{"id":3484,"date":"2026-05-01T18:13:25","date_gmt":"2026-05-01T11:13:25","guid":{"rendered":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/?p=3484"},"modified":"2026-05-01T18:13:27","modified_gmt":"2026-05-01T11:13:27","slug":"sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya","title":{"rendered":"<span class='sub-title'>ESAI AK SUPRIYANTO<\/span><br>Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya"},"content":{"rendered":"<p>Malam ini, Indonesia kehilangan penyairnya lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan, ia tak mati hari ini. Ia telah pergi sejak bertahun-tahun lalu, tapi kepergiannya terasa kembali setiap kali negeri ini gemetar oleh kekuasaan yang lupa diri, setiap kali puisi dianggap barang usang, setiap kali panggung-panggung kehilangan daya hidupnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku hanya dua kali duduk dekat dengannya. Dua kali yang singkat, tapi cukup untuk membuatku mengerti: bahwa seorang penyair sejati bukanlah mereka yang melangit, melainkan yang membumi begitu dalam hingga akarnya menjangkau air tanah yang paling sunyi.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku mengingat pertemuan pertama denganmu, di Bulaksumur B-21\u2014Markas Pers Mahasiswa UGM, pertengahan 90-an.<\/p>\n\n\n\n<p>Kau datang sehari setelah pentas di Graha Sabha Pramana. Letih, pasti. Tapi kau memilih singgah ke markas pers mahasiswa yang sumpek, berdebu, berbau tinta printer dan idealisme murahan\u2014dua hal yang mungkin bagimu justru paling mahal.<\/p>\n\n\n\n<p>Kau rendah hati, Mas Willy. Terlalu rendah hati untuk ukuran seseorang yang baru saja mengguncang panggung dengan sajak-sajak yang membuat rezim waspada. Kau duduk di antara kami, anak-anak muda yang haus akan teladan, dan kau bicara dengan suara yang tenang tapi penuh gemuruh\u2014seperti air yang tahu ia akan menjadi air terjun.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu kau melakukan sesuatu yang tak kan pernah kulupakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kau mengeluarkan dompetmu. Mengambil seluruh uang di dalamnya. Memberikannya untuk pers mahasiswa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBuat perjuangan,\u201d mungkin begitu katamu, atau mungkin tak perlu kau katakan apa-apa karena tindakanmu sudah lebih lantang dari sajak sebatang lisong.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku ingat dompet itu. Kulitnya sudah mengelupas di sana-sini. Dan setelah kau kosongkan, ia tampak lebih ringan\u2014tapi juga lebih berat oleh makna.<\/p>\n\n\n\n<p>Di situlah aku pertama kali mengerti: keberpihakan bukan saja soal arah orasi atau isi puisi. Keberpihakan adalah juga dompet yang kosong setelah seluruh isinya kau serahkan pada mereka yang kau percaya akan melanjutkan api.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu, aku mengenang pertemuan kedua kita di Jakarta, akhir 1999.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku sudah menjadi wartawan yunior waktu itu. Muda, canggung, dan masih gagap menyusun pertanyaan yang layak untukmu. Kau baru saja membuka pameran lukisan di Pondok Indah, dan entah bagaimana, aku berakhir di mobilmu. Adi Kurdi yang menyetir ke arah Depok.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam itu Jakarta basah oleh hujan yang baru saja reda. Lampu-lampu kota memantul di aspal seperti bintang-bintang yang jatuh dan tak bisa pulang. Dan kau, di kursi penumpang, bercerita panjang\u2014tentang tentang deklamasi, tentang blues untuk bonnie, tentang Bengkel Teater yang hampir mati berkali-kali.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAnak Bengkel enggak suka micin,\u201d serumu tiba-tiba pada pedagang caisim sapi di pinggir Jalan Margonda, Depok.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalimat sederhana. Tapi itu kau, Mas. Seluruh dirimu. Memperhatikan kesehatan anak buahmu bahkan dalam detail yang paling remeh\u2014micin di semangkuk caisim sapi. Karena bagimu, daya hidup bukan hanya tentang semangat yang meluap-luap di atas panggung. Daya hidup juga tentang tubuh yang sehat, tentang kesadaran pada apa yang masuk ke dalam diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Kau mentraktirku malam itu. Wartawan yunior yang gajinya mungkin tak seberapa. Dan di antara suapan caisim sapi yang mengepul, kau bercerita tentang jatuh bangun Bengkel Teater, tentang Adi Kurdi dan kawan-kawan yang terpaksa ngamen karena tak ada uang, tentang dirimu yang semula menentang tapi akhirnya membiarkan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMereka ngamen?\u201d tanyaku.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMereka ngamen,\u201d jawabmu, dan kau tertawa. Tawa yang dalam, tawa yang pernah menelan pahit dan memilih untuk tetap hangat.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam itu aku mendengar bagaimana kau membangun Bengkel Teater dari nol, dari mimpi yang dianggap gila, dari keyakinan bahwa teater adalah laboratorium kemanusiaan. Kau bicara tentang film\u2014\u201cYang Muda Yang Bercinta\u201d, \u201cAl Kautsar\u201d\u2014dan bagaimana kau memutuskan hijrah dari Jogja ke Jakarta, kota yang kau tahu akan mengujimu dengan cara yang paling kejam sekaligus paling jujur.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kau bicara tentang Setiawan Djodi, tentang Kantata Takwa.<\/p>\n\n\n\n<p>Ah, Kantata Takwa.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku ingat bagaimana matamu menyala ketika bercerita tentang kolaborasi itu. Tentang bagaimana syair-syair doa bisa dinyanyikan dengan gitar listrik, tentang bagaimana spiritualitas tak harus mengasingkan diri di gunung-gunung sunyi, tapi bisa turun ke jalan, menyapa realitas, menjadi nyala dalam kegelapan sosial.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBongkar!\u201d adalah doa.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKesaksian\u201d adalah zikir.