Ini kabar gembira bagi warga DIY yang mau healing dan nostalgia pasar tradisional yang sehat dan ramah lingkungan. Untuk menikmati nuansa pasar seperti Pasar Papringan di Temanggung, bisa datang ke Bintaran Kulon, Tempuran, Srimulyo, Piyungan, Bantul.
Catat jadwal buka perdana pasar berbasis masjid, kuliner tradisional yang, sehat dan minim plastik ini. Pasar yang diberi nama Pasar Djadoel ini dibuka perdana pada Ahad Pahing, 1 November 2026, pukul 07.00–12.00 WIB. Direncanakan diselenggarakan secara rutin setiap selapan atau 35 hari sekali.
BACA JUGA: Pesan Gubernur DIY untuk Desa-Kampung Wisata
Pada penyelenggaraan perdana, Pasar DJADOEL Tempuran direncanakan menghadirkan sekitar 28 pelapak dengan lebih dari 50 jenis makanan, minuman, dan produk tradisional. Mereka akan “beraksi“ di bawah pohon bambu yang awalnya kotor dan disulap menjadi lokasi yang bersih dan nyaman.
Berbeda dari pasar pada umumnya, Pasar DJADOEL Tempuran mengusung konsep pasar tradisional yang memadukan pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya, pangan sehat, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Mengusung semboyan “Ngrumat Tradisi, Ngrumat Bungahing Ati”, kegiatan ini diharapkan menjadi gerakan bersama untuk merawat tradisi, menghidupkan ekonomi warga, menjaga lingkungan, dan menghadirkan kebahagiaan bagi masyarakat.
Kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pasar. Pengelola berkomitmen meminimalkan penggunaan plastik sekali pakai dan mendorong pemanfaatan kemasan alami. Daun pisang, daun jati, besek bambu, serta wadah tradisional lainnya yang sesuai dengan jenis makanan akan banyak ditemukan di pasar ini.
Lapak-lapak pedagang dirancang sederhana menggunakan meja bambu tanpa tenda maupun bangunan permanen, sehingga tetap menyatu dengan suasana alami kawasan Tempuran.
Berada di sekitar pertemuan Kali Opak dan Kali Gawe, pasar ini juga diharapkan menjadi sarana menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan dan kelestarian sungai.
Konsep tersebut menegaskan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat dapat tumbuh seiring dengan upaya merawat alam, bukan justru merusaknya.
Salah satu nilai utama Pasar DJADOEL Tempuran adalah menghadirkan makanan tradisional yang tidak hanya menghidupkan kenangan masa lalu, tetapi juga mendorong pola konsumsi yang lebih sehat.
Para pelapak diarahkan untuk menyajikan makanan tanpa tambahan MSG, pewarna sintetis, dan bahan pengawet, dengan mengutamakan bahan-bahan alami.
Pasar ini juga mendorong penggunaan tepung mocaf (Modified Cassava Flour), yaitu tepung berbahan dasar singkong lokal yang diolah melalui proses modifikasi, sebagai alternatif pengganti tepung terigu pada produk makanan yang sesuai.
Penggunaan mocaf diharapkan tidak hanya mengurangi ketergantungan pada tepung terigu berbahan gandum impor, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani singkong dan pelaku usaha pengolahan pangan lokal.
Dengan demikian, Pasar DJADOEL Tempuran menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali kekayaan pangan Nusantara sekaligus mendorong kemandirian bahan baku pangan masyarakat.
Pasar DJADOEL Tempuran tidak semata-mata dirancang sebagai destinasi wisata kuliner, tetapi sebagai wadah pemberdayaan ekonomi jamaah masjid dan masyarakat sekitar.
Pasar DJADOEL Tempuran merupakan inisiatif pemberdayaan ekonomi jamaah Masjid Al-Kautsar Bintaran Kulon. Dikembangkan bersama masyarakat melalui kolaborasi dengan LP UMKM PWM DIY dan LAZISMU DIY.
Kolaborasi ini diharapkan memperkuat pendampingan usaha, pengembangan produk, serta terbentuknya ekosistem ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.
Gerakan ini sekaligus memperlihatkan bahwa masjid dapat berperan sebagai pusat ibadah, pemberdayaan ekonomi, pendidikan sosial, dan penguatan kebersamaan masyarakat.
Pengunjung dapat menikmati aneka jajanan pasar, makanan khas pedesaan, minuman rempah, hasil bumi, hingga kerajinan masyarakat.
Keunikan lainnya adalah penggunaan Dhuwit Pring, alat tukar khusus berbahan bambu yang digunakan untuk bertransaksi di lingkungan pasar.
Suasana pasar juga akan dimeriahkan kesenian karawitan dan dolanan tradisional, menghadirkan pengalaman wisata yang dekat dengan budaya dan kehidupan masyarakat Jawa.
Berlokasi di kawasan rindang di bawah rumpun bambu, Pasar DJADOEL Tempuran mengajak masyarakat kembali menikmati kesederhanaan, kehangatan, dan kebersamaan yang menjadi ciri kehidupan pedesaan. (wid)
