PAMERAN DRAWING
Keraton dan Kotagede Jadi Panggung “Utthana 2026”

Event Headline

Koordinator GoART Wasis Subroto (kanan) bersama GKR Bendara di pameran drawing GoART pertama di Wahanarata.

JOGJA — Semangat menggambar kembali digaungkan melalui Pameran Drawing bertajuk “Utthana 2026” yang digelar komunitas GOART Drawing Jogja di dua lokasi ikonik Kota Gudeg, yakni Kagungan Dalem Museum Wahana Rata Keraton Yogyakarta dan Aileen Gallery Kotagede.

Pameran yang menjadi bagian dari peringatan Mei Bulan Menggambar Nasional ini menghadirkan puluhan perupa dari berbagai daerah dengan ragam karya drawing yang merepresentasikan perkembangan seni gambar Indonesia masa kini.

Di Aileen Gallery Yogyakarta, pameran berlangsung pada 22–30 Mei 2026 mulai pukul 09.00–16.00 WIB. Pembukaan akan dilaksanakan Jumat, 22 Mei 2026 pukul 16.00 WIB oleh Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan. Acara pembukaan juga akan dimeriahkan penampilan Tari Klana Topeng gaya Yogyakarta serta tari pembuka oleh Francis El Nathan.

Sementara itu, venue kedua berada di Kagungan Dalem Museum Wahana Rata Keraton Yogyakarta yang menggelar pameran pada 23–30 Mei 2026 pada jam yang sama. Pembukaan dijadwalkan Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 16.00 WIB oleh anggota DPR RI, Dr. Ir. Ahmad Syauqi Soeratno MM.

Tema “Utthana” dipilih sebagai simbol kebangkitan semangat berkarya dan tumbuhnya kesadaran baru terhadap pentingnya seni menggambar dalam kehidupan budaya maupun pendidikan seni rupa.

Panitia GOART Drawing Yogyakarta menyebut, drawing bukan sekadar teknik dasar seni rupa, melainkan medium ekspresi yang memiliki kekuatan gagasan dan emosi yang sangat kuat. Melalui garis, arsiran, tekstur, dan spontanitas tangan, seniman mampu menyampaikan refleksi sosial, pengalaman personal, hingga kritik terhadap realitas kehidupan.

“Pameran ini ingin mengingatkan bahwa menggambar adalah fondasi penting dalam perjalanan seni dan kebudayaan manusia. Dari garis sederhana lahir ide, imajinasi, bahkan peradaban,” ungkap Wasis Subroto Koordinator GoART Jogja.

Keunikan “Utthana 2026” juga terlihat dari pilihan venue pameran yang memiliki karakter berbeda. Aileen Gallery di kawasan heritage Kotagede menghadirkan suasana intim dan artistik, sedangkan Museum Wahana Rata Keraton Yogyakarta menawarkan nuansa historis dan kultural yang memperkuat dialog antara seni kontemporer dan tradisi.

Bagi GoART, pameran di Keraton –tepatnya di Museum Wahanarata– tahun 2026 ini adalah untuk kali ketiga. Yang pertama mengusung tema “Heritage“ dan kedua “Dwipantara“.

Kurator pameran, Dr. Drs. Hajar Pamadhi, M.A. (Hons), menilai bahwa perkembangan drawing di Indonesia menunjukkan dinamika yang semakin kaya. Drawing kini tidak lagi dipandang hanya sebagai sketsa awal menuju lukisan, tetapi telah berdiri sebagai karya seni mandiri dengan karakter visual yang kuat.

Puluhan perupa turut ambil bagian dalam pameran ini, di antaranya Achmad Dardiri, Agung Suhastono, Agus Winarto, Alex Pracaya, Christina Anggryani, Djumadi, Dewantoro Purbo Gesang, Ervie Ermasari, Erwan Widyarto, Hajar Pamadhi, Kartika Aryani, Lydia WeA, Niken Larasati, Oko Supriyadi, Rahmat Rizal, Teguh Prihadi, Tri Wiyono, Yoset Wibowo, dan sejumlah nama lainnya.

Melalui “Utthana 2026”, GOART Drawing Yogyakarta berharap budaya menggambar semakin mendapat ruang apresiasi di tengah masyarakat. Pameran ini juga diharapkan menjadi ruang perjumpaan antarperupa, akademisi, pegiat budaya, mahasiswa seni, dan masyarakat umum untuk bersama-sama merayakan kreativitas visual.

Pameran di dua lokasi berbeda secara bersamaan bukan hal baru bagi GoART Jogja. Beberapa kali, kelompok ini melakukan pameran dengan 50-an penggambar secara serentak di beberapa lokasi. Pernah di tiga lokasi, bahkan pernah di tujuh lokasi sekaligus di tiga kota: Jogja, Solo dan Magelang.

“Kami selalu berusaha mendekatkan seni ke publik. Kalau perlu kami mendatangi. Di Wahanarata ini, misalnya, banyak pengunjung yang datang ke museum. Maka kami hadirkan karya  ke salah satu ruangannya. Sehingga pengunjung museum mendapat tambahan atraksi, bisa melihat pameran secara gratis,” tandas Wasis.

Pameran ini terbuka untuk umum dan dapat dikunjungi setiap hari selama penyelenggaraan berlangsung. Sedangkan untuk Museum Wahanarata menyesuaikan jam buka museum. Yakni, setiap Senin tutup. (wid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *