ESAI
Totok dan Mesin-Mesin yang Menulis Takdir

ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ


OLEH : AK SUPRIYANTO

Di bengkel semi-industrial utara Solo, sebelum jalanan luruh ke Kaliyoso, aku menemukan kembali Totok yang hilang. Debu kayu jati beterbangan seperti serpihan waktu yang lupa bersihkan diri, dan di antara aroma solder listrik serta tumpukan komponen mesin, ia berdiri—ceking seperti ingatan masa SMP, tapi dengan lengan yang kini bercerita tentang gravitasi kerja.

Totok sedang merakit instalasi elektrik untuk mesin penyemprot cat. Tangannya menari di antara kabel-kabel tembaga, merangkai sesuatu yang bagiku hanya logika abstrak, tapi baginya adalah bahasa ibu. “Jadinya mungkin seperti spray gun,” kataku dalam hati, membayangkan kabut cat yang akan menari di permukaan pintu-pintu kayu yang diproduksi sebuah pabrik di Pati. Tapi Totok tidak sedang melukis kayu; ia sedang melukis mesin yang akan melukis kayu. Begitulah rantai penciptaan bekerja: selalu ada tangan yang menciptakan tangan yang lain, selalu ada pikiran yang melahirkan pikiran yang baru.

Dan tiba-tiba aku teringat Tan Malaka.

Bukankah ada sejarah yang mengendap di tanah Solo ini? Tahun 1946, ketika Tan Malaka membawa ribuan orang kiri bergerak dari Jogja ke Solo, ia tidak sedang memindahkan massa. Ia sedang memindahkan api. Kota ini kemudian menjadi tungku tempat berbagai gagasan ditempa, tempat proletar dan priyayi, abangan dan santri, sama-sama belajar bahwa hidup adalah soal memproduksi makna—bukan sekadar menerima takdir yang sudah dicetak.

Totok adalah anak sah dari sejarah yang tak pernah ia baca itu. Lihatlah: ia lulusan STM top di Pati, sekolah yang melahirkan teknisi-teknisi dengan tangan yang bisa menerjemahkan teori ke dalam logam. Ia datang ke Solo seperempat abad lalu, bekerja di perusahaan furnitur milik keluarga Jokowi—sebelum nama itu menjadi presiden, sebelum mebel menjadi metafora kekuasaan. Tapi ia memilih keluar. Bukan karena memberontak, tapi karena ingin menciptakan bengkelnya sendiri, alam kecilnya sendiri, republik tangannya sendiri.

“Semua pekerjaan sama saja,” katanya, dengan seringai yang tidak sedang merendahkan apa pun, tapi justru meninggikan semuanya.

Kalimat itu seperti gema dari masa lalu Solo yang kiri: bahwa nilai tidak terletak pada apa yang kau produksi, tapi bagaimana kau berelasi dengan produksimu. Totok tidak sedang menjual mesin; ia sedang menjual hubungan antara tangannya, pikirannya, dan kayu-kayu yang entah di mana nanti akan menjadi pintu, menjadi jendela, menjadi jalan masuk dan keluar bagi hidup orang lain.

Pagi itu ia menyuguhkan kopi Toraja, hasil proses mesin kopinya sendiri. Ia perokok ringan—rokok mild terselip di bibir seperti koma dalam kalimat panjang—tapi peminum kopi berat. Sehari empat kali, katanya. Aku membayangkan kafein mengalir di pembuluh darahnya seperti arus listrik di kabel-kabel mesin yang ia rakit. Totok adalah mesin itu sendiri: tubuh yang mengonversi kopi menjadi kerja, kerja menjadi makna, makna menjadi hidup yang tidak butuh banyak pengakuan.

“Pekerjaan akan berhasil dengan baik apabila kita menikmatinya,” katanya lagi, dan aku mendengar gema etos Sparta yang dulu diajarkan di sekolah-sekolah teknik Jerman yang mempengaruhi STM-STM kita. Tapi ada sesuatu yang lebih tua dari itu, sesuatu yang berakar di tanah Jawa: bahwa menikmati kerja adalah bentuk lain dari narimo ing pandum, menerima bagian tanpa menyerah, menyelaraskan hasrat dengan takdir tanpa kehilangan daya cipta.