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kau mengajarkan bahwa mencintai Tuhan tak berarti memunggungi manusia. Bahwa mistisisme tak harus lari dari politik. Bahwa sufi sejati adalah mereka yang berani mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang lalim, meski harus membayarnya dengan harga yang mahal.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku merindukanmu di tengah Indonesia yang kini makin gaduh, Mas Willy.<\/p>\n\n\n\n<p>Di mana-mana orang bicara dengan suara keras, tapi sedikit yang benar-benar mengatakan sesuatu. Panggung-panggung penuh, tapi daya hidup kosong. Puisi ditulis, tapi tak banyak yang cerdas menelanjangi kekuasaan pongah sebagaimana kau lakukan dengan sajak-sajak pamfletmu.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku merindukanmu, Mas. Bukan karena aku ingin memperpanjang romantika masa lalu, tapi karena masa kini membutuhkan teladan tentang bagaimana seni bisa menjadi lebih dari sekadar hiburan.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia merindukan seseorang yang akan mengeluarkan seluruh isi dompetnya untuk perjuangan yang ia percaya, tanpa pikir panjang, tanpa hitung-hitungan, tanpa berharap namanya diukir di prasasti.<\/p>\n\n\n\n<p>Bangsa ini merindukan penyair besar yang mau duduk di markas pers mahasiswa yang kumal, bicara dengan anak-anak muda yang belum jadi apa-apa, dan memperlakukan mereka seolah mereka adalah masa depan yang paling berharga.<\/p>\n\n\n\n<p>Masyarakat merindukan suara yang bisa membuat micin menjadi metafora, dan caisim sapi menjadi sakramen persaudaraan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita merindukan Kantata Takwa\u2014sebuah pengingat bahwa kritik sosial adalah bagian dari ibadah, bahwa menuntut keadilan adalah bagian dari tasawuf, bahwa spiritualitas tak harus melarikan diri dari realitas, tapi justru menyelaminya dengan cinta yang membara.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam ini, Mas, aku membaca kembali sajak-sajakmu.<\/p>\n\n\n\n<p>Sajak Sebatang Lisong\u2014aku ingat kau menulisnya di tahun-tahun yang penuh asap dan marah. Tapi di balik kemarahan itu, ada cinta. Selalu ada cinta. Pada rakyat, pada kebenaran, pada daya hidup yang mengalir seperti sungai yang tak bisa dibendung.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku hanya dua kali duduk dekat denganmu. Dua kali yang singkat. Tapi dua kali itu cukup untuk membuatku percaya bahwa seorang penyair sejati tak pernah benar-benar mati.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia hanya berganti wujud.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin ia kini hadir dalam diri anak-anak muda yang mulai lelah dengan jargon dan mulai lapar akan makna. Mungkin ia kini bersemayam dalam setiap pentas teater di sudut-sudut kota, dalam setiap syair yang dinyanyikan dengan gitar akustik di bawah jembatan, dalam setiap dompet yang rela dikosongkan untuk sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Atau mungkin\u2014dan ini yang paling dalam kurindukan\u2014ia sedang menunggu seseorang untuk melanjutkan apa yang telah ia mulai. Seseorang yang akan menulis sajak pamflet yang menelanjangi penyelewengan kekuasaan. Seseorang yang akan mendirikan bengkel-bengkel kreatif di tengah masyarakat yang kehilangan daya. Seseorang yang akan menjadikan kesenian sebagai jalan untuk memberi makna, bukan sekadar mencari tepuk tangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kau telah pergi, Mas Willy. Tapi suaramu masih bergema di setiap celah negeri yang memilih untuk tetap jujur, tetap bernyala, tetap berani.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan malam ini, di sebuah sudut kota yang basah oleh kenangan, aku menyalakan sebatang lisong dalam doa.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan untuk merokok.<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya untuk melihat asapnya mengepul seperti sajak yang tak pernah selesai ditulis.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk Rendra,<\/p>\n\n\n\n<p>Yang dompetnya kosong, tapi puisinya melimpah.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang suaranya telah lama diam, tapi kata-katanya masih berani.<\/p>\n\n\n\n<p>Yang mengajarkan bahwa seni adalah doa, dan doa adalah bara.<\/p>\n\n\n\n<p>Indonesia masih merindukanmu.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan akan selalu begitu.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Alfatehah untuk Willibrordus Surendra Brata alias Wahyu Sulaiman Rendra (7 November 1935 &#8211; 6 Agustus 2009<\/em>)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Malam ini, Indonesia kehilangan penyairnya lagi. Bukan, ia tak mati hari ini. Ia telah pergi sejak bertahun-tahun lalu, tapi kepergiannya terasa kembali setiap kali negeri ini gemetar oleh kekuasaan yang lupa diri, setiap kali puisi dianggap barang usang, setiap kali panggung-panggung kehilangan daya hidupnya. Aku hanya dua kali duduk dekat dengannya. Dua kali yang singkat, [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":6,"featured_media":3485,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[35],"tags":[],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v20.0 - https:\/\/yoast.com\/wordpress\/plugins\/seo\/ -->\n<title>Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya - Kabar Malioboro<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"jv_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya - Kabar Malioboro\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Malam ini, Indonesia kehilangan penyairnya lagi. Bukan, ia tak mati hari ini. Ia telah pergi sejak bertahun-tahun lalu, tapi kepergiannya terasa kembali setiap kali negeri ini gemetar oleh kekuasaan yang lupa diri, setiap kali puisi dianggap barang usang, setiap kali panggung-panggung kehilangan daya hidupnya. Aku hanya dua kali duduk dekat dengannya. Dua kali yang singkat, [&hellip;]\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Kabar Malioboro\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-05-01T11:13:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2026-05-01T11:13:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/ilustrasi-rendra.