ESAI
Dopamin yang Disuling dari Hujan Senja

ꦲꦼꦄꦣ꧀ꦭꦶꦤꦺ


OLEH: AK SUPRIYANTO

Jogja selalu menyenangkan. Selalu kurindukan. Tubuhku seperti merilis sejenis hormon yang tak bernama—mungkin sejenis dopamin yang disuling dari hujan senja, dari asap angkringan, dari debu jalan-jalan kecil yang dulu pernah kujejaki dengan sandal jepit dan mimpi yang masih basah.

Kendati banyak segi dari kota ini berubah drastis, lanskap maupun kehirukpikukannya, ada semacam sungai di bawah sadarku yang tetap mengalir ke arah yang sama: ke masa lalu, ke sel-sel kenangan yang tak mau mati. Aku seperti meneguk pil kebahagiaan, yang pahitnya justru menggetarkan, yang manisnya justru menyayat.

Apalagi tatkala aku mengunjungi warung-warung kenangan semasa kuliah di tahun 90-an. Salah satunya Soto Ngadiran ini. Soto sapi yang rasanya mungkin agak bergeser, kekentalan kaldu sapinya mungkin berkurang, tampilan warungnya mungkin lebih baik—tapi perasaan nostalgik itu tetap meresapi relung-relung urat syarafku yang paling dalam.

Di warung yang tak jauh dari UGM ini, aku seakan menyantap waktu: kuahnya adalah tahun-tahun yang tumpah, suwiran dagingnya adalah percakapan yang belum selesai, dan butiran-butiran bawang goreng itu adalah wajah-wajah yang dulu selalu ada, lalu hilang, lalu muncul lagi seperti pantulan di permukaan mangkuk.

Di sanalah aku jumpa kawan-kawan lama. Ada Waskito—Koko, panggilannya—seorang ahli keris dan spiritualis Jawa yang aku sering minta pandangan-pandangannya, seolah ia bisa membaca garis-garis tak kasat mata di telapak takdir. Ada Heru, abdi negara pelindung buruh migran, baru pulang dari posnya di Jordania, membawa oleh-oleh diam berupa kesunyian padang pasir yang kini bersarang di matanya.

Ada Nanang Kiwid, organizer komunitas yang punya hubungan dekat dengan keluarga Kraton Jogja, yang senantiasa memikirkan skenario rahasia kelancaran suksesi dari Ngarsa Dalem HB X ke putri mahkota, Gusti Mangku. Kami duduk melingkari meja, seperti dahulu, seperti para ksatria yang bertemu kembali di persimpangan zaman.

Cerita Waskito alias Koko paling menarik perhatianku. Ia kini menopang sebagian dapurnya dari berjualan pusaka keris. “Keris,” katanya pelan, “bukan sekadar bilah besi. Ia adalah doa yang dipadatkan, genggaman tangan leluhur yang mencoba meraih kita dari balik kabut waktu.”

Aku takjub dengan harga-harga keris yang mahal, hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah. Ternyata aspek esoteris keris-lah yang dapat melambungkan harga; bukan pamor, bukan besi, bukan ukiran, melainkan janji-janji sunyi yang tersimpan di lekuknya—seperti harapan yang diinvestasikan manusia pada benda, seperti makna yang kita sematkan pada kalimat-kalimat tak terucap.

Waskito bercerita bagaimana berjualan atau bernegosiasi keris lewat pihak ketiga. Klien-klien seperti pengusaha, bangsawan Jawa, hingga politisi sering membeli keris bermarwah dari pintu-pintu khusus. “Mereka tidak datang sendiri,” katanya. “Mereka mengutus kepercayaan, seperti kita mengutus doa lewat perantara angin.”

Salah satu kolektor bertipe ini adalah Hasto Kristiyanto, Sekjen PDIP, yang katanya memahami bahwa kuasa tidak hanya dibangun oleh kata-kata, tapi juga oleh benda-benda yang menyimpan bisikan.

Tapi ada pula klien dalam circle pertemanan, yang menawar keris secara langsung. Seperti Arief Poyuono, aktivis buruh yang kini jadi Komisaris Pelindo. “Arief biasanya menanyakan segi-segi esoteris,” ujar Waskito sambil tersenyum tipis.

“Energi spiritualitas sebuah keris, getarannya, apakah cocok dengan ruhnya, sebelum ia menawar harga. Ia bahkan menelepon seorang temannya yang dianggap bisa membaca aura dari jarak jauh. Begitulah, manusia selalu mencari kepastian dari yang tak pasti, mencari harga dari yang tak ternilai.”

Aku merenung. Keris adalah gumpalan hasrat manusia yang dipanaskan dan ditempa. Ia menyimpan doa, ambisi, dan ketakutan sekaligus. Harga keris bukan pada besi dan pamornya, melainkan pada harapan yang diinvestasikan padanya—seperti kita semua, yang dinilai bukan oleh daging dan tulang, melainkan oleh cerita yang kita bawa, oleh nostalgia yang kita pancarkan, oleh luka yang kita sembunyikan di balik senyum.

Bukankah kita semua seperti keris? Ditempa oleh waktu, dihiasi pamor luka dan kebahagiaan, lalu dinilai oleh pasar tak kasat mata yang bernama ingatan?

Tanpa terasa, obrolan kami melampaui bermangkok-mangkok soto yang kami habiskan. Kuah soto yang kian encer itu seperti metafora: kenangan memang mengental lalu mencair, tapi rasa hangatnya tetap menetap di dada. Aku pulang dengan kelegaan, seperti melepaskan hormon dopamin bergalon-galon, seperti hujan yang tiba-tiba reda dan menyisakan bau tanah yang manis.

Mungkin begitulah cara semesta memberi kita pil kebahagiaan: melalui pertemuan-pertemuan tak terduga, melalui tawa yang meletup di antara seruputan kuah, melalui cerita-cerita yang mengiris lalu menyembuhkan di saat yang sama.

Jogja selalu menyenangkan. Selalu kurindukan. Kota ini adalah keris tak kasat mata yang menusuk jantungku, dan aku menikmati luka itu—luka yang justru membuatku merasa hidup sepenuh-penuhnya, di antara teman-teman yang menua dengan anggun, di antara pusaka yang menyimpan ribuan bisikan, di antara mangkuk-mangkuk soto yang mungkin berubah tapi tak pernah kehilangan jiwanya.

Aku adalah penikmat pil pahit kenangan, dan di warung Soto Ngadiran. Pagi ini, aku meneguknya sampai tuntas, sampai ke dasar mangkuk yang memantulkan wajah-wajah kami yang dulu, yang kini, dan yang selamanya.***

AK Supriyanto adalah esais yang tinggal di Bandung.

ꦠꦶꦁꦒꦭ꧀ꦏꦤ꧀ꦧꦭꦱꦤ꧀

꧋ꦄꦭꦩꦠ꧀ꦌꦩꦻꦭ꧀ꦱꦩ꧀ꦥꦺꦪꦤ꧀ꦎꦫꦣꦶꦗꦺꦣꦸꦭ꧀ꦤꦺꦈꦠ꧀āꦮ꧀āꦣꦶꦏꦠꦺꦴꦤ꧀ꦏꦺ꧉ ꧋ꦫꦺꦴꦱ꧀ꦱꦶꦁꦏꦸꦣꦸꦣꦶꦆꦱꦶāꦤ꧀āꦠꦤ꧀ꦝꦤꦺ *