Solo adalah kota yang tumbuh dengan kontradiksi semacam ini. Ia rumah bagi Kasunanan dan Mangkunegaran, dua istana yang mengajarkan bahwa kuasa adalah soal jarak—tapi juga rumah bagi Bengawan Solo yang mengajarkan bahwa air selalu menemukan jalannya sendiri ke laut, entah istana mana yang berdiri di tepinya.

Dan Totok, di bengkelnya yang sederhana, adalah air yang menemukan jalannya sendiri. Ia supplier mesin untuk pabrik pintu besar di Pati, tapi ia juga mengerjakan pintu lipat untuk toko-toko kecil. Ia membuat blower pemanas, instalasi komponen rumah, “apa saja yang masih bisa dikerjakan,” karena baginya spesialisasi adalah kemewahan yang hanya bisa dibeli dengan mengorbankan kemandirian. Ia memilih tetap cair, seperti sungai.

Tubuhnya ceking, ya, seperti yang kuingat sejak SMP 1990—tahun ketika kami lulus dan dunia seolah menjanjikan apa saja. Tapi lihatlah otot lengan dan tangannya: mereka adalah prasasti dari ribuan jam kerja, dari logam-logam yang ia angkut, dari gerinda dan obeng yang menjadi perpanjangan jemarinya. Wajahnya adalah wajah yang menerima bahwa hidup keras, tapi memilih untuk tidak mengeraskan hati. Totok tertawa dengan mudah, seolah beban adalah sesuatu yang hanya ada jika kau anggap ada.

Aku hanya dua kali bertemu Totok sejak 1990. Pertama di konser Elpamas tahun 1999, dengan Doddy Katamsi dan Amir Roez menyanyi lagu “Pak Tua”, dan Totok di antara kerumunan penonton Jogja, menyempatkan bercerita bahwa ia bekerja di industri perkayuan. Kedua, hari ini, 25 tahun kemudian, di bengkelnya sendiri. Dua titik yang jika ditarik garis akan membentuk lintasan panjang, seperti jalur kereta yang dulu membawa Tan Malaka dan rombongannya dari Jogja ke Solo—tapi kali ini jalur yang dilalui seorang diri, dengan kecepatan yang ia tentukan sendiri.

Solo adalah kota yang selalu mencetak Totok-Totok lain: wirausahawan kecil yang tidak tercatat di bursa saham, insinyur tanpa gelar yang menciptakan mesin-mesin dari kebutuhan, manusia-manusia yang menemukan bahwa kerja adalah bentuk paling jujur dari doa. Mereka adalah arus bawah yang membuat kota ini tetap hidup, seperti akar-akar pohon yang tak terlihat tapi menopang seluruh kanopi.

Dan jika kau pernah bertanya mengapa Solo melahirkan begitu banyak pemikir, pengusaha, seniman, aktivis—jawabannya mungkin terletak di bengkel-bengkel seperti milik Totok. Tempat ide menjadi benda, benda menjadi nilai, dan nilai menjadi hidup.

Selepas zuhur, aku pamit. Totok menerima dua bungkus kopi dari Bandung yang kubawa, salah satunya dari Gunung Puntang, dan matanya berbinar seperti anak SMP yang baru menemukan mainan baru. “Nanti saya coba,” katanya, dan aku tahu sore besok ia akan menyeduhnya dengan mesin kopinya sendiri, menikmati dalam-dalam, lalu kembali merakit sesuatu yang entah apa.

Di perjalanan pulang, melintasi jalanan Solo yang makin panas oleh mentari, aku merenungkan bahwa Totok adalah puisi yang tidak butuh dibacakan. Ia adalah prosa yang menulis dirinya sendiri, setiap hari, dengan tangan yang kotor oleh besi dan hati yang bersih oleh kesederhanaan. Solo, dengan seluruh sejarahnya yang berlapis—dari keraton hingga Tan Malaka, dari revolusi hingga reformasi, dari industri furnitur Jokowi hingga bengkel-bengkel kecil sebelum Kaliyoso—adalah kertas tempat puisi semacam ini terus-menerus ditulis, oleh tangan-tangan yang tidak pernah minta dibaca.

Tapi kita, yang kebetulan singgah, membaca. Dan dalam pembacaan itu, kita menemukan bahwa hidup, pada akhirnya, adalah soal menikmati kerja apa pun yang jatuh ke tangan kita. Selebihnya, seperti kata Totok, adalah urusan Tuhan yang Maha Membagikan Rezeki—Tuhan yang, saya kira, juga menikmati pekerjaan-Nya.*

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *