Katanya ia suka mendengar
bahkan sangat terbuka
asal yang masuk sesuai selera telinga
Kritik disebut berisik
Nasehat dianggap mengganggu
Dan siapa pun penyambung suara rakyat
langsung dicap: antek-antek asing
atau anggota permanen barisan sakit hati…
ITULAH sepenggal puisi yang berjudul Telinga Tebal . Puisi ini dibaca oleh Rektor UII Fathul Wachid di acara peluncuran situs media alternatif gejayan.id. di Auditorium Kampus UII Cik Di Tiro, Selasa (5/5/2026), sore. ”Puisi dadakan, ” kata Fathul Wachid. Bahkan, ia merasa belum sreg dengan puisi karyanya sendiri.
Fathul diminta hadir oleh Masduki, pemimpin umum gejayan.id yang seorang dosen di Universitas Islam Indonesia. Sebelum membacakan puisi, Fathul menyampaikan orasi yang intinya menyambut baik kehadiran media baru ini. Menurutnya, media ini bisa menjadi sarana untuk merawat memori kolektif bangsa ini.
Selain diwarnai orasi dan baca puisi, peluncuran gejayan.id ditandai dengan penyalaan lilin dan pemukulan kentongan. ”Lilin kecil ini untuk menandakan nyala yang menerangi Indonesia yang gelap, ” tegas Adink, panggilan akrab Masduki.

Adink menegaskan bahwa yang ia kembangkan bersama kawan-kawannya bukanlah jurnalisme yang latah. ”Pada dasarnya kami tidak mendirikan media, tetapi membuat Ruang untuk deliberasi hak-hak dasar publik melalui jurnalisme: voicing the voiceless,” katanya.
Ia berharap melalui gejayan.id, suara pinggiran dapat bergeser ke tengah.
Ditambahkannya lagi, pihaknya tidak semata melakukan kegiatan jurnalistik. Tetapi membangun data masyarakat sipil, merawat memori kolektif yang dihilangkan oleh beragam disinformasi, represi digital atas hak berekspresi yang melibatkan apparatus negara.
”Gejayan id mencoba mempertemukan tiga simpul kekuatan: ruang publik deliberative yang makin tipis, aktivisme media yang masih muram dan jurnalisme berkualitas yang kian langka. Jurnalisme mendalam pilar utama perlawanan atas berita berbasis klik yang nir-etika, nir-perspektif-edukatif, ” ujarnya optimistis.
Tim gejayan.id meyakini bahwa tanpa jurnalisme, di Indonesia berarti tak ada demokrasi. Yang ada oligarki.
Dari mana pendanaan untuk gejayan.id? Guru Besar Ilmu Komunikasi ini kembali menegaskan bahwa gejayan.id adalah media alternatif: anti tesis media arus utama yang komersial.
”Basis kerja kami volunterisme, independen. Bukan mengejar kuantitas tapi konsistensi terbit sebulan dua kali. Kami membuka donasi dan membuka partisipasi publik yang peduli jurnalisme sebagai public good tanpa intervensi ke redaksi. ”
Pemimpin Redaksi gejayan.id Pito Agustin saat memaparkan seluk beluk medianya beserta rubrikasinya, juga menegaskan optimismenya.
Ia yakin jurnalis, penulis dan akademisi adalah suatu komunitas epistemik gerakan yang selaras, terjalin demi mimpi Indonesia demokratis-humanis. Ditegaskannya, gejayan.id menerima tulisan-tulisan kritis yang tidak bisa diterbitkan oleh media mainstream.
Launching dalam suasana yang sederhana ini dihadiri oleh sejumlah aktivis gerakan masyarakat sipil maupun sejumlah jurnalis anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dosen, seniman dan mahasiswa. (wid)
