasis permainan yang berakar pada warisan lokal,” terangnya.
Lebih jauh dijelaskan, penelitian ini tidak berhenti pada rekonstruksi historis. Dijelaskan Zaini, salah satu tujuan utamanya adalah mengadaptasi permainan ini ke dalam bentuk modern, baik sebagai board game edukatif maupun sebagai platform digital interaktif.
“Dengan demikian, warisan budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dihidupkan kembali dalam konteks kekinian yang relevan dengan generasi muda. Inisiatif ini sejalan dengan upaya pelestarian warisan budaya tak benda Indonesia, yang menekankan pentingnya menjaga tidak hanya bentuk fisik, tetapi juga nilai, fungsi, dan makna yang terkandung di dalamnya,” tandasnya.
Lebih dari itu, lanjut Zaini, temuan ini menantang para peneliti berikutnya untuk melihat kembali Borobudur dengan cara yang berbeda.
Borobudur bukan hanya situs wisata atau simbol religius, tetapi juga sebuah arsip pengetahuan yang menyimpan berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari spiritualitas, seni, hingga permainan dan strategi.
“Dengan segala potensinya, penelitian ini membuka peluang kolaborasi lintas sektor, mulai dari akademisi, pemerintah, industri kreatif, hingga media. Bersama-sama, kita dapat mengembangkan narasi baru tentang Borobudur yang tidak hanya membanggakan secara historis, tetapi juga relevan dan inspiratif bagi masa depan,” tutupnya. (*)
