ESAI AK Supriyanto
Biru yang Menari di Kanvas Memoriku
Pagi itu, biru menyergapku tanpa permisi. Dua puluh lima tahun adalah gurun yang cukup luas untuk menenggelamkan seluruh pameran seni yang pernah kusinggahi. Aku telah menjadi asing pada diriku sendiri—pada lelaki muda yang dulu mencintai garis, mencumbui tekstur, dan meniduri warna dengan kata-kata. Jurnalisme budaya telah lama kutinggalkan, seperti kanvas yang tertutup debu di sudut […]
Lanjutkan baca