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"941\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"634\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin satu\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin satu\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya\",\"url\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya\",\"name\":\"Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya - Kabar Malioboro\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/#website\"},\"datePublished\":\"2026-05-01T11:13:25+00:00\",\"dateModified\":\"2026-05-01T11:13:27+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/#\/schema\/person\/c34d90aabcdf0d2c550213b9abb53746\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"jv-ID\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya\"]}]},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/#website\",\"url\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/\",\"name\":\"Kabar Malioboro\",\"description\":\"Mangabarkan dari titik nol\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":\"required name=search_term_string\"}],\"inLanguage\":\"jv-ID\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/#\/schema\/person\/c34d90aabcdf0d2c550213b9abb53746\",\"name\":\"admin satu\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"jv-ID\",\"@id\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/#\/schema\/person\/image\/\",\"url\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/52d0b7343121852baf932da92d7c021d?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/52d0b7343121852baf932da92d7c021d?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin satu\"},\"url\":\"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/author\/erwan\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya - Kabar Malioboro","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya\/","og_locale":"jv_ID","og_type":"article","og_title":"Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya - Kabar Malioboro","og_description":"Malam ini, Indonesia kehilangan penyairnya lagi. Bukan, ia tak mati hari ini. Ia telah pergi sejak bertahun-tahun lalu, tapi kepergiannya terasa kembali setiap kali negeri ini gemetar oleh kekuasaan yang lupa diri, setiap kali puisi dianggap barang usang, setiap kali panggung-panggung kehilangan daya hidupnya. Aku hanya dua kali duduk dekat dengannya. Dua kali yang singkat, [&hellip;]","og_url":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya\/","og_site_name":"Kabar Malioboro","article_published_time":"2026-05-01T11:13:25+00:00","article_modified_time":"2026-05-01T11:13:27+00:00","og_image":[{"width":941,"height":634,"url":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/ilustrasi-rendra.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin satu","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin satu","Est. reading time":"7 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya","url":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya","name":"Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya - Kabar Malioboro","isPartOf":{"@id":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/#website"},"datePublished":"2026-05-01T11:13:25+00:00","dateModified":"2026-05-01T11:13:27+00:00","author":{"@id":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/#\/schema\/person\/c34d90aabcdf0d2c550213b9abb53746"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya#breadcrumb"},"inLanguage":"jv-ID","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/kabarmalioboro.com\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya"]}]},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/sebatang-lisong-di-malam-yang-kehilangan-penyairnya#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sebatang Lisong di Malam yang Kehilangan Penyairnya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/#website","url":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/","name":"Kabar Malioboro","description":"Mangabarkan dari titik nol","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/?s={search_term_string}"},"query-input":"required name=search_term_string"}],"inLanguage":"jv-ID"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/#\/schema\/person\/c34d90aabcdf0d2c550213b9abb53746","name":"admin satu","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"jv-ID","@id":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/#\/schema\/person\/image\/","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/52d0b7343121852baf932da92d7c021d?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/52d0b7343121852baf932da92d7c021d?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin satu"},"url":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/author\/erwan"}]}},"blog_post_layout_featured_media_urls":{"thumbnail":["https:\/\/kabarmalioboro.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/ilustrasi-rendra-150x150.jpg",150,150,true],"full":["https:\/\/kabarmalioboro.com\/wp-content\/uploads\/2026\/05\/ilustrasi-rendra.jpg",941,634,false]},"categories_names":{"35":{"name":"Headline","link":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/page\/headline"}},"tags_names":[],"comments_number":"0","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3484"}],"collection":[{"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3484"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3484\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3486,"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3484\/revisions\/3486"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3485"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3484"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3484"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/kabarmalioboro.com\/jawa\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3484"